Close
 
Sabtu, 22 Agustus 2026   |   Ahad, 8 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 488
Hari ini : 10.618
Kemarin : 24.647
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

05 sepember 2007 06:44

Perdebatan tentang Bahasa Nasional dan Bahasa Daerah Memanas

Perdebatan tentang Bahasa Nasional dan Bahasa Daerah Memanas

Screenshot www.mlindonesia.org

Surakarta- Melayuonline.com- Kongres Linguistik Nasional (KLN) yang kedua belas (XII) resmi dibuka kemarin (3/9) di hotel Sahid Prince, Surakarta, Jawa Tengah. Helat Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) yang rencananya akan berlangsung hingga Kamis (6/9) mendatang dibuka langsung oleh Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono. Lima pembicara utama yang akan tampil antara lain Dr. Dendy Sugono (Pusat Bahasa), Prof. Dr. Asim Gunarwan (UI), Dr. Hammam Riza (BPPT) dan para pakar bahasa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan negara-negara tetangga. Sedangkan peserta kongres terdiri dari para pakar, peneliti, maupun peminat kajian linguistik. Di antara para peserta juga ada yang berafiliasi ke beberapa lembaga di Malaysia dan Brunei.

Bahasa Nasional versus Bahasa Daerah?

Dalam presentasi pembuka helat yang bertemakan “Bahasa Sebagai Aset Bangsa dalam Bingkai NKRI”, Dendy mengingatkan pentingnya bahasa (nasional) dalam mempersatukan bangsa (Indonesia). “Secara ajaib,” katanya, “bahasa Indonesia telah diterima sebagai bahasa nasional pada Sumpah Pemuda 1928 dan telah berhasil mempersatukan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajah.”

Salah seorang peserta sempat meragukan kemungkinan bahasa nasional dapat tumbuh dan berkembang secara bersama-sama dengan bahasa daerah, karena, menurutnya, bahasa daerah dan bahasa nasional tidak bisa hidup berdampingan, bahkan ‘kedua’ bahasa itu lebih cenderung merupakan saingan bagi yang lain. Menanggapi keraguan tersebut, Dendy mengatakan, “baik bahasa nasional, bahasa daerah maupun bahasa asing sama-sama berpotensi untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana yang diharapkan, bagai bunga di taman sari”. “Hanya saja”, sambung Dendy, “bahasa nasional harus menjadi bahasa utama, karena peranannya yang begitu penting dalam merekat persatuan bangsa”.

Launching Website MLI

Helat akbar ini juga dimanfaatkan MLI untuk meluncurkan laman websitenya, yang dilakukan langsung oleh ketua umum MLI, ibu Katharina Endriati Sukamto, Phd. Laman tersebut beralamat www.mlindonesia.org. Sebetulnya, Katharina menjelaskan, alamat yang diinginkan adalah www.mli.org, sayangnya alamat tersebut sudah dimiliki oleh orang lain. Keberadaan laman ini meskipun baru dalam bentuknya yang sederhana, diharapkan dapat mengawali digitalisasi kegiatan-kegiatan ataupun data-data yang dimiliki oleh MLI, sehingga sosialisasi program MLI ke depan dapat lebih mudah dilakukan. (SR)

Kredit foto : www.mlndonesia.org


Dibaca : 2.941 kali.

Tuliskan komentar Anda !