Sabtu, 21 Oktober 2017   |   Ahad, 30 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.707
Hari ini : 31.608
Kemarin : 37.822
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.500.676
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Makam Sultan Bolkiah


1. Sejarah

Bila kita melihat makam Sultan Bolkiah, kita akan terbelalak oleh kemegahan dan keelokan bangunannya yang dipenuhi oleh ukiran-ukiran indah. Di makam yang indah ini bersemayam seorang sultan Brunei yang tersohor berkat keberhasilannya memajukan Kerajaan Brunei. Kijingnya yang kokoh pun turut memperlihatkan kekuatan dan kekuasaan beliau, serta merepresentasikan sosoknya yang gagah berani.

Makam Sultan Bolkiah memang tampak senyap dalam kebisuan, namun sesungguhnya makam itu bercerita banyak tentang sosok besar penghuninya semasa hidup. Tak ketinggalan, makam itu juga bercerita tentang penggalan-penggalan peristiwa di detik-detik akhir kehidupan penghuninya, serta menyentil kisah romantisme bak Romeo and Juliet yang mengiringi misteri kematiannya.

a. Biografi Singkat Sultan Bolkiah

Dalam sejarah pemerintahan Islam di Brunei, Sultan Bolkiah merupakan salah satu di antara sultan-sultan Brunei yang sukses mengembangkan dan memajukan Kerajaan Brunei. Kendati terdapat juga Sultan Sharif Ali yang berhasil mengembangkan Islam di Brunei, serta Sultan Hasan yang konon juga memasyhurkan Kerajaan Brunei, namun prestasi Sultan Bolkiah boleh dikatakan luar biasa berkat keberhasilannya memperluas wilayah Kerajaan Brunei saat itu. Sultan Bolkiah merupakan Sultan Brunei ke-5 yang memerintah dalam kurun waktu 1485-1524 M. Beliau memimpin Kerajaan Brunei ketika ayahandanya, Sultan Sulaiman, masih hidup namun menurunkan diri dan mengangkat beliau menjadi raja.

Semasa hidupnya, Sultan Bolkiah berhasil memajukan Kerajaan Brunei yang kala itu mencakup keseluruhan Pulau Borneo, Pulau Palawan, Sulu, Balayan, Mindoro, Bonbon, Balabak, Balambangan, Bangi, Mantanai, hingga Saludang (Pusat Sejarah Brunei, 2006). Kegemilangan Kerajaan Brunei di masa pemerintahannya tidak terlepas dari kejatuhan Kerajaan Melaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, sehingga beliau mengambil alih kepemimpinan Islam dari Melaka dan menjadikan Brunei sebagai pusat perkembangan Islam di wilayah-wilayah taklukan dan sekitarnya. Selain itu, kemajuan Kerajaan Brunei juga tidak lepas dari kebiasaan Sultan Bolkiah yang senang berlayar mengunjungi negeri-negeri seberang, guna melakukan hubungan dagang dan diplomatik serta meneliti kemajuan negeri seberang agar dapat dicontoh di Kerajaan Brunei.

Kisah hidup Sultan Bolkiah, kegemilangan, kekuasaan, pemerintahan, cinta, serta pengembaraannya itu tidak pernah dilupakan oleh rakyat Brunei. Bahkan, kisah mengenai kematian baginda yang romantis dijadikan epik yang selalu dinyanyikan penduduk Tawi-Tawi dalam Syair Tuan Nahoda. Konon, Sultan Bolkiah memang mendapat julukan tuan nakhoda atau nakhoda ragam (the singing captain) karena kegemaran beliau berlayar ke negeri seberang. Berawal dari kegemarannya itulah kisah kematian Sultan Bolkiah bermula.

b. Kisah di Balik Kematian Sultan Bolkiah

Kematian Sultan Bolkiah yang di dalamnya terselip kisah romantis, terjadi ketika beliau berlayar pulang ke Brunei usai lawatannya ke luar negeri bersama permaisurinya, Puteri Laila Menchanai, yang baru dinikahinya (Brunei Museums Departement, 2002). Namun, kematian Sultan Bolkiah ini diselimuti oleh kabut misteri yang dengan sengaja ditutup-tutupi oleh sang permaisuri sendiri. Hingga kini, misteri kematian Sultan Bolkiah menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Untuk menguak fakta itu, setidaknya ada tiga pendapat. Pertama, kematian baginda raja menurut versi kerajaan –dan dicatat dalam sejarah Brunei—ialah bahwa Sultan Bolkiah mangkat di pangkuan Puteri Laila Menchanai akibat cucukan jarum emas yang biasa digunakan sang permaisuri untuk menyulam (Al-Sufri, 1997).

Ihwal kematian baginda di atas kapal ternyata tidak disampaikan oleh Puteri Laila Menchanai kepada para awak kapal. Sebaliknya, ia justru merahasiakan kematian baginda itu. Sejauh ini juga belum ditemukan sumber yang benar-benar dapat mengungkap alasan sang puteri merahasiakan kematian suaminya. Ketika jasad baginda sudah mulai membusuk pun, sang permaisuri tetap menutupi asal bau tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah bau bangkai tikus. Namun, selaras dengan pepatah ”sepintar-pintar menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga,” maka rahasia yang sengaja disimpan rapat-rapat oleh sang permaisuri akhirnya terbongkar juga.

Berita kematian baginda kemudian disampaikan kepada pihak kerajaan di hadapan putranya, Sultan Abdul Kahar, ketika sampai di Brunei. Sultan Abdul Kahar kala itu sudah menjadi Raja Brunei ke-6. Ironisnya, setelah berita itu disampaikan, Puteri Laila Menchanai akhirnya bunuh diri (Brunei Museums Departement, 2002). Tidak diceritakan bagaimana kelanjutan kisah ini. Yang pasti, jasad baginda dan Puteri Laila Menchanai kemudian dimakamkan bersebelahan.

Sementara itu, pendapat kedua didasarkan atas pernyataan Mjoberg, seorang sejarawan Belanda. Ia mengatakan bahwa Sultan Bolkiah mangkat akibat salah paham dengan sahabat permaisurinya (Al-Sufri, 1997). Yang mengherankan, kronologi peristiwa itu sungguh-sungguh tidak dapat dan tidak pernah diungkap, sehingga kasus misteri kematian baginda Sultan Bolkiah dibiarkan menguap.

Pendapat ketiga tentang kematian Sultan Bolkiah berasal dari salah seorang sejarawan Brunei, Pengiran Haji Tengah bin Pengiran Muhammad bin Pengiran Jumat bin Pengiran Pemancha Pengiran Muhammad Daud, yang mengatakan bahwa kematian Sultan Bolkiah disebabkan karena beliau menikah dengan salah satu keturunan Raja Daratan Bini, seorang raja perempuan yang memiliki kekuatan supernatural. Raja Daratan Bini, menurut tradisi lisan yang diceritakan oleh sejarawan tersebut, mendiami sebuah Pulau bernama Daratan Bini, yang pernah disinggahi oleh Sultan Bolkiah. Konon kisahnya, tiap lelaki yang singgah di pulau itu harus menetap di sana, dan menikah dengan perempuan-perempuan di sana.

Menurut riwayat itu, Raja Daratan Bini tidak mau menikah dengan siapapun hingga ada lelaki yang berani bertarung dengannya dan menewaskannya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang berani menikah dengan Raja ini, maka ia akan mati keesokan harinya. Namun, berkat peran Sultan Bolkiah selama berkunjung di sana, Raja Daratan Bini ini telah pulih menjadi perempuan biasa. Atas jasanya itulah, baginda diberi sebatang besi yang kelak digunakan untuk menempa ”Keris Si Naga”, salah satu alat dan lambang kebesaran diraja Brunei.

Kisah dan keberadaan Pulau Daratan Bini dan rajanya rupanya bukan sekedar isapan jempol. Beberapa musafir dari Arab, salah satunya ialah Muhammad Zakaria Al-Qazwini menceritakan bahwa jumlah kepulauan Daratan Bini sebanyak 700 buah, yang dipimpin oleh seorang raja perempuan. Musafir yang lain, Musa ibnu Mubarak Al-Sirafi, bahkan pernah menemui raja itu. Saat itu, sang raja sedang duduk di atas singgasana memakai mahkota dari emas dan dikelilingi oleh sekitar 4000 dayang perempuan.

Riwayat di atas ditegaskan pula oleh Datu Ray Ibrahim yang berasal dari Magindanao. Beliau menyatakan bahwa ia pernah mendengar dari tradisi lisan di Filipina, kira-kira 500 tahun yang lalu ada seorang raja perempuan bernama Urdhuha yang memerintah daerah Pengasinan. Pigafetta menyebut daerah ini sebagai Pulau Acoloro. Bukti-bukti tersebut semakin diperkuat oleh rekaman sejarah Ibnu Batuta bertarikh 1355 M, yang menyebutkan Puteri Urdhuha adalah srikandi ulung, raja perempuan yang memiliki tentara perempuan yang gagah berani dan kehebatan dalam berperang.

Berpijak pada jejak-jejak sejarah di atas, disinyalir bahwa Puteri Laila Menchanai, permaisuri Sultan Bolkiah, merupakan keturunan Puteri Urdhuha yang baru dinikahinya. Nama Laila Menchanai sendiri kebanyakan terdapat di kalangan keluarga diraja Suluk dan Magindanao. Jika benar demikian, dapat dipastikan Puteri Laila Menchanai ini juga memiliki kekuatan supernatural. Kendati beberapa sumber mengatakan bahwa Sultan Bolkiah telah memulihkan Raja Daratan Bini menjadi manusia normal, namun mungkin saja kekuatannya belum sepenuhnya hilang.  

Jika pendapat ketiga ini benar, maka dapat dipastikan bahwa Sultan Bolkiah mangkat akibat pernikahannya dengan keturunan Raja Daratan Bini yang memiliki kekuatan supernatural. Bisa jadi, Sultan Bolkiah menjadi salah satu korban dari kekuatan Raja Daratan Bini. Wallahu A‘lam bissawab.

2. Lokasi


Makam Sultan Bolkiah ini terletak di Kota Batu, Bandar Seri Begawan, dekat dengan Museum Brunei.

3. Deskripsi Makam

Makam Sultan Bolkiah dibangun oleh Sultan Abdul Kahar sebagai tanda kenangan atas jasa baginda yang telah mengharumkan nama Kerajaan Brunei. Makam baginda terbuat dari batu yang kokoh dengan seni ukir yang indah berhiaskan tulisan ayat Al-Quran. Di atas makam, dibangun atap laksana rumah yang berfungsi untuk memayungi makam dari terik panas dan guyuran hujan. Bagian pinggir atap (teritisan) juga tak lepas dari sentuhan ukir-ukiran yang indah. Tak main-main, tukang-tukang yang diperintah membuat batu nisan dan mengukir hiasan makam baginda beserta sang permaisuri, didatangkan secara khusus dari Jawa.


Makam Sultan Bolkiah bernisan dua. Satu nisan diletakkan di bagian kepala, sementara yang lain diletakkan di bagian kaki. Batu nisan tersebut berukiran seni pahat Jawa, bertuliskan ayat Al-Quran dengan tarikh mangkat baginda: 9 Ramadhan 930 H, atau bersamaan dengan 11 Juli 1524 M.

Di dalam bangunan makam Sultan Bolkiah itu terdapat satu makam lain. Makam tersebut hanya memiliki satu nisan. Di makam itulah Puteri Laila Menchanai, permaisuri baginda, beristirahat dalam tidur panjangnya. Karena terdapat tiga nisan dalam satu bangunan, maka makam Sultan Bolkiah ini diberi nama ”Makam Selarong Bernisan Tiga” (Al-Sufri, 1997). Makam ini pernah direnovasi pada tanggal 10 Juli 1968 (Al-Sufri, 1992).

4. Fungsi Sosial

Makam ini senantiasa dikunjungi oleh para peziarah dari dalam maupun luar negeri. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri melihat makam Sultan Bolkiah setelah mengunjungi Museum Brunei, karena jarak keduanya yang berdekatan. Para pengunjung umumnya tidak mau melewatkan begitu saja untuk berziarah di makam peninggalan bersejarah ini, yang telah menorehkan sejarah kegemilangan dan peradaban bagi Kerajaan Brunei. Hal ini menunjukkan bahwa makam Sultan Bolkiah merupakan salah satu pusat ziarah di Brunei.

Para pengunjung yang mengunjungi makam Sultan Bolkiah ini, secara tidak langsung akan disuguhi sebongkah cerita historis Kerajaan Brunei di masa pemerintahan beliau, yang terkenal dengan zaman keemasan dan kebesaran Kerajaan Brunei. Mereka yang sengaja menyempatkan diri menziarahi makam ini biasanya memiliki tujuan menghormati Sultan Bolkiah sebagai salah satu pemimpin besar yang layak untuk mereka kenang. Beberapa romantika sejarah yang mereka ambil dari keberadaan makam ini ialah meneladani kisah hidup beliau.

Prestasi Sultan Bolkiah yang layak dikenang dan diambil suri teladannya ialah pertama, keberhasilan baginda dalam memperluas wilayah kekuasaannya tanpa pertumpahan darah, kedua, kesuksesannya dalam mengembangkan Islam dan menyebarkannya hingga cakupan spektrum persebaran Islam hampir-hampir melingkupi seluruh wilayah Filipina, dan ketiga, kegemarannya mengunjungi negeri tetangga untuk melihat keberhasilan mereka sehingga dapat diadopsi demi memajukan pembangunan Kerajaan Brunei.

Demikianlah, meski makam Sultan Bolkiah berbalut kesunyian, namun sesungguhnya ia menyuguhkan beragam cerita semasa hidup penghuninya yang penuh warna. (Nanum Sofia/Sej/03/07/08).

Sumber:

  • Al-Sufri, Haji Awang Mohd. Jamil. 1997. Tarsilah Brunei II: Zaman Kegemilangan dan Kemasyhuran. Bandar Seri Begawan, Brunei: Pusat Sejarah Brunei, Kementrian Kebudayaan, Belia dan Sukan.
  • ___________, dkk. 1992. Daulat. Bandar Seri Begawan, Brunei: Jabatan Pusat Sejarah, Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan.
  • Pusat Sejarah Brunei. Info Sejarah: Peristiwa dan Tempat Bersejarah. The Government of Brunei Darussalam Official website: www.history-centre.gov.bn/peristiwa.htm. Diakses 22 Juli 2008 pukul 12.45 WIB
  • Pusat Sejarah Brunei. 2006. Info Sejarah: Sultan-sultan Brunei. The Government of Brunei Darussalam Official website: www.history-centre.gov.bn /sultanbrunei.htm. Diakses: 22 Juli 2008 pukul 12.55 WIB.
  • Brunei Museums Department. 2002. Sultan Bolkiah Mausoleum. The Government of Brunei Darussalam Official website: www.museums.gov.bn/Bolkiah.htm. Diakses: 23 Juli 2008 pukul 10.10 WIB.

Kredit foto : koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

____________

Informasi lain tentang Makam Sultan Bolkiah bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 45.098 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password