Selasa, 21 Februari 2017   |   Arbia', 24 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.191
Hari ini : 4.749
Kemarin : 37.075
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.764.980
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Seunungkee, Peralatan Memasak Tradisional Aceh

Seunungkee adalah tungku tradisional yang banyak terdapat di kalangan masyarakat Aceh. Tungku ini hingga sekarang masih digunakan oleh masyarakat Aceh, terutama mereka yang tinggal di wilayah perdesaan.

1. Asal-usul

Masyarakat Aceh menyebut dapur dengan sebutan yang beragam. Orang Gayo menyebutnya dengan istilah “dapur”, masyarakat Aneuk Jamee menyebutnya “dapue”, sedang masyarakat Tamiang menyebutnya “dapur”. Namun, pada umumnya masyarakat Aceh menggunakan istilah “dapu (Nasrudin Sulaiman, 1998:14). Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur—sebagai ruangan untuk memasak—dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata “dapur” untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan “tungku” merujuk pada perapian untuk mengolah makanan.

Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahun-tahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak.

Masyarakat Aceh membagi dapur ke dalam tiga tipe berdasarkan fungsi dan bentuknya. Ketiga tipe dapur tersebut sebagai berikut.

1. Dapur rumah tangga

Dapur rumah tangga berfungsi sebagai tempat mengolah makanan yang diperlukan oleh anggota rumah tangga. Dapur rumah tangga hanya digunakan oleh anggota rumah tangga yang bersangkutan. Selain sebagai ruang untuk memasak makanan sehari-hari, dapur rumah tangga juga digunakan untuk memasak keperluan upacara yang diselenggarakan oleh rumah tangga.

2. Dapur umum

Dapur umum mempunyai cakupan yang lebih luas daripada dapur rumah tangga. Dapur umum digunakan untuk memasak berbagai keperluan dalam upacara bersama masyarakat Aceh. Keterlibatan para perempuan Aceh dalam dapur umum juga tidak terbatas pada hubungan keluarga atau kekerabatan. Semua orang boleh terlibat dalam aktivitas dapur umum. Oleh karena itu, selain sebagai tempat untuk memasak, dapur umum berfungsi sebagai ruang untuk membangun relasi sosial antaranggota masyarakat.

3. Dapur produksi

Dapur produksi atau sering pula disebut sebagai dapur perusahaan bersifat komersial dan bernilai ekonomis. Dapur produksi digunakan untuk mengolah makanan atau bahan makanan dengan tujuan komersial. Tidak semua orang bekerja di dapur produksi. Alasan seseorang bekerja di dapur produksi bukan ikatan sosial sebagaimana dalam dapur umum, atau karena sebuah kewajiban seperti dalam dapur rumah tangga, melainkan untuk mendapatkan upah atau bayaran ketika bekerja di dapur tersebut.

Eksistensi dapur muncul ketika manusia mulai menemukan api dan mulai mengolah bahan makanan (tungku.or.id). Dapur berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan memasak, tempat mengolah dan menyimpan makanan, dan kadang difungsikan pula sebagai ruang makan. Selain fungsi-fungsi tersebut, Masyarakat Aceh menambahkan fungsi lain pada dapur, yaitu sebagai tempat keluar pengantin perempuan pada saat menikah.

Ada berbagai peralatan yang ada di dapur rumah tangga masyarakat Aceh. Salah satu peralatan yang harus ada di ruang dapur adalah tungku. Tungku memegang peranan penting karena alat ini digunakan sebagai perapian dalam mengolah makanan. Jenis-jenis tungku senantiasa berkembang dari hari ke hari. Dalam bentuknya yang paling sederhana, tungku terbuat dari batu yang ditanam di atas tanah dalam formasi bentuk segitiga.

Keberadaan tungku tradisional mulai tergeser oleh alat lain seiring perubahan pola dan gaya hidup masyarakat yang mengikuti perkembangan modernitas. Pola dan gaya hidup masyarakat modern ini berpengaruh pada jenis dan bahan peralatan yang mereka pakai. Hal yang sama juga berlaku untuk tungku, baik tungku di dapur rumah tangga maupun dapur umum, terlebih lagi dapur produksi.

Kompor minyak tanah, gas, maupun listrik menggantikan peran tungku dalam memasak, terutama pada masyarakat perkotaan yang bersentuhan langsung dengan benda-benda modern. Pergeseran gaya hidup tersebut memang tidak terelakkan. Kemunculan peralatan modern juga terkait dengan prinsip efisiensi dan prinsip ekonomi. Alat-alat dapur yang muncul belakangan umumnya lebih tahan lama dan mudah dibersihkan sementara peralatan yang bahannya berasal dari alam, misalnya tanah liat, tidak tahan lama. Faktor lainnya, masyarakat saat ini kesulitan mendapatkan peralatan tradisional di pasaran karena peralatan baru sudah menggesernya (Nasruddin Sulaiman, 1998/1999:19-20).

Ada hal lain yang berpengaruh terhadap pola penggunaan peralatan rumah tangga, termasuk tungku. Faktor tersebut adalah citra yang muncul ketika menggunakan peralatan tertentu. Sebagai contoh, memakai kompor listrik atau kompor gas hasil penemuan zaman modern akan memunculkan citra bahwa si pemakai adalah orang modern. Meskipun begitu, sebagian besar masyarakat Aceh yang tinggal di perdesaan pada umumnya masih menggunakan tungku tradisional. Hal ini terkait dengan alasan-alasan tertentu, misalnya harga minyak tanah mahal dan akses untuk mendapatkan elpiji sulit sementara bahan bakar kayu dapat mereka peroleh dengan mudah. Tungku tradisional berarti bahwa alat tersebut diolah secara sederhana dan menggunakan bahan bakar yang langsung dari alam tanpa proses pengolahan yang menggunakan peralatan modern.

Masyarakat Aceh menyebut tungku dengan berbagai macam sebutan menurut bentuk, bahan, dan penggunaannya. Dalam kamus Bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar, et.al 2001), terdapat istilah seunungkee, teunungkee, dan seulungkee untuk menerjemahkan tungku dari bahasa Indonesia. Nama-nama tersebut biasanya juga berhubungan dengan bahan yang digunakan untuk membuat tungku tersebut. Misalnya, seungkee tanoh untuk menyebut tungku yang bahannya berasal dari tanah liat dan  suengkee batee untuk menyebut tungku berbahan baku batu.

Ada pula istilah lain untuk menyebut tungku berdasarkan bentuk dan penggunaannya. Istilah kran meugaki adalah sebutan bagi tungku yang mempunyai kaki. Istilah lainnya, seunungkee saboh mata, merupakan istilah untuk menyebut tungku yang hanya mempunyai satu mata atau lubang untuk menempatkan panci. Istilah seunungkee dua mata dan seunungkee lhee mata digunakan untuk menyebut tungku yang mempunyai dua dan tiga mata.

Tungku tradisional masyarakat Aceh pada umumnya berbentuk tiga segi atau empat segi. Bahan untuk membuatnya adalah tanah liat, batu, besi, maupun bata. Mata tungku disusun berjajar ke samping. Besar dan jumlah mata tungku ini disesuaikan dengan keperluan dan peralatan yang digunakan.

2. Bahan dan Cara Pembuatan

Paragraf sebelumnya telah menyebutkan nama-nama yang terkait dengan bahan pembuat dan bentuk tungku. Macam-macam jenis bahan itu sendiri berkembang sejalan perkembangan zaman dan penemuan-penemuan modern. Bahan dan cara pembuatan tungku tradisional masyarakat Aceh adalah sebagai berikut.

a. Seunungkee tanoh

1. Bahan

Bahan untuk membuat seunungkee tanoh adalah tanah liat. Tanah liat yang baik untuk membuat tungku ini adalah tanah liat yang mengandung sedikit pasir. Tanah yang mengandung sedikit pasir mempunyai daya lekat yang lebih kuat daripada tanah yang lebih banyak unsur pasirnya. Tanah yang dipilih untuk membuat tungku harus tanah yang basah. Jika seunungkee tanoh dibuat pada saat musim kemarau atau tanah tersebut dalam keadaan kering, maka tanah tersebut harus disiram air terlebih dahulu.

2. Cara Pembuatan

Tanah liat yang telah dikumpulkan selanjutnya dilumat-lumatkan. Hal ini dimaksudkan agar bahan tersebut empuk dan mudah dibentuk. Caranya adalah dengan menginjak-injak bahan yang telah dikumpulkan. Selanjutnya, tanah liat tersebut dibentuk menjadi tungku. Tungku dapat berbentuk persegi empat. Bagian depan tungku yang berbentuk persegi empat ini dibuat seperti pintu berbentuk setengah lingkaran. Bagian ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan kayu bakar. Ukuran setengah lingkaran ini menyesuaikan dengan keperluan atau jumlah kayu yang akan menjadi bahan bakar.

Mata tungku yang berbentuk lingkaran terletak di bagian atas tungku. Besar kecilnya menyesuaikan dengan besar kecilnya peralatan memasak. Di bagian pinggir lingkaran, dibuat tiga tonjolan untuk menyangga panci, wajan, atau pun peralatan memasak yang lain. Kalau ingin membuat dua atau tiga mata tungku, maka harus dibuat satu atau dua tungku lagi di sebelah tungku yang telah dibuat.

Kelebihan seunungkee tanoh adalah alat ini dapat menyebarkan panas secara merata karena tungku jenis ini tertutup rapat. Tidak ada lubang apapun selain lubang untuk memasukkan kayu sehingga api di dalam tungku tidak menerobos keluar sementara angin tidak bisa menerobos masuk.

b. Seunungkee batee

1. Bahan

Seunungkee batee berarti tungku batu. Dari namanya telah jelas bahwa bahan baku tungku ini ialah batu. Batu yang baik sebagai bahan untuk membuat seunungkee batee adalah batu kali yang berukuran sama dan berbentuk lonjong. Batu kali tahan terhadap api dan biasanya permukaannya halus. Jumlah batu untuk membuat tungku tergantung keperluan. Untuk membuat sebuah tungku satu mata, diperlukan tiga batu. Kalau ingin menambah satu mata lagi, cukup menambah dua batu, begitu seterusnya. Tungku dua mata menggunakan batu lima buah sedangkan untuk membuat tiga mata tungku digunakan tujuh buah batu.

2. Cara Pembuatan

Cara membuat tungku berbahan batu relatif mudah. Caranya membuatnya adalah: pilih lokasi di mana tungku akan ditempatkan. Kemudian, tanam batu tersebut di tanah dengan sepertiga atau seperempat bagiannya dipendam di dalam tanah. Bentuk formasi batu tersebut adalah segitiga dengan kedua sudutnya masing-masing berada di kanan dan kiri. Ini adalah tungku dengan satu mata tungku. Bila ingin menambah mata tungku satu lagi, cukup menanam dua batu lagi berbentuk segitiga yang lain di sebelah tungku yang telah dibuat.

Penambahan satu mata tungku baru cukup dilakukan dengan cara menanam dua buah batu dengan formasi segitiga di sebelah tungku yang telah dibuat dengan salah satu sudutnya bergabung dengan tungku yang dibuat sebelumnya. Pembuatan tungku ini lebih praktis. Kayu bakar bisa dimasukkan kayu melalui tiga lubang yang ada. Namun, seunungkee batee mempunyai kekurangan, yaitu angin mudah masuk ke dalam tungku karena ada dua lubang selain lubang di bagian depan tungku. Kekurangan lainnya, peralatan panci mudah goyah karena bagian atas masing-masing batu sering tidak rata.

Bahan baku pembuatan tungku pada masa sekarang bukan hanya batu dan tanah saja. Besi dan batu bata juga dapat digunakan untuk membuat tungku. Cara membuat tungku dari batu bata adalah sederhana, yaitu batu bata atau batu merah tersebut disusun dua baris sejajar untuk membuat satu mata tungku. Kalau ingin menambah satu mata tungku lagi, tinggal menambah satu baris bata di sebelahnya. Tungku dari bata juga dapat dibuat bentuk persegi dengan bagian depan terbuka. Pembuatan tungku ini memerlukan tiga baris batu bata, di mana samping kanan-kiri dan belakang membentuk dinding tungku. Jika ingin menambah satu mata lagi, tinggal menambah dua dinding melintang dan membujur di sebelahnya. Seperti tungku dari bahan tanah, tungku berbahan batu bata juga cukup baik untuk perapian. Tungku dari batu bata berdinding rapat sehingga panasnya tidak menyebar ke mana-mana.

Besi juga dapat digunakan dalam pembuatan seunungkee. Tungku yang terbuat dari besi berbentuk persegi dengan empat kaki. Bagian atasnya menempel pada masing-masing kaki tersebut dan diberi lempengan besi berbentuk lingkaran. Sama seperti tungku yang terbuat dari batu, tungku ini juga kurang baik karena tanpa dinding sehingga panas apinya menjalar ke mana-mana.

3. Cara Penggunaan

Masyarakat Aceh biasanya mengenal upacara peusijuk atau ritual-ritual selamatan sebelum mereka menggunakan barang. Ada kalanya mereka memiliki beberapa pantangan terhadap barang tertentu. Namun, dalam menggunakan tungku, mereka tidak melakukan upacara peusijuk secara khusus. Mereka juga tidak mempunyai kepercayaan, pantangan, maupun penangkal tertentu yang berhubungan dengan tungku. Masyarakat Aceh melakukan peusijuk bersamaan dengan selesainya pembangunan dapur. Masyarakat Aceh memaknai peusijuk sebagai upacara memohon keselamatan, baik keselamatan barang yang akan dipakai maupun keselamatan pemakainya sendiri (Nasruddin Sulaiman, 1998/1999: 68-69).

Penggunaan tungku tradisional masyarakat Aceh tidak terlalu rumit karena dapat dilakukan dengan hanya menyediakan tungku, bahan bakar, dan korek api. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu, pelepah kelapa, ranting, dan lain sebagainya yang sudah kering. Kayu yang masih basah dapat dikeringkan dengan menaruhnya di atas para-para. Penggunaan tungku untuk memasak adalah sebagai berikut.

  • Kayu yang terlalu besar harus dibelah menjadi kepingan-kepingan atau potongan kecil dengan menggunakan kapak atau alat lainnya. Kayu yang terlalu besar akan memenuhi mulut tungku dan justru sulit terbakar. Dahan dan ranting yang sudah kecil tidak perlu dibelah. Hendaknya kayu tersebut juga tidak terlalu panjang sebab bisa mengganggu dan memakan banyak tempat.
  • Langkah berikutnya adalah memasukkan kayu ke dalam tungku dan menyusunnya dengan susunan bertumpuk silang-menyilang secara renggang. Hal tersebut dimaksudkan agar udara dapat masuk melalui celah-celah di antara tumpukan kayu.
  • Langkah selanjutnya adalah membakar kayu dalam tungku tersebut. Jika langsung membakar kayu dengan korek api, tentu kayu akan sulit menyala. Maka, diperlukan bahan lain, misalnya daun kelapa yang sudah kering atau sabut kelapa. Bakar sabut atau daun kering itu kemudian ditaruh di bawah susunan kayu. Kalau bahan ini tidak ada, ada cara lain, yaitu menyiramkan minyak tanah ke bawah tumpukan kayu. Namun, masyarakat perdesaan biasanya jarang melakukannya karena minyak tanah semakin mahal dan langka.
  • Jika api sudah menyala dengan baik, yang mesti dilakukan kemudian adalah memasukkan kayu tersebut secara teratur agar apinya tidak sampai menyala di depan mulut tungku.
  • Setelah tungku selesai digunakan, apinya harus dimatikan. Caranya adalah dengan membenamkan kayu yang masih menyala ke dalam abu. Dengan cara itu, lambat laun api akan mati dengan sendirinya. Pemadaman dapat pula dilakukan hanya dengan mengeluarkan kayu dari dalam tungku. Biasanya api akan mati setelah beberapa waktu. Akan tetapi, cara ini berbahaya kalau ada barang-barang yang mudah terbakar di dekat perapian.

4. Kelebihan dan Kekurangan

Tungku tradisional mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan tungku modern seperti kompor gas, kompor minyak tanah, dan kompor listrik.

a. Kelebihan

  1. Menguntungkan secara ekonomis. Tungku tradisional lebih menguntungkan secara ekonomis karena bahan baku untuk membuat tungku dan bahan bakar perapian mudah didapat, terutama oleh masyarakat desa. Jika pun harus membeli, harga kayu bakar lebih murah daripada harga minyak tanah atau gas elpiji. Tungku tradisional menjadi alternatif perapian pada saat terjadi kelangkaan minyak tanah dan harga gas mahal.
  2. Pembuatan tungku tradisional lebih mudah, sederhana, dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Bila sebuah seunungkee rusak, tinggal dibuat lagi yang baru. Selain itu, tungku tradisional juga tidak memerlukan perawatan khusus. Hanya keselamatan pengguna saja yang harus diperhatikan.
  3. Mengolah makanan dengan menggunakan bahan bakar kayu atau bahan alami yang lain membuat rasa makanan lebih enak.
  4. Limbah tungku masih bisa digunakan sebagai bahan ramuan obat. Naskah lama Aceh sering menyebutkan abu dapur sebagai salah satu bahan ramuan obat. Ramuan obat dari abu dapur dapat menurunkan panas yang diderita anak-anak, terutama bayi. Abu dapur juga dapat mempercepat proses keringnya pusar bayi yang baru lahir. Arang dari tempurung kelapa dapat menjadi pasta gigi alternatif.

b. Kekurangan

  1. Asap yang keluar dari perapian dengan bahan bakar kayu lebih banyak daripada asap kompor. Asap tersebut dapat membuat mata perih dan mengakibatkan polusi udara. Selain itu, bau sangit yang keluar dari asap itu bisa menempel di pakaian.
  2. Dinding dapur serta peralatan lain mudah menjadi kotor dan berwarna kehitam-hitaman.
  3. Menimbulkan kesan kumuh pada dapur. Orang yang tidak terbiasa dengan tungku tradisional akan melihat kesan kumuh dan kotor dengan keberadaan kayu, ranting, abu, arang, serta sisa pembakaran di dapur. Namun, hal tersebut tergantung pada cara pandang masing-masing orang dan latar belakang sosialnya.
  4. Prestise dan citra yang terbangun karena menggunakan tungku tradisional. Memakai barang sama artinya dengan membangun citra. Memakai barang tradisional, dalam pandangan banyak orang, akan mengesankan bahwa si pemakai ketinggalan zaman, kuno, dan lain sebagainya.

5. Nilai-nilai

Seunungkee memiliki nilai-nilai yang baik untuk dilestarikan. Beberapa nilai yang terkandung dalam seunungkee adalah sebagai berikut.

  1. Nilai ekonomis. Dengan menggunakan tungku, masyarakat dapat lebih menekan pengeluaran karena bahan bakar yang digunakan untuk perapian tersedia di sekitar mereka.
  2. Pelestarian nilai-nilai budaya. Penggunaan tungku tradisional juga merupakan bentuk pelestarian tradisi dan kebudayaan warisan nenek moyang. Meskipun saat ini modernitas semakin menggerus tradisi, namun beberapa komunitas dalam masyarakat masih menggunakan tungku tradisional sebagai perapian.

6. Penutup

Tungku tradisional seunungkee merupakan salah satu kearifan lokal yang mesti dijaga. Walaupun banyak orang mulai meninggalkan tungku tradisional sebagai perapian seiring perkembangan zaman, penggunaan tungku tradisional seperti seunungkee dapat menjadi alternatif perapian, terutama ketika banyak orang mulai merasakan dampak kelangkaan energi. Berkaitan dengan upaya koservasi lingkungan saat ini, pemakai tungku tradisional dapat mengurangi bahan bakar kayu dengan beralih ke bahan bakar lain sebagai alternatif, misalnya arang dari batok kelapa, serbuk gergaji, dan lain sebagainya.

Mujibur Rohman (bdy/01/05-2010)

Sumber Foto: http://hanifarrul.wordpress.com

Referensi

Abu Bakar et al., 2001. Kamus bahasa Aceh-Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Donum Theo, 2004. “Dapur orang Bugis, Makassar”. [Online] Tersedia di http://www.tungku.or.id [Diunduh pada 15 Mei 2010]

Nasruddin Sulaiman, 1998/1999. Dapur dan alat-alat memasak tradisionil propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Iventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Zulfikar Akbar, 2010. “Kreativitas dari dapur Ureueng Aceh”. [Online] Tersedia di http://sosbud.kompasiana.com [Diunduh pada 15 Mei 2010]

Dibaca : 14.405 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password