Close
 
Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 2.038
Hari ini : 13.187
Kemarin : 21.335
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.293.729
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

18 oktober 2007 04:45

Meriam Bambu, Nuansa Khas Malam Lebaran di Pidie

Meriam Bambu, Nuansa Khas Malam Lebaran di Pidie

Pidie-Setiap daerah di tanah air tentunya memiliki keunikan tersendiri dalam menyongsong dan menyambut hari raya. Seperti halnya di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, rasa haru dan gembira terlihat tatkala memasuki bulan Syawal. Sekitar sepekan lagi menjelang hari raya, secara bersahaja anak-anak dan remaja, bahkan para pemuda di sana menyiapkan sesuatu agar pada malam lebaran tampak lebih meriah. Mereka main `perang-perangan` dengan beude trieng.

Nuansa khas yang sudah dilakoni warga menjelang Lebaran tiba, yaitu te`t beude trieng (meriam bambu). Dimana suara dentuman memeriahkan suasana. Tidak diketahui pasti, kapan permainan meriam bambu itu mulai dan bagaimana latar belakangnya. Yang jelas, kegemaran anak-anak dan pemuda desa sudah tumbuh dan berkembang sejak lama sekali.

Sungguh pun disebutkan permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan kaula muda, tapi ada kalanya juga ikut melibatkan orang dewasa, bahkan terkadang mereka yang sudah lanjut usia sekalipun. Boleh jadi mereka yang berjiwa muda itu hanya membantu biaya operasional, semisal untuk membeli BBM (bahan bakar minyak) berupa bensin atau minyak tanah.

Permainan ini memang butuh biaya besar untuk beli BBM. Sementara pengadaan senjata beude trieng mudah sekali didapat tanpa harus mengeluarkan duit. Karena biasanya, pemilik pohon bambu ikut menyumbangnya. Sebab, keuntungannya rumpun bambu atau lingkungannya menjadi bersih. Bagian pangkal dari batang bambu sepanjang 2,5 meter itulah yang diambil untuk dijadikan meriam.

Sebagian warga merindukan suasana tersebut. Apalagi permainan itu hanya dilakukan setahun sekali. Ketika negeri ini dilanda konflik, dentuman meriam bambu menghilang. Tak ada yang berani bermain meriam bambu. Selain meriam bambu juga dimainkan meriam pipa dengan menggunakan karbit.

Prinsipnya sama, batang bambu diganti dengan pipa besi atau menjeng yang lazim dipakai sebagai gorong-gorong berdiameter lima hingga tujuh inci. Hanya saja, menggunakan karbit dentumannya jauh lebih besar dan kedengarannya bisa mencapai radius dua sampai tiga kilometer.

Di Pidie, yang lebih semarak permainan `perang-perangan` dengan meriam bambu dan karbit, antara lain di kawasan Garot Kecamatan Indrajaya, Pidie dan Kecamatan Delima.

Ketiga wilayah yang berada di pinggiran Krueng Baro itu, pada malam hari raya cukup semarak. Sebagian besar warga tak tertidur dibuatnya lantaran suara dentunan semalam suntuk. Sementara di Pidie Jaya, juga berlangsung di hampir semua kecamatan. Tapi, yang meriah di Meureudu dan Meurah Dua. Meliputi Desa Meunasah Lhok, Dayah Usen, Lhoknga, Pante Beureune, dan sebagian Teupin Pukat.

Di Garot Indrajaya, kancah `perang` terbesar terjadi di Desa Kubang, Jurong Kupula serta Desa Blang dan sekitarnya. Sementara di Kecamatan Pidie dan Delima, antara lain di Desa Ulee Cheue Keulibeuet, Tumpok Laweueng, Kong Kong, Ulee Utueu, Keutapang serta Gampong Are. Ratusan meriam bambu sengaja diletakkan pada sejumlah panggung dengan ketinggian sekitar tiga atau empat meter. Belum lagi puluhan pipa besi menggunakan karbit yang ditanam berjejer.

Beberapa pemuda setempat kepada Serambi mengatakan, kecuali saat konflik, dentuman meriam bambu sunyi senyap pada malam hari raya, sementara dalam dua tahun terakhir ini rutinitas tersebut kembali menggema di wilayahnya. Diakui, jika permainan itu tak lebih hanya sebagai hiburan semata. “Rasanya kurang semarak tanpa bunyi beude trieng pada malam hari raya,” sebut seorang pemuda di Desa Blang Garot Indrajaya.

Sumber: www.serambinews.com
Kredit foto : www.bbc.co.uk


Dibaca : 2.167 kali.

Tuliskan komentar Anda !