Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
12 agustus 2007 01:41
Wawancara Khusus Bupati Siak H Arwin AS SH
”Saya Membayangkan, Siak Jadi Bandar Besar”
Pekanbaru- Jembatan Siak yang memiliki nama resmi Tengku Agung Sultanah Latifah seakan menjulangkan kembali ingatan pada kegemilangan tamadun kerajaan Islam Melayu Siak Sri Indrapura, abad ke-16 dan 20. Hari ini, Sabtu (11/9) Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan pemakaian jembatan sepanjang 1.230 meter itu.
Perasaan penuh haru bercampur bahagia bakal paling dirasakan oleh orang nomor satu di Kabupaten Siak, Arwin AS SH. Kebulatan azamnya bagai telah melumatkan semua cabaran yang merintangi sepanjang proses pembangunan jembatan ini. Namun Arwin tetap menegaskan, bahwa dia hanya sebagai penyambung tangan dari sebuah keinginan yang terpendam lama dari seluruh masyarakat Siak. Wartawan Riau Pos Ilham Muhammad Yasir dan Raja Isyam Azwar berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Bupati Siak menjelang peresmian Jembatan Sultan Agung Sultanah Latifah, Selasa (7/8) malam lalu di Studio Riau Televisi (RTv), Pekanbaru. Berikut petikan wawancaranya;
Pembangunan jembatan sudah selesai dan dipastikan Presiden SBY yang meresmikannya. Bagaimana perasaan Anda?
Sudah pasti ada perasaan haru, gembira, bangga bercampur aduk dalam pikiran saya sekarang ini. Apalagi kedatangan Presiden RI tanggal 11 Agustus ini, dia sendiri yang langsung meresmikannya. Orang banyak membangun jembatan, tetapi tak banyak yang menghadapi masalah seperti saya. Begitu besarnya tantangan itu, baik dari pihak swasta, maupun pusat sendiri, semuanya saya hadapi dengan penuh sepirit yang luar biasa sekali. Karena beratnya tantangan yang saya hadapi setahun lalu, tak berlebihan kalau saya mengatakan punya keinginan kalau jembatan ini harus presiden yang meresmikan. Alhamdulillah Allah SWT akhirnya mengabulkan permintaan saya ini.
Kenapa selalu dihubungkan dengan marwah Siak?
Disebut sebuah marwah, karena muncul banyaknya tantangan pada waktu pembangunannya. Lalu, muncul bahwa ini adalah marwah Siak. Jadi, kalau sudah sekali ibarat pepatah Melayu, sekali layar terkembang, berpantang surut ke belakang. Kita harus terus berlayar. Pembangunan Jembatan Siak ini banyak tantangan. Prinsipnya kita sudah mulai, maka harus diselesaikan. Apapun yang akan terjadi saya hadapi. Dulu selalu saya katakan, kalau gagal jabatan saya taruhannya. Kenapa? Karena ini merupakan marwah kita. Dan, di sinilah kunci dari kemajuan Siak. Tanpa jembatan ini Siak tak akan pernah maju.
Bagi Anda barangkali mempunyai makna tersendiri?
Sebetulnya kita ingin kembali kepada sejarah. Artinya, saya juga ingin membuat sejarah di Siak ini. Jika kita melihat bangunan-bangunan monumental yang dibuat pada zaman Kesultanan Siak dulu, seperti istana. Pada waktu itu alangkah anehnya seorang sultan membangun istana semegah itu. Ada Balai Kerapatan Adat berlantai dua yang megah. Waktu itu, rasanya sangat wah dan monumental. Jembatan ini akan menjadi sebuah ikon bagi kota Siak. Dan, juga menjadi ikon bagi Provinsi Riau. Begitu pula orang yang melihat jembatan, menjadi tau bahwa mereka berada di Siak, dan mereka juga sedang berada di Riau.
Sebenarnya apa yang hendak Anda wujudkan bagi Siak ke depan?
Saya membayangkan Siak itu menjadi sebuah bandar yang besar (Arwin menerawang ke atas sambil tampak memikirkan rupa bentuk Siak ke depan). Bahkan saya punya cita-cita Siak itu harus menjadi nomor satu di Riau ini. Itu tekad saya. Nomor satu dari segala halnya. Apakah itu bidang pertanian, ekonomi, transportasinya. Untuk mewujudkan keinginan menjadi nomor satu itu, kan tak gampang. Artinya bahwa untuk memajukan ekonomi, infrastruktur harus baik, sarana dan prasarana harus baik. Jadi kalau ingin membangun ekonomi supaya daerah kita menjadi ramai, maka pelabuhan harus punya. Kita tak usah melihat jauh-jauh, cukup melihat Malaysia dan Singapura. Semua itu kuncinya kan infrastruktur. Kalau jalan kita bagus orang semuanya menjadi mudah untuk datang dan mau berkunjung kembali. Karena itu saya sudah mulai membangun jalan highway(tol, red) walaupun dananya masih kecil, hanya Rp50 miliar, tetapi kita sudah mulai membangun akses jalan dulu. Yaitu jalan tol dari Buton ke Pekanbaru. Jika itu sudah siap, paling jarak tempuhnya itu hanya kira-kira 1 jam atau 2 jam saja.
Siak sudah memulai sesuatu yang besar, tetapi ada juga hal-hal yang kecil seperti nasib tukang sampan, tukang becak, petani yang juga menitipkan harapan terhadap APBD Siak. Kepada mereka ini ada yang ingin Anda jelaskan?
Mengenai soal pertanian, sampai sekarang ini kendala kita adalah pemasaran. Infrastruktur kita juga lemah. Harapan kita, dengan terbangunnya jalan mudah-mudahan tahun depan sudah melewati kawasan pertanian di Sungai Pakning, selanjutnya disambungkan dengan jalan multiyears provinsi. Kemudian kita juga membangun jembatan, pasti halangannya itu tak jauh berbeda dengan halnya jembatan Leighton (Pekanbaru Rumbai,red) dulu.
Tentu sedikit sebanyak akan ada pengaruh terutama transportasi tradisional. Dulu sudah pernah saya katakan kepada mereka, orang di Siak tidak selamanya akan naik sampan. Suatu saat pasti harus punya jembatan. Bagaimana dengan sampan yang ada? Lalu mata pencaharian mereka bagaimana? Bagi saya sampan ini tidak boleh dihilangkan.
Saya sudah punya rencana. Sebahagian sampan-sampan ini akan kita modifikasi dalam bentuk sampan tradisional. Ia akan menjadi daya tarik wisata di Siak. Sampan tidak harus musnah, tetapi tetap kita jaga dan pelihara. Yang jelas saya sudah mencarikan jalan keluarlah untuk mereka dan saya juga bangunkan koperasi untuk masyarakat kecil. Kalau pun ada yang terganggu, ya itu memang sebuah risiko. Kita harus membuat sebuah pilihan-pilihan. Mau jembatan untuk sekian ratus ribu orang atau bahkan jutaan orang atau kita ingin menjaga yang hanya demi beberapa puluh orang saja. Pasti ada yang korban.