Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 2.012
Hari ini : 13.690
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.021.281
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Seuncang Padi

a:3:{s:3:

Pahang Darul Makmur dengan luas sekitar 35.515 km2 merupakan sebuah negeri yang terbesar di Semenanjung Malaysia[1]. Negeri yang beribukota Kuantan ini terletak di sekitar Sungai Pahang, sungai terpanjang di Semenanjung Malaysia. Konon, di negeri ini pernah hidup sepasang suami-istri yang sangat miskin dan malas bekerja. Pada suatu waktu, mereka tiba-tiba menjadi kaya-raya. Apa yang menyebabkan mereka menjadi kaya-raya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Seuncang Padi berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di Negeri Pahang, Semenanjung Malaysia, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Mereka miskin karena malas bekerja. Siang dan malam kerja mereka hanya tidur dan duduk-duduk di gubuknya, sehingga yang mau dimakan pun tidak ada. Mereka hanya selalu menyalahkan nasib.

”Tidak ada gunanya kita bekerja, kita memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi orang miskin,” kata sang Suami.

”Iya, Bang! sahut sang Istri.

Pada suatu hari, ketika mereka sedang duduk-duduk di depan gubuknya, seorang kakek yang sudah bungkuk datang menghampiri.

”Permisi,Tuan! Bolehkah saya meminta sesuap nasi?” tanya Kakek itu dengan sopan.

”Maaf, Kek! Kami orang miskin. Jangankan sesuap nasi, untuk dimasak saja kami tidak punya,” jawab si Istri.

Mendengar jawaban itu, si Kakek kemudian memerhatikan keadaan gubuk mereka sambil melihat-lihat ke dalam.

”Maaf, Tuan! Setelah Kakek perhatikan, kalian memang hidup sangat miskin,” kata Kakek itu.

”Memangnya kalian kerja apa?” tanya lagi Kakek itu.

”Kami tidak mau bekerja,” jawab si Suami.

”Kenapa kalian tidak mau bekerja? Bukankah tanah di negeri ini sangat subur?” tanya Kakek itu.

”Tidak ada gunanya, Kek! Kami sudah ditakdirkan untuk menjadi orang miskin,” jawab si Suami.

”Maaf, Tuan! Kalian tidak boleh pasrah pada nasib. Kalian harus berusaha dan bekerja. Apakah kalian ingin menjadi orang kaya?” tanya lagi Kakek itu.

”Tentu, Kek! Kami ingin menjadi orang kaya. Tetapi, bagaimana caranya, Kek?” kedua suami-istri balik bertanya.

Kakek itu tersenyum dengan wajah bersinar. Ia melihat ada harapan kedua suami-istri itu akan mengubah nasib mereka. Kemudian Kakek itu mengambil sesuatu dari balik bajunya. Dengan serius, kedua suami-istri itu memerhatikan si Kakek. Dalam pikiran mereka, Kakek itu adalah penjelmaan malaikat yang akan memberikan mereka intan berlian.

”Baiklah! Jika kalian memang hendak menjadi orang kaya, ini Kakek berikan uncang. Uncang ini berisi benda berharga yang dapat membuat kalian kaya-raya. Tetapi dengan syarat, kalian tidak boleh membukanya sebelum Kakek meninggalkan tempat ini,” jelas Kakek itu seraya memberikan uncang itu kepada mereka.

”Apakah isi uncang ini, Kek?” tanya si Suami penasaran.

“Sudahlah, Bang! Tidak usahlah banyak bertanya. Turuti saja kata-kata si Kakek!” sela si Istri menegur suaminya.

”Besok pagi, tebarkanlah isi uncang ini di lahan kosong yang ada di belakang gubuk kalian! Tidak lama setelah itu, kalian akan menjadi kaya-raya,” sambung Kakek itu menjelaskan seraya berpamitan pulang.

Setelah Kakek itu pergi, mereka sudah tidak sabar lagi hendak membuka uncang itu. Alangkah kecewanya mereka setelah membuka uncang itu. Mulanya mereka berharap uncang itu berisi intan berlian, namun yang mereka dapatkan hanyalah butiran-butiran padi yang sudah kering.

”Ah, saya pikir uncang ini berisi intan berlian,” kata si Suami dengan nada kecewa.

”Iya, Bang! Adik juga berpikiran demikian. Tetapi, kita jangan putus asa dulu. Siapa tahu benih padi ini dapat memberikan manfaat bagi kehidupan kita,” sahut si Istri memberi harapan kepada suaminya.

”Benar juga katamu, Dik! Mungkin Kakek itu berkata benar,” jawab si Suami lalu segera menyimpan benda itu.

Keesokan paginya, mereka pun segera menebarkan benih padi tersebut di belakang gubuk mereka. Beberapa hari kemudian, benih tersebut tumbuh dengan subur. Sejak itu, mereka mulai rajin bekerja. Setiap hari mereka membersihkan tanaman padi itu dari gangguan hama dan gulma.

Pada suatu pagi, saat akan membersihkan gulma, mereka mendapati tanaman padinya berbuah sangat banyak. Setiap batang memiliki tangkai yang dipenuhi dengan biji padi. Mereka sangat gembira menyaksikan pemandangan itu.

”Bang! Sebentar lagi kita akan kaya-raya,” kata si Istri kepada suaminya tersenyum gembira.

”Iya, Dik! Kita tidak akan kekurangan makanan lagi,” jawab si Suami dengan senang hati.

Saat padi tersebut menguning, mereka pun segera menuainya. Mereka semakin senang, karena telah memperoleh hasil yang melimpah ruah. Hasil panen mereka tidak sekedar cukup untuk dimakan, tetapi juga untuk disimpan di lumbung padi yang telah mereka buat di samping gubuk.

Pada musim tanam berikutnya, mereka kembali menanami sawah di belakang gubuknya. Hasil panen yang mereka peroleh tidak jauh beda dengan hasil panen pada musim sebelumnya, sehingga lumbung padi mereka pun semakin penuh. Setelah tiga sampai empat musim menanam dan menuai padi, lumbung padi di samping gubuk mereka tidak dapat lagi menampung seluruh hasil panen mereka. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk menjual sebagian dan menyimpan sebagian yang lain untuk persediaan sampai pada musim tanam berikutnya, serta menyumbangkannya kepada orang-orang miskin di kampung itu.

Pada suatu hari, rumah mereka didatangi oleh seorang laki-laki tua dengan pakaian compang-camping.

”Permisi, Tuan! Bolehkah saya meminta sedikit makanan? Sudah dua hari saya belum makan, Tuan!” kata orang tua itu sambil berdiri di depan rumah mereka.

Si Suami yang melihatnya segera mempersilahkan masuk ke dalam rumah, lalu meminta istrinya memasak untuk menjamu orang tua itu. Setelah semuanya matang, si Istri pun segera menghidangkannya. Orang tua itu makan dengan lahap. Usai makan, ia pun berpamitan pulang.

”Jangan pulang dulu, Kek!” cegah si Suami kepada orang tua itu.

”Iya, Kek! Menginaplah di rumah kami untuk beberapa hari,” tambah si Istri.

“Maaf, Tuan! Saya harus melanjutkan perjalanan,” kata orang tua itu.

”Terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Saya doakan semoga Tuhan senantiasa merahmati kalian berdua,” sambungnya.

Sebelum berpamitan, orang tua itu menyampaikan sesuatu kepada mereka.

”Ketahuilah, Tuan! Sayalah yang telah memberikan kalian seuncang padi beberapa waktu yang lalu,” ungkap orang tua itu.

Kedua suami-istri tersentak kaget saat mendengar keterangan orang tua itu. Mereka tidak pernah menyangka jika orang tua yang dihadapinya adalah kakek tua bungkuk yang dulu pernah memberikan mereka seuncang padi.

”Maafkan kami, Kek! Kami benar-benar tidak mengenali kakek,” jawab si Suami.

”Tidak apa-apa, Nak! Kakek sangat senang melihat kehidupan kalian. Semua itu juga berkat kerja keras kalian,” jelas Kakek itu seraya berpamitan pulang.

Mereka pun berterima kasih kepada kakek itu dan bersyukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka. Akhirnya, kedua suami-istri itu bertambah rajin bekerja, sehingga kehidupan mereka semakin makmur dan tidak kekurangan makanan lagi.

* * *

Demikian cerita Seuncang Padi dari Negeri Pahang, Semenanjung Malaysia, Malaysia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang terkandung di dalam cerita di atas yaitu, akibat yang ditimbulkan dari sikap malas bekerja, dan kebaikan yang diterima dari sikap suka bekerja keras. Pertama, sikap malas tercermin pada sikap kedua suami-istri yang selalu pasrah pada nasib dan tidak mau bekerja, sehingga mereka pun hidup miskin. Kedua, sifat kerja keras juga tercermin pada sikap mereka yang rajin bekerja setelah mendapat seuncang padi dari seorang kakek tua bungkuk, sehingga hidup mereka menjadi makmur. Terkait dengan kedua sikap pemalas dan rajin bekerja ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

bekerja mengeluh,
makan berkeluh

wahai ananda dengarkan pesan,
terhadap bekerja janganlah segan
supaya dapat melepaskan beban
semoga hidupmu diberkahi Tuhan

(SM/sas/65/04-08)

__________________

Uncang sama artinya sitak, pundi, atau tas kecil dari kain untuk tempat uang.

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Pahang”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Pahang, diakses tanggal 14 April 2008).
  • Anonim. “Semenanjung Malaysia”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaysia, diakses tanggal 14 April 2008)
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  • Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Safarwan, Zainal Abidin. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.  
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia

[1] Semenanjung Malaysia atau yang dulu dikenal sebagai Tanah Melayu merupakan salah satu wilayah Persekutuan Malaysia

Dibaca : 18.732 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password