Sabtu, 29 November 2014   |   Ahad, 6 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 812
Hari ini : 1.077
Kemarin : 21.065
Minggu kemarin : 146.657
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.394.636
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Sastra Tulisan

Menurut Sulastin Sutrisno (1985), awal sejarah sastra tulis Melayu di Nusantara bisa dirunut sejak abad ke-7 M, berdasarkan penemuan prasasti berhuruf Pallawa peninggalan kerajaan Sriwijaya di Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur (686 M) dan Karang Berahi (686 M). Walaupun tulisan pada prasasti-prasasti tersebut sangat pendek, namun sudah bisa dianggap sebagai cikal bakal perkembangan tradisi sastra tulis. Jika merujuk pada kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, maka tradisi sastra tulis sebenarnya muncul lebih awal, sekitar abad ke-5 M. Dari jejak awal perkembangan sastra tulis ini, dapat dilihat bahwa sebenarnya perkembangan sastra tulis berkaitan erat dengan masuknya agama Hindu-Budha ke Nusantara. Setidaknya, bahasa Sangsekerta yang digunakan menunjukkan adanya pengaruh Hindu-Budha tersebut.

Dalam perjalanan sejarah, perkembangan sastra tulis ini jauh lebih semarak seiring dengan masuknya agama Islam di kawasan Nusantara. Media yang digunakan adalah huruf Arab dengan bahasa Melayu, yang kemudian lebih dikenal dengan huruf Arab-Melayu (Jawi). Perkembangan sastra periode Islam ini bisa dilacak sejak abad ke-15 M, ketika kesultanan Malaka berdiri di Semenanjung Melayu. Selanjutnya, ketika Malaka runtuh, perkembangan sastra tulis berpindah ke Aceh dan kemudian ke Riau-Johor dan Riau-Lingga. Karya sastra tersebut ada yang berkaitan dengan pengajaran agama ataupun sekedar cerita dan dongeng. Di antara pengarang-pengarang Melayu yang terkenal adalah Hamzah al-Fansuri, Nuruddin al-Raniri dan Raja Ali Haji. Jenis karya sastra yang paling disukai oleh orang-orang Melayu pada masa dulu (terutama abad ke-19 dan perempat abad ke-20) adalah bentuk syair dan hikayat. Hikayat dan syair ini merupakan pembaruan dari bentuk prosa yang berkembang dalam tradisi lisan. Contoh syair dan hikayat yang pernah populer adalah Syair Perahu yang dikarang oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-17 M, dan Hikayat Abdul Muluk, yang ditulis oleh Raja Ali Haji bersama adiknya, Raja Zaleha pada tahun 1846 M. Bentuk lain dari sastra tulis adalah gurindam, sajak dan puisi. Dalam perkembangan selanjutnya, jenis syair dan hikayat kembali menjadi bentuk sastra lisan, disebabkan lenyapnya kreatifitas para sastrawan Melayu dalam dunia kepengarangan. Syair dan hikayat yang ada hanya dihafal dan diceritakan tanpa menghasilkan karya-karya baru.
  1. Naratif. (5)
  2. Non-naratif. (4)
Dibaca : 64.441 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password