Minggu, 23 April 2017   |   Isnain, 26 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.309
Hari ini : 28.458
Kemarin : 79.838
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.190.635
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Sulalat-us-Salatin atau Sejarah Melayu


Sumber: dokumentasi BKPBM Yogyakarta

A. Pendahuluan

Sulalat-us-Salatin pada mulanya lebih merupakan warisan istana yang hendak mengekalkan semangat golongan istana. Namun, dalam suasana yang berbeda pada abad ke-19, karya ini telah berubah menjadi khasanah yang dimiliki dan mewakili seluruh bangsa Melayu. Sehingga, tidak aneh jika Sulalat-us-Salatin, yang sejak abad ke-19 lebih kerap dikenal sebagai Sejarah Melayu, merupakan khasanah tertulis Melayu yang paling banyak disalin, paling luas diperkenalkan, dan paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain (Abdul Rahman Haji Ismail dalam Abdul Rahman Haji Ismail & Harun Daud [eds.], 2008:1).

Maka, karya ini pada dasarnya tetap aktual sepanjang zaman, sehingga pembicaraan tentangnya hingga kini tidak pernah selesai. Setiap pembaca selalu membaca dan menafsir karya agung ini sesuai dengan zamannya masing-masing. Orang Melayu zaman dulu memandang karya ini dengan hikmat dan hormat, dan mungkin juga memandang naskahnya dalam tulisan Jawi sebagai relik yang keramat. Ini tersirat dalam mukadimah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam edisi cetakan massal pertama yang diterbitkan di Singapura pada 1831.

Abdullah mengisyaratkan bahwa bentuk tercetak dan massal yang diusahakannya itu mungkin akan mengundang kecurigaan, pertanyaan dan gugatan dari komunitas Melayu:

“Maka barangsiapa yang mendapat akan kitab Sejarah Melayu ini, maka dapattiada ia akan bertanya: ‘Surat apa ini dan apa sebab jadi begini dan dari mana datangnya ini? Karena belum pernah sahaya lihat demikian rupanya. Adat baharukah ini atau karangan orang putihkah atau apakah?‘” (T.D. Situmorang & A. Teeuw [eds.], 1952:xxi)

Namun, selanjutnya Abdullah menjelaskan bahwa tujuan penerbitan naskah yang baru itu dilandasi oleh niat baik untuk memajukan bahasa Melayu:

“... segala tuan-tuan yang mendjadi kepala kepala tempat mengajar bahasa Melayu dan lain-lain dalam negeri Singapura yang diperbuat oleh tuan Raffles itu, berkehendak mereka itu akan mencari kitab-kitab bahasa Melayu jang telah termasyhur, lagi yang telah diketahui oleh segala orang Melayu akan dia, supaya boleh diajarkan itu kepada segala kanak2 karena yaitu bahasa Melayu betul dan halus adanya, supaya boleh mereka itu berjinak-jinakan dengan bahasa dirinya supaya jangan mereka itu berkacau dan bergaul dengan bahasa kacaukan daripada bahasa bangsa-bangsa yang banyak yang berbahasa dengan bahasa Melayu.” (Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:xxi)

Komunitas sastra dunia juga telah mengakui Sulalat-us-Salatin sebagai karya yang penting bagi kebudayaan global. Ini terbukti dengan diterjemahkannya karya ini ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Belanda, dan Tionghoa, baik sebagian maupun utuh. Selain itu, bersama dengan Hikayat Hang Tuah, Sulalat-us-Salatin juga telah diakui sebagai karya agung antarbangsa oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) (Haron Daud dalam Abdul & Harun [eds.], 2008:57).

B. Manuskrip dan publikasi

Sejak disalin pertama kali pada 1812 atas perintah Raffles, naskah Sulalat-us-Salatin telah diterbitkan lagi dalam beberapa versi, baik yang berupa manuskrip maupun edisi cetakan massal. Hampir semua naskah yang ada dihasilkan pada abad ke-19, di mana sebagian besar merupakan hasil permintaan dan upahan orang Eropa. Kini terdapat beberapa naskah tulisan tangan yang tersimpan di beberapa buah arsip dan perpustakaan di Malaysia, Indonesia, dan negara-negara lain, yang sebagian sudah rusak dan sukar dibaca. (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:2).

Muhammad Haji Salleh (1997) dan Abdul (2008) telah mendaftar manuskrip dan edisi cetakan massal Sulalat-us-Salatin yang pernah ada dan terbit sebagai berikut:

  1. Raffles Malay 18 (MS 18) di Royal Asiatic Society, London. Salinan bertarikh 1812. Tarikh dikarang 1612.
  2. Cod. Or. 1704,  di Perpustakaan Universitas Leiden. Disalin oleh Muhammad Sulaiman. Tanpa tarikh salinan. Hanya seratus halaman pertama Raffles 18 tersalin.
  3. Terjemahan John Leyden ke dalam bahasa Inggris sebagai Malay Annals, diberi pengantar oleh Raffles, terbit pada tahun 1821, di London.
  4. Teks bercetak pertama yang disunting oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Singapura, 1831. Karya yang sama diterbitkan kembali oleh Klinkert di Leiden pada tahun 1884. Situmorang dan Teeuw menerbitkannya dalam huruf Rumi/Latin di Jakarta pada tahun 1952 (lihat nomor 12).
  5. Teks-teks sejarah dunia Melayu yang dihimpun oleh M. Ed. Dulaurier, diterbitkan kembali setelah kematiannya, oleh Imperimec Nationale, Paris, 1849, sebagai Collction de Principales Chroniques Malayes.
  6. Terjemahan ke dalam bahasa Perancis oleh M.L. Marcel Devic, didasarkan pada teks susunan Dulaurier, 1878.
  7. Sejarah Melayu suntingan W.G. Shellabear dalam huruf Jawi (1896).
  8. Alih aksara dan kerja penambahan oleh Shellabear (Jawi, 1898).
  9. C.O. Blagden, “An Unpublished Variant Version of the Malay Annals” dalam Journal of the Royal Asiatic Society, 1925.
  10. The Malay Annals or Sejarah Melau, the Earliest Recension from Ms. 18 of the Raffles Collection, in the Library of the Royal Asiatic Society, London”. Disunting oleh R.O. Winstedt, diterbitkan oleh Journal of the Royal Asiatic Society, Vol. XVI, Part III, 1938.
  11. Sejarah Melayu: “Malay Annals”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh C.C. Brown, berdasarkan alih aksara Raffles Malay 18 oleh Winstedt. Pertama kali terbit pada tahun 1952 dalam JMBRAS, dan setelah itu diterbitkan kembali oleh Oxford University Press, Kuala Lumpur pada tahun 1970 dengan Pengantar oleh R. Roolvink.
  12. Sejarah Melayu berdasarkan edisi Abdullah bin Abdul Kadir Musnyi, disunting oleh T.D. Situmorang & A. Teeuw, diterbitkan oleh Jambatan, Jakarta, pada tahun 1952.
  13. Sejarah Melayu, Jambatan-Gunung Agung, Jakarta, 1959. Latin. Didasarkan pada versi Abdullah Munsyi.
  14. Sulalat us Salatin (Sejarah Melayu). Disunting oleh A. Samad Ahmad, didasarkan pada tiga buah naskah yang terdapat di Dewan Bahasa dan Pustaka: MSS 86, 86A, 86B. Pertama kali terbit pada tahun 1979, oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.
  15. Sulalat al-Salatin ya‘ni Perteturun Segala Raja-raja (Sejarah Melayu) atau MS 86 DBP. Disunting dan diberi pengantar oleh Muhammad Haji Salleh, diterbitkan pada 1997 oleh Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.
  16. Sejarah Melayu Raja Bungsu, disunting oleh Abdul Rahman Haji Ismail, dalam Sejarah Melayu: The Malay Annals, disunting oleh Cheh Boon Kheng, Kuala Lumpur, diterbitkan oleh Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society pada tahun 1998.

Ke dalam daftar di atas dapat ditambahkan satu edisi lagi karena pada penulis terdapat satu buku berjudul Sejarah Melayu (Usaha perbaikan disertai Tinjauan dan Keterangan), disunting oleh Tardjan Hadidjaja, diterbitkan oleh Penerbitan Sapta Darma-Djakarta (tanpa tahun). Sayangnya hanya ada jilid II, sementara jilid I tidak ada. Menurut catatan yang ada bagian akhir buku ini, yakni di halaman 169 pada bagian Daftar Kitab-kitab yang Mengenai Teks, edisi ini didasarkan pada:

  1. Kitab S.M. berhuruf Arab (sic) yang diterbitkan oleh W.G. Shellabear meliwati “Malay Publishing House Limited” cetakan ketujuh kalinya, Singapore 1934.
  2. Kitab S.M. or The Malay Annals berhuruf Latin diterbitkan oleh W.G. Shellabear meliwati “Malaya Publishing House Ltd.” Tercap ketiga kalinya, Singapore 1884.
  3. Kitab S.M. yang diterbitkan oleh H.C. Klinkert, Leiden 1884.
  4. Hoesin Djajadiningrat, Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten, Stelling XVI.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada lagi edisi-edisi Sulalat-us-Salatin atau Sejarah Melayu yang lain.

C. Beberapa kajian tentang Sulalat-us-Salatin

1. Judul

Perubahan teks Sulalat-us-Salatin, yang timbul sejak salinan pertama (MS 18) dibuat pada 1812 atas perintah Raffles, menyebabkan munculnya berbagai versi naskah. Abdul (dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:2) menegaskan bahwa tidak ada naskah awal yang dapat dipastikan sebagai naskah yang tertua dan menjadi induk bagi naskah-naskah lain yang dihasilkan lebih kemudian. Sehingga, isi dan susunan cerita pun berbeda-beda akibat adanya perubahan secara sengaja atau tidak sengaja yang dilakukan oleh para penyalin yang menulis tangan sewaktu menghasilkan naskah baru.

Perbedaan yang paling kentara adalah pada judul. Abdul (2008) telah menguraikan tentang berbagai nama yang pernah diberikan kepada karya ini dan menegaskan bahwa judul karya ini sebenarnya adalah Sulalat-us-Salatin. Karena, mukadimah dalam hampir semua naskah menyatakan “maka fakir namainya hikayat ini Sulalat-us-Salatin”, yang berarti “Anak Cucu Raja-raja” atau “Jurai Keturunan Raja-raja”.

Dalam berbagai naskah salinan, nama karya ini berbeda-beda, di antaranya adalah Sulalatuh-us-Salatin dan Salasilat-us-Salatin. Dalam kitab Bustan-us-Salatin, Nuruddin Al-Raniri menyebut judul karya ini sebagai Masirat-us-Salatin yang dapat diterjemahkan menjadi “Riwayat Raja-raja”. Sedangkan  R.O. Winstedt, Teuku Iskandar dan A. Samad Ahmad menyatakan bahwa di dalam Bustan-us-Salatin itu naskah Sulalat-us-Salatin berjudul Masirat Sulalatus Salatin (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:6).

Para pengkaji Eropa mengenal karya ini dengan judul Sulalat-us-Salatin, walaupun memberikan ejaan sesuai dengan logat masing-masing. F. Valentyn menyebutnya sebagai Soolalet Essalathina, sedangkan John Leyden yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris pada 1810 menyebutnya sebagai Silla-leteh-al-Salatin. William Marsden, dalam bukunya tentang sejarah Sumatra pada awal abad ke-19, mencatatnya sebagai Sulalau‘l Salatin dan James Low menulisnya sebagai Salelata Salatin (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:7).

Kapan nama Sejarah Melayu pertama kali digunakan tidak dapat dipastikan (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:7). Kemungkinan, nama ini mulai digunakan oleh para cerdik pandai Melayu yang bekerjasama dengan pengumpul kitab dan pengkaji Barat yang bergiat di kawasan Melayu. Contohnya adalah penyalin naskah Raffles Malay 35 yang memperkenalkan diri sebagai Ibrahim, menulis: Pada sanat 1222 [1807 M] tahun, tahun alif, pada dua belas haribulan Zulqa‘idah, pada hari Arba‘, pada waktu pukul empat, ditamatkan kitab ini, Sejarah Melayu namanya. Maka barangsiapa membaca dia, jikalau ada kurang huruf sedikit-sedikit pinta ditambahi, jangan senda dimarahi dinistai kerana senada belum sampai akal bicara (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:7).

Penyalin lain yang juga menyebut karya ini sebagai Sejarah Melayu adalah Yahaya Abdul Ismail. Besar kemungkinan hal ini karena adanya hubungan yang rapat antara mereka dengan para sarjana dan pegawai Barat yang memandang Sulalat-us-Salatin sebagai Malay Annals atau Sejarah Melayu karena isi dan semangat karya tersebut yang seakan-akan mewakili seluruh wibawa budaya dan politik Melayu (Abul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:8).

Namun, ada juga penyalin yang memberikan sebutan yang berbeda. Penyalin naskah Malay MS 1, Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad Zubaidi, merujuk karya ini secara umum sebagai “surat ini” atau “ceritera Melayu”. Dia menyatakan: “Tamatlah ceritera Melayu” (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:8).

Hal ini tampaknya juga mendorong Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi untuk menamakan karya ini Sulalat-us-Salatin iaitu Sejarah Melayu. Abdullah menggunakan kedua nama yang sering dirujukkan pada karya ini. Edisi Abdullah ini kemudian menjadi rujukan umum hingga terbitnya edisi Shellabear pada 1896 yang hanya menggunakan judul Sejarah Melayu saja. Pada 1898, ketika menerbitkan edisi karya ini dalam aksara Latin, Shellabear mengubah judulnya menjadi Sejarah Melayu or the Malay Annals (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:8).

Sejak itu, para pengkaji Barat, seperti John Leyden dan Winstedt memberikan nama-nama dalam bahasa Inggris seperti Malay Annals: Translated from the Malay Language dan Malay Annals or Sejarah Melayu, sedangkan edisi paling akhir yang diterbitkan oleh Abdul Rahman Haji Ismail dalam JMBRAS menyebutnya Sejarah Melayu: The Malay Annals (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:9). V.I. Braginsky (1998) mengikuti penamaan itu dan dalam pembahasannya atas karya ini dia merujuknya sebagai Sejarah Melayu, sementara Liaw Yock Fang (1975) merujuknya sebagai Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatina.

Penggunaan nama asal, yakni Sulalat-us-Salatin, semakin dikukuhkan dengan terbitnya edisi yang disunting oleh Muhammad Haji Salleh pada tahun 1997. Namun, pengubahannya ke dalam aksara Latin yang mengikuti kaidah pengubahan ejaan bahasa Arab menjadikan judul itu sebagai Sulalat al-Salatin, yang diikuti oleh Harun Mat Piah et.al (2002). Sehingga, Sulalat-us-Salatin yang sudah menjadi istilah Melayu sekali lagi hilang sifat keasliannya (Abdul dalam Abdul & Daud [eds.], 2008:9).


Sumber: dokumentasi BKPBM Yogyakarta

2. Pengarang

Salah satu hal yang menarik dari Sulalat-us-Salatin adalah masalah pengarangnya. Tentang hal ini, para pakar belum bersepakat. Khayalak luas biasanya menganggap bahwa pengarang Sulalat-us-Salatin adalah Tun Seri Lanang, Bendahara di Kesultanan Riau-Johor (Liaw, 1975:211). Salleh (1997:xiv) dan Harun et.al. (2002) juga menganggap bahwa pengarang, atau paling tidak penyusun atau penyunting, karya ini adalah Bendahara Tun Seri Lanang atau Tun Muhammad.

Harun et.al. (2002:56-57) menguraikan bahwa Tun Seri Lanang adalah Bendahara Sultan Alauddin Riayat Syah dari Riau yang ditaklukkan oleh Kesultanan Aceh. Dia memulai karya ini pada 1612 dan baru selesai beberapa tahun sesudahnya. Barangkali Tun Seri Lanang adalah penyusun karya ini dari bahan yang sebelumnya sudah ada, karena dalam mukadimah ada rujukan yang berbunyi: “hikayat Melayu dibawa orang dari Goa”. Linehan (dalam Liaw, 1975) menyatakan bahwa Goa di sini bukan Goa di India atau Goa di Sulawesi, melainkan sebuah tempat di dekat Pahang.

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Tun Seri Lanang diperintahkan oleh Sultan Abdullah untuk menulis karya ini sehingga Sulalat-us-Salatin adalah karya asli. Salleh (1997:xix-xxiv) menegaskan bahwa berdasarkan MS 18, pada bagian akhir karya ini disebutkan bahwa pengarangnya adalah Raja Bungsu. Namun, penyebutan pengarang ini agaknya hanya merupakan wujud penghormatan karena Raja Bungsu adalah pusat kuasa negeri Johor pada zaman itu.sehingga pengarang sebenarnya adalah seperti yang tercantum pada mukadimah, yakni Bendahara Tun Seri Lanang. Raja Bungsu sendiri, menurut Winstedt (dalam Salleh, 1997:xxix), adalah Yang Dipertuan di Hilir yang juga dikenal sebagai Sultan Abdullah Ma‘ayat Syah. Selain itu, berdasarkan pembahasan Nuruddin Al-Raniri dalam Bustan al-Salatin (Salleh, 1997:xxxii) juga disebutkan bahwa pengarang karya ini adalah Bendahara Paduka Raja, yakni Tun Seri Lanang.

Namun, Wilkinson tidak menganggap Bendahara Tun Seri Lanang sebagai pengarang karya ini. Menurut Wilkinson (dalam Liaw, 1975:212), orang-orang Melayu tidak biasa menyebut diri sebagai pengarang. Apabila dirinya disebut, selalu disebut dengan kata-kata yang rendah, misalnya jahil mukarrab (sangat bodoh). Tetapi penulis karya ini, setelah menyebut diri sebagai orang bodoh, mendadak pula menyebut gelarnya sendiri serta sejarah nenek moyangnya. Ini bertentangan dengan kebiasaan orang Melayu. Lagipula silsilah yang disebutkan oleh bendahara tersebut salah.

Berbeda dari Salleh (1997), Winstedt (dalam Liaw, 1975:213-214), yang juga mendasarkan penafsirannya pada MS 18, menolak jika Tun Seri Lanang disebut sebagai pengarang karya ini. Alih-alih Winstedt mengajukan dugaan bahwa pengarang karya ini adalah seorang Tamil yang kenal betul dengan kehidupan dalam istana. Bahasa Sanskerta, Parsi, Tamil, dan Arab semua dikenalnya. Dia tahu pula sedikit bahasa Tionghoa dan Siam. Dia juga mempunyai pengetahuan tentang sastra Islam, jawa, dan India. Mungkin dia seorang ahli sufi juga. Sedangkan orang yang “membaiki” bahan-bahan untuk karya ini adalah Tun Bambang, yakni kemenakan Raja [Sultan] Abdullah, yang memerintahkan penyusunan karya ini.

3. Bahan-bahan dan tarikh penggubahan

Simpang siurnya masalah judul dan pengarang menguatkan dugaan bahwa Sulalat-us-Salatin tidak diciptakan sekali jadi. Para pengkaji mulai dari Teeuw, Winstedt, Braginsky, Salleh, hingga Harun et.al, bersepakat bahwa bahan-bahan karya ini telah ada jauh sebelum dituliskan atau dirajut oleh pengarangnya.

Teks Sulalat-us-Salatin memang membubuhkan penanggalan, yakni 1201 H atau sama dengan 1612 M. Tetapi, Teeuw (dalam Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:v) menyatakan bahwa dalam sejumlah salinan ada bagian yang ditambahkan, yang ditulis di kemudian hari, yakni bagian-bagian yang mengenai orang-orang-orang dan kejadian-kejadian setelah 1612 M. Teeuw sepakat dengan Winstedt yang menyatakan bahwa karya ini memang ditulis kembali pada 1612, tapi sebelum waktu itu, mesti sudah ada sebuah teks yang barangkali ditulis tidak lama setelah 1511. Mungkin juga penulis yang pertama mempunyai bahan yang lebih tua, baik berbentuk lisan maupun tulisan.

R. Roolvink (dalam Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:v; Braginsky, 1998:64-65) menyatakan bahwa ada suatu teks yang mungkin berjudul Sulalat as-Salatin (“Silsilah Para Raja) yang menjadi  kerangka acuan bagi Sejarah Melayu. Pola dasar teks awal itu kemudian disisipi dengan cerita-cerita sejarah dan dihilangkan tarikh-tarikhnya, kemudian perlahan-lahan berubah menjadi kronik sepenuhnya, yang sekarang mempunyai beragam versi. Namun, Teeuw dan Braginsky (dalam Braginsky, 1998:68) menyanggah pendapat Roolvink dengan menegaskan bahwa Sulalat-us-Salatin (yang disebutnya sebagai Sejarah Melayu) merupakan suatu karya utuh dengan konsepsi politik pemerintahan yang satu, dan mempunyai satu komposisi yang bulat, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi perkembangan selanjutnya.

Penentuan tarikh penggubahan ini menimbulkan banyak masalah lain. Salah satu di antaranya adalah episode dalam karya ini yang menceritakan tentang Pasai. Timbul pertanyaan, apakah Sulalat-us-Salatin mengambil cerita itu dari Hikayat Raja Pasai, yang pola ceritanya tentang Pasai mirip dengan pola cerita dalam Sulalat-us-Salatin? Ataukah justru Hikayat Raja Pasai yang meniru cerita itu dari Sulalat-us-Salatin? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, yang masih berupa dugaan, menimbulkan adanya dugaan lebih lanjut bahwa pada masa lalu di daerah sekitar Semenanjung terjadi semacam perang buku (Braginsky, 1998), di mana penulis dari Pasai dan Malaka saling bersaing melalui narasi dalam karya untuk menonjolkan kebesaran kerajaan masing-masing.

4. Bahasa

Dalam pengantarnya untuk edisi massal pertama, Abdullah mengatakan bahwa karya ini adalah karya yang “tiada banyak perkara yang berguna dalamnya seperti kata orang yang mengarang sejarah ini dalam khotbahnya”. Abdullah mengakui bahwa narasi karya ini memang tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai kebenaran, namun dia tetap juga mengusahakan pencetakan karya ini dengan teknologi modern sebab bahasa yang digunakan oleh karya ini, yang merupakan bahasa Melayu yang “halus dan betul adanya” (Abdullah dalam Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:xxix).

Teeuw sendiri dalam pengantar untuk edisi terbitan 1952 itu menyatakan:

Pemakaian bahasa dalam S.M. [Sejarah Melayu] lebih banyak mempunyai corak sendiri dan bersilih-ganti kalau dibandingkan dengan kebanyakan karangan-karangan Melayu lainnya (Situmorang & Teeuw [eds.], 1952:xxiv).

Gaya bahasa yang digunakan di dalam karya inilah yang kemudian dijadikan teladan oleh Abdullah dalam menuliskan karya-karyanya sendiri. Gaya bahasa ini tidak jauh berbeda dan masih dapat dipahami oleh penutur bahasa Melayu di abad ke-21. Sehingga, bahasa yang digunakan oleh Sulalat-us-Salatin dapat dikatakan menjadi salah satu mata rantai yang penting dalam perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa modern.

D. Penutup

Pernyataan Teeuw dalam pengantar untuk Sulalat-us-Salatin edisi 1952 agaknya masih relevan hingga kini. Karya ini memunculkan kejenakaan-kejenakaan yang lebih tegas membuktikan kepada kita, bahwa di sini, dengan tidak mempedulikan ikatan-ikatan dan tiruan-tiruan, kita berhadapan dengan sebuah karangan oleh seorang manusia yang hidup tentang orang-orang yang hidup—pendeknya, di sini kita berhadapan dengan sebuah ciptaan seni. Dalam sifatnya yang seperti itu dan tidak pula kurang sebagai sumber pengetahuan sejarah, kebudayaan dan ilmu sosiologi masyarakat Melayu lama, karya ini berhak memperoleh perhatian sepenuhnya dari orang Melayu maupun khalayak lain di sepanjang zaman.

___________

Referensi

Abdul Rahman Haji Ismail, 2008. Sulalat-us-Salatin atau Sejarah Melayu: penelitian mukadimah, judul, dan pengertian. Dalam Abdul Rahman Haji Ismail & Haron Daud (eds.). 2008. Sulalat-us-Salatin (Sejarah Melayu) Cerakinan Sejarah, Budaya dan Bahasa. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Sains Malaysia.

Harun Mat Piah et.al. 2002. Traditional Malay literature. Second edition. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Liaw Yock Fang. 1975. Sejarah kesusastraan Melayu klasik. Singapura: Pustaka Nasional Singapura.

Muhammad Haji Salleh (ed.). 1997. Sulalat-us-Salatin ya‘ni Perteturun Segala Raja-raja (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.

T.D. Situmorang & A. Teeuw (eds.). 1952. Sedjarah Melayu menurut terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsyi). Jakarta: Djambatan.

Tarjan Hadidjaja (ed.), n.d. Sedjarah Melayu (usaha perbaikan disertai dengan tinjauan dan keterangan) jilid II. Jakarta: Penerbit Sapta Darma.

V.I. Braginsky. 1998. Yang Indah, Berfaedah dan kamal Sejarah sastra Melayu dalam Abad 7 – 19. Jakarta: INIS.

(An. Ismanto/sas/14/10-09)

Dibaca : 11.616 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password