Minggu, 23 April 2017   |   Isnain, 26 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.739
Hari ini : 32.128
Kemarin : 79.838
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.190.713
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Talibun

Talibun atau sesomba hampir sama bentuknya dengan prosa lirik atau prosa berirama. Talibun merupakan bentuk puisi lama Melayu yang tidak terikat dan tidak tentu bentuknya, lariknya bisa ganjil atau genap dan jumlahnya tidak tentu, termasuk jumlah kata yang digunakan dalam larik-larik tersebut, bisa berima maupun tidak berima. Bentuknya menyamai gurindam, seloka atau teromba. Dari sisi isinya, talibun merupakan rangkaian puisi-puisi yang menceritakan secara terperinci suatu objek atau peristiwa untuk pelipur lara (prosa lirik/berirama yang digunakan dalam penyampaian cerita pelipur lara).

Tema dan isi talibun dapat dikatakan luas dan beragam, tergantung konteks dan pesan yang ingin disampaikan. Tema dan isi dapat meliputi benda, manusia, perilaku, gejala atau situasi, perasaan, tradisi, dan lain-lain. Talibun menceritakan secara terperinci suatu objek atau aspek, baik dalam penceritaan langsung secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. Tema talibun dapat dirinci sebagai berikut,

  1. Manusia, seperti wajah atau sifat dari watak-watak utama dalam tokoh cerita.
  2. Benda, seperti negeri, kota, senjata, kendaraan, pakaian.
  3. Perilaku, seperti adat atau cara berjalan, menyembah, makan, dan lain-lain.
  4. Gejala atau situasi, seperti waktu pagi hari, malam hari, saat kelahiran, dan lain-lain.
  5. Perasaan, seperti gembira, sedih, marah, dan lain-lain.
  6. Tradisi, seperti silsilah, adat, kepercayaan.

Adapun contoh talibun adalah sebagai berikut:

Tentang Manusia

Talibun yang bertema tentang manusia terdapat dalam Hikayat Awang Si Ambok. Talibun ini merupakan ungkapan pelipur lara, yang di dalamnya menggambarkan kecantikan seorang permaisuri.

Maka paras tuan puteri itu terlalu amat eloknya:
alis lentik mengekor siar,
anak rambut memagar air,
lentik di hujung patah mengunang,
bulu mata menongkat kening,
bibir manis limau seulas,
merahnya delima merekah,
menguntum senyum mengandung madu,
cahaya muka purnama empat belas,
gigi renek membiji batat,
putihnya asmara asmaradanta,
hidung mancung menangkai bunga,
jari halus menyugin landak,
luncir bagai dian digiling,
leher jenjang gading dilarik,
makan pinang kaca-kacaan,
menelan air sirih berbinar-binar,
kelihatan dari luar,
mata jeli bintang timur,
menjeling manja hati terhibur,
pipi licin pauh dilayang,
pinggang ramping sejengkal kiri,
rambut panjang mayang mengurai,
bersanggul Pisang Sesikat Teripas Bergantung,
telinga kecil telipuk layu,
tubuh bidang sampiran kain,
tumit betis menelur burung,
orang elok bertambah elok,
orang gawai bertambah gawai,
seperti orang naik mempelai,
berbaju labuh Kilat Di Tangkas,
bertabur dengan Cencawi Besar,
bercincin pusaka turun-temurun,
sinarnya panjut-memanjut,
berdokoh Labuh Sehari Bulan,
Serbang di dahi Emas Sekati,
berbinar-binar cahaya nilakandi,
bergelang keroncong sebelah satu,
berkain panjang Kilat Di Tambing,
bertabur dengan Cencawi Damit,
berpending panjang sembilan tujuh setali,
kesepuluh dengan rumbainya,
tujuh intan di karang,
Sesandang di dada Seribu Jingga,
Berkisi dengan Pancabicara,
Bersubang mutiara Teluk Bayu.

(Rahim dalam Mat Piah, 2006)

Talibun di atas menggambarkan seorang permaisuri yang begitu luar biasa, semua unsur dalam penampilan permaisuri seolah tidak ada cacat sedikit pun. Kekaguman pada sosok permaisuri ini sengaja dibuat menjadi luar biasa karena kemungkinan dalam diri si pembuat karya ini ada rasa ingin menghormati pada junjungannya. Dengan cara demikian, si penulis ingin menunjukkan rasa bangganya karena memiliki permaisuri yang demikian. Hal ini merupakan suatu bentuk pemupukan rasa keterikatan emosional dan rasa memiliki yang tinggi dalam kehidupan pada suatu kerajaan.

(FX. Indrojionao/sas/3/09/08)

Daftar Pustaka

Dibaca : 28.303 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password