Close
 
Sabtu, 22 Agustus 2026   |   Ahad, 8 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 450
Hari ini : 10.632
Kemarin : 24.647
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

08 sepember 2007 05:17

Tekad Riau Menjadi Pusat Kebudayaan Melayu `Masih Mimpi`

Tekad Riau Menjadi Pusat Kebudayaan Melayu `Masih Mimpi`

Pekanbaru- Tidak dapat dinafikan upaya yang dilakukan pemerintah, masyarakat, organisasi-organisasi seni, sanggar, seniman, budayawan dan berbagai kelembagaan yang ada kaitan dengan kebudayaan untuk mewujudkan negeri ini sebagai pusat kebudayaan di Asia Tenggara. ‘Mimpi‘ untuk menjadikan Riau sebagai pusat pengembangan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara nampaknya masih jauh dari kenyataan dan tetap sebagai ‘mimpi indah‘. 

Hal itu dikatakan budayawan Riau DR (HC) Tenas Effendi pada diskusi panel budaya Melayu bertajuk ‘Tanggungjawab media massa di Riau terhadap budaya Melayu‘ yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Riau di gedung Riau Comunication Institute, Rabu (5/9). Selain Tenas turut sebagai pembicara budayawan dan sastrawan Riau Ir Fakhrunnas MA Jabar dan Wakadis Pariwisata Riau, RM Yamin. Acara panel itu sendiri di buka Ketua PWI Riau Drs H Sutrianto.

Menurut Tenas lagi, rancangan untuk mewujudkan ‘mimpi‘ dimaksud walaupun sudah disusun dengan bahasa indah dan sarat teori, namun usaha untuk mewujudkannya masih jauh dari memadai. Setakad ini, upaya ke arah mewujudkan visi dan misi itu masih sangat banyak menghadapi kendala dan permasalahan yang belum teratasi.

Kendala dan permasalahan itu antara lain, upaya penggalian dan penelitian kebudayaan masih amat sedikit dilakukan dan upaya pendokumentasian kebudayaan nyaris terabaikan. Serta upaya penyebarluasan kebudayaan masih sangat terbatas, upaya pembinaan kebudayaan masih jauh dari cukup, upaya pewarisan kebudayaan nyaris belum nampak.

Kemudian, lanjut Tenas lagi, keinginan untuk memasukkan kebudayaan ke dalam kurikulum atau ke dalam muatan lokal, penerbitan buku-buku kebudayaan, pelatihan dan peragaan serta penghayatan dan pendokumentasian masih berjalan lamban, penyebarluasan kebudayaan melalui kerjasama kebudayaan antar daerah, wilayah maupun antar bangsa baru dalam tahap uji coba dan masih jauh dari mencukupi.

Selain itu, kegiatan budaya kebanyakan masih bersifat seremonial. Sehingga belum dapat mengangkat harkat dan martabat budaya Melayu pada tahap yang diinginkan, lembaga-lembaga, organisasi seni dan sebagainya masih belum mampu tumbuh dan berkembang secara memadai. Kalaupun ada, barulah terbatas kepada beberapa organisasi atau sanggar yang mempunyai kerja sama tertentu dengan pihak luar yang mau menjadi ‘bapak angkat atau donatur‘ dan sosialisasi unsur-unsur kebudayaan Melayu masih jauh dari harapan.

”Dari kondisi di atas nampak, bahwa kebudayaan Melayu Riau masih berada dalam tahap pembenahan ke dalam, belum mampu untuk mengembangkan sayapnya secara kokoh keluar. Masyarakat Riau sendiri yang berbilang kaum dan suku bangsa masih banyak belum memahami kebudayaan Melayu, karena masih kurangnya sosialisasi dan publikasi serta lembaga-lembaga pendidikan yang benar-benar berperan dalam penyebarluasannya,” kata Tenas.

Tenas menambahkan, dengan ‘turun tangannya‘ media massa dalam upaya mengembangkan kebudayaan dan pencapaian visi dan misi kebudayaan Melayu di Riau, apa yang menjadi harapan selama ini akan dapat diwujudkan. “Mudah-mudahan media massa di Riau dapat dijadikan contoh dalam upaya bersama mengangkat kebudayaan sebagai salah satu khasanah budaya bangsa, sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa yang berbudaya, bangsa bertemadun tinggi serta berjatidiri kebangsaan,” harapnya

Sumber : Riau Pos
Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Dibaca : 4.575 kali.

Tuliskan komentar Anda !