Kamis, 14 Desember 2017   |   Jum'ah, 25 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.791
Hari ini : 30.534
Kemarin : 36.474
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.954.627
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Mahabharata

a:3:{s:3:

Versi lain yang mengandung nuansa Hindu adalah Mahabharata. Secara etimologi kata ini berasal dari dua kata, maha yang berarti besar dan bharata yang berarti bangsa, jadi mahabharata berarti bangsa yang besar. Mahabharata mengandung pengajaran kepada manusia khususnya orang-orang Hindu, dan mereka menganggap ini sebagai kitab suci yang sering disebut sebagai Kitab Veda. Banyak episode yang menyentuh hati nurani terutama episode Bagawadgita dan Syakuntala.

Para pengkaji percaya bahwa Mahabharata dikarang oleh Vyasa, yang juga menyusun kitab Veda, Vedanta, dan Puruna. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata Vyasa dapat diartikan sebagai pengatur atau penyusun, sehingga ada kemungkinan bahwa Vyasa itu bukan merupakan nama orang, tetapi sebagai nama pangkat atau gelar. Hal ini berdasarkan pemikiran bahwa pembuatan kitab ini memakan waktu yang cukup lama yaitu sebelum 400 tahun sebelum Masehi sampai 400 tahun sesudah Masehi. Demikian juga dengan pembuatan kitab Veda, Vedanta, dan Puruna yang dimulai dari 3000 tahun sebelum Masehi sampai abad keempat sesudah Masehi. Jika ditilik dari masa ini, maka tidak mungkin dilakukan oleh manusia seorang diri.

Penyebaran Mahabharata sampai di tanah Jawa bersamaan dengan orang-orang Hindu yang merantau untuk mencari daerah baru. Kedatangan mereka pertama kira-kira 200 tahun sebelum Masehi dan berlanjut hingga 1100 sesudah Masehi. Mereka datang membawa semua hasil kebudayaannya termasuk agama dan kesusastraan, khususnya Mahabharata yang kemudian disenangi oleh orang-orang Jawa. Hal ini dikarenakan adanya persamaan pandangan bahwa nenek moyang mereka adalah para dewa.

Menurut J. Kats, penduduk Jawa jaman dahulu percaya bahwa nenek moyang mereka yang telah meninggal akan menjadi roh-roh yang berkuasa dan selalu menjaga keturunannya. Mereka meminta pertolongan kepada leluhurnya dengan menyediakan sesajian berupa aneka makanan, memberi wewangian, membakar kemenyan, dan mengucapkan mantera-mantera tertentu. Sementara bagi orang-orang Jawa, untuk melihat leluhurnya adalah  melalui pertunjukan wayang (bayang-bayang) yang tokoh-tokohnya merupakan perwujudan dari nenek moyang mereka. Pada saat itu, nenek moyang orang-orang Jawa dianggap kurang populer jika dibandingkan nenek moyang orang-orang India. Maka kemudian orang-orang Jawa lebih memilih menggunakan tokoh-tokoh nenek moyang orang-orang India. Sampai pada akhirnya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Mahabharata seolah-olah terjadi atau berlangsung di pulau Jawa.

Dari Pulau Jawa, Mahabharata merembet ke Pulau Bali seiring dengan keberadaan kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan di Jawa Timur seperti Kediri, Jenggala, Singasari, dan Majapahit sangat berpengaruh di Bali. Menurut Hazeu, kesusastraannya juga berpengaruh besar di Bali, namun bahasa yang dipakai menyesuaikan wilayah ini. Adapun karya sastra yang terkenal adalah Astadasyaparwa yang berarti delapan belas parwa, sementara wayangnya lebih dikenal dengan “wayang parwa.”

Pengaruh Mahabharata juga sampai di pulau Madura dan Sunda dalam bentuk wayang. Untuk yang di Madura lebih dikenal dengan sebutan “bayang palbah.” Sedangkan di Sunda lebih dikenal dengan sebutan “wayang golek” dengan menggunakan patung kayu yang dibentuk sesuai dengan perwujudan tokoh-tokoh pewayangannya.

Di Pulau Sumatra, pengaruh kebudayaan India sudah ada sejak abad ke-5 yang dipengaruhi oleh agama Hindu. Pada abad ke-7 terdapat kerajaan Melayu di Jambi dan Palembang. Pada tahun 1275-1293 Masehi, Raja Kertanegara dari Tumapel mengirim ekspedisi “Pa Malayu” dan berhasil mengambil alih kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut. Mpu Prapanca, seorang pujangga Majapahit, dalam karyanya Nagarakertagama menyebutkan bahwa Jambi dan Palembang merupakan wilayah Majapahit. Pada saat itu hanya orang-orang Jawa saja yang datang dan menetap di Jambi dan Palembang. Seperti di Bali dan Madura, kesusastraan Jawa juga disukai orang-orang di daerah ini. Hal yang penting diperhatikan adalah bahwa pengaruh Hindu di Melayu bukanlah langsung berasal dari India namun melalui perantaraan kesusastraan Jawa.

(FX. Indrojiono/sas/6/10/08)

Daftar Pustaka

Kredit foto : www.flickr.com (dragonunit)

Dibaca : 26.900 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password