Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
02 november 2007 04:28
Penerima Anugerah Sagang 2007 Diumumkan
Pekanbaru- Setelah melalui proses panjang dan perdebatan sengit, akhirnya para dewan juri mengumumkan para penerima Anugerah Sagang 2007. Banyak kejutan yang terjadi pada fase ini. Seperti yang disampaikan perwakilan dewan juri Kazzaini Ks, hampir semua nominator nilainya berimbang. Ini bila dilihat dari rekapitulasi penilaian yang meliputi beberapa aspek, seperti kualitas, penyajian, pengaruh, dan karya.
Adapun penerima Anugerah Sagang 2007 dibagi ke dalam tujuh kategori. Untuk kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2007, dewan juri memilih UU Hamidy.
Nama budayawan ini memang sempat meredup dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan kondisi kesehatannya yang memburuk. Namun seniman, budayawan, dan ahli Melayu manapun tak bisa memungkiri keberadaan dan kapasitas UU Hamidy dalam dunia Melayu. Selain sudah berhasil menerbitkan puluhan buku dan menjadi referensi utama para seniman dan budayawan, UU Hamidy juga dikenal sebagai pria yang tunak mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan kebudayaan Melayu.
“Bahkan di usia lanjutnya dan dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, UU Hamidy juga masih sempat menulis. Riau sangat bangga mempunyai putra seperti Beliau,” kata Kazzaini.
Sedangkan untuk kategori Buku Pilihan Sagang, dewan juri memilih Trombo Rokan, Buku Besar Alam Manusia dan Budaya Melayu Rokan yang ditulis Taslim F Datuk Mogek dan Junaidi Syam. Buku ini termasuk baru di dunia Melayu, yaitu sebuah ensiklopedi tentang kehidupan masyarakat Melayu, terutama Melayu Rokan. Penulis dinilai sangat cermat, dan pencetakannya juga hebat.
“Tahun ini banyak buku hebat diterbitkan di Riau. Namun Trombo Rokan ini akan menjadi monumen sejarah baru dalam perbukuan di Riau,” tambah Kazzaini.
Perdebatan yang cukup sengit terjadi pada pemilihan kategori Karya Non Buku/Alternatif Pilihan Sagang. Setelah melalui perdebatan sengit dan adu nilai yang sangat kompetitif, akhirnya dewan juri yang terdiri dari sastrawan, pelukis, praktisi pers, dan lainnya itu, memilih Opera Tun Teja sebagai penerima anugerah. Ini mengingat penampilan Opera Melayu ini, ternyata berhasil membuka cakrawala dunia terhadap dunia seni pentas Melayu. Opera Tun Teja juga sudah berhasil menjadi buah bibir orang Riau saat dipentaskan selama tiga hari di Anjungan Idrus Tintin, Bandar Serai, beberapa waktu lalu.
Untuk kategori Institusi Budaya Pilihan Sagang, dewan juri memilih Geliga. Grup musik yang mengusung jazz Melayu ini dinilai tampil dengan kecemerlangannya. Aliran jazz yang masih awam bagi sebagian orang ini, berhasil dibancuh dengan baik sehingga menjadi tampilan menawan. Nilai utama yang diberikan kepada Geliga karena mereka berhasil memasukkan unsur Melayu dan mengeksplorasi dengan baik nuansa Melayu ke dalam aliran musiknya.
Untuk Seniman/Budayawan Serantau Pilihan Sagang, tahun ini diberikan kepada Asrizal Nur. Pria Melayu Riau yang sudah lama menetap di Jakarta ini dikenal sebagai seniman bukan dalam satu atau dua tahun terakhir, melainkan sudah puluhan tahun. Asrizal Nur bukan hanya tunak dalam berkarya yang sifatnya karya personal, tapi juga telah berhasil membuka peluang bagi seniman Riau untuk tampil di tingkat nasional, bahkan tingkat internasional. Asrizal juga berhasil membuka mata Jakarta, dan dunia, untuk memandang dan memberikan apresiasi terhadap Melayu Riau.
“Dulu Jakarta, terutama Taman Ismail Marzuki, adalah menara gading bagi seniman Riau. Dulu Riau adalah hal yang masih asing bagi orang Jakarta atau dunia. Namun melalui berbagai even dan cara yang digunakan Asrizal, semuanya jadi lebur,” kata Kazzaini lagi.
Sedangkan Karya Jurnalistik Budaya Pilihan Sagang, tahun ini jatuh pada tulisan Ilham Khoiri dengan judul Metamorfosis Zapin Melayu. Tulisan Ilham Khoiri ini berhasil meneropong dan merekam dengan jelas zapin di Riau sehingga memberi pencerahan akan pentingnya melestarikan kesenian ini.
Satu-satunya kategori yang dipilih secara aklamasi adalah kategori Karya Penelitian Budaya Pilihan Sagang. Kategori yang baru dibuka pada tahun ini, memilih Arab Melayu 101 (Program Penulisan Arab Melayu) karya Yahya Anak Rainin, Muhammad Arif, dan Jelprison. Para dewan juri berharap, para peneliti di Riau kembali serius dalam mengadakan penelitian budaya. Karena, saat ini minat untuk mengadakan penelitian itu memang terkesan menurun.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sagang H Rida K Liamsi menyebutkan, pemilihan penerima Anugerah Sagang 2007 ini memang bertujuan untuk memberi apresiasi dan stimulasi kepada seniman, budayawan, institusi di Riau berbuat lebih banyak untuk kebudayaan Melayu. Di tengah hegemoni kebudayaan saat ini, kebudayaan Melayu memang harus selalu dipertahankan dan dikembangkan.
“Bagi seniman, budayawan, buku, institusi, atau siapapun nominator yang belum terpilih tahun ini, itu bukan berarti mereka tak layak mendapat anugerah. Mereka semua sebenarnya layak diberi anugerah karena sudah berbuat sangat banyak terhadap Melayu. Kami juga berharap, ke depan kita lebih giat dalam berkreativitas,” kata Rida.
Menurut rencana, penyerahan Anugerah Sagang ini, akan diadakan pada 26 November 2007. Panitia pelaksana saat ini sedang mempersiapkan segala keperluan dan menata acara malam anugerah itu sebaik mungkin.
“Kalau berniat, insyaAllah, pemberian Anugerah Sagang 2007 kali ini semakin lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Ketua Panitia Pelaksana Raja Isyam Azwar.