Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.034
Hari ini : 16.271
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

21 februari 2008 07:55

Politik Gaya Hidup Masyarakat Melayu Muslim di Hatyai-Thailand Selatan

Politik Gaya Hidup Masyarakat Melayu Muslim di Hatyai-Thailand Selatan

Yogyakarta, MelayuOnline.com. Rabu siang (20/2/2008), MelayuOnline.com mengundang Direktur Pusat Studi Sosial dan Asia Tenggara (PSSAT) UGM, Dr. Aris Arif Mundayat, sebagai pembicara pada acara diskusi dwimingguan dengan tema “Politik Gaya Hidup Masyarakat Melayu Muslim di Hatyai-Thailand Selatan”.

Dalam diskusi siang itu, Aris membuka dengan uraian mengenai setting sosial masyarakat Melayu Muslim yang tinggal di Hatyai, Thailand Selatan. Menurutnya, masyarakat Melayu Muslim di daerah ini merupakan minoritas yang hidup di tengah-tengah masyarakat Thai dan China perantauan yang pada umumnya beragama Budha. Sebagai etnis minoritas, baik secara budaya maupun agama, masyarakat Melayu Muslim seringkali mengalami diskriminasi, baik secara struktural (politik) maupun kultural.

Oleh karena menghadapi diskriminasi tersebut, masyarakat Melayu Muslim melakukan perlawanan melalui gaya hidup (life style). Menurut Aris, life style tidak sekedar cara hidup yang tak bermakna, tetapi juga menjadi cara untuk melakukan perlawanan terhadap diskriminasi yang mereka alami. “Di Thailand, terdapat kebijakan umum bahwa semua orang Thailand harus bisa berbahasa Thai dan mempunyai nama Thailand. Selain itu, ada juga anggapan masyarakat bahwa menjadi orang Thailand sudah selayaknya pula beragama Budha (being Thai is being Buddhis),” ungkap Aris. Lebih lanjut ia menjelaskan, “kondisi tersebut menuntut masyarakat Melayu Muslim di Hatyai, khususnya para orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak-anaknya, memperkuat identitas diri dengan melakukan beragam bentuk resistensi.” 

Bentuk resistensi masyarakat Melayu Muslim di Hatyai dapat dilihat pada simbol budaya material dan life style-nya. Simbol resistensi budaya material dapat dilihat dari bangunan masjid, institusi sekolah keagamaan hari minggu untuk anak-anak, bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi, restoran, dan pakaian. Sedangkan, pada life style-nya dapat dilihat, misalnya, pada label halal pada setiap makanannya dan tidak bersedia membungkukkan badan di hadapan patung atau foto raja Thailand. Semua bentuk resistensi tersebut merupakan wujud dari semangat melindungi identitas kultural dan agama masyarakat Hatyai dari hal-hal yang dianggap mengancam atau dapat melunturkan jatidiri mereka sebagai bangsa Melayu-Islam.

Dalam penutup diskusi yang berakhir pada pukul 16.00 WIB tersebut, Aris menyatakan bahwa praktek gaya hidup masyarakat Melayu Islam di Thailand merupakan counter terhadap kondisi yang menyebabkan mereka terminoritaskan. “Masyarakat Melayu Islam di Hatyai mengalami triple minority, yaitu political, economic, dan religion minority. Secara politik, masyarakat Melayu Muslim terhimpit oleh kebijakan Thailandisasi. Dalam bidang ekonomi, mereka tidak mampu mengakses ekonomi industri, sedang dalam bidang keagamaan mereka mengalami diskriminasi dalam hal ekspresi dan eksistensi keagamaan. ”Karena praktek diskriminasi tersebut, maka masyarakat muslim di Thailand secara sadar melakukan perlawanan melalui simbol-simbol materialnya, seperti mengenakan jilbab yakni pakaian khas Islam untuk kaum wanita,” kata Aris mengakhiri diskusi. (HK/brt/01/02-08)


Dibaca : 5.776 kali.

Tuliskan komentar Anda !