Close
 
Minggu, 3 Mei 2026   |   Isnain, 16 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 108
Hari ini : 9.476
Kemarin : 19.785
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

11 juni 2008 14:46

Tamadun Melayu Perkukuh Hubungan Malaysia-Indonesia

Jakarta- Hubungan diplomatik Malaysia-Indonesia diperkukuh dan dipereratkan oleh keserumpunan Melayu. Warisan tamadun, budaya dan bahasa Melayu memantapkan hubungan Malaysia-Indonesia dan Islam menjadi ajaran serta panduan kehidupan keseharian.

Dasar antarbangsa dan diplomatik kedua negara dari rumpun Melayu ini menjadi tulang punggung dan memantapkan stabilitas negara-negara dalam ASEAN. Hal itu diungkapkan Prof Datuk Dr Abdul Latiff Abu Bakar, budayawan dan guru besar Universiti Malaysia, pada senimar internasional Peranan Bugis dalam Pengembangan Alam Melayu Raya, Selasa (10/6) di Jakarta. "Di Malaysia banyak turunan masyarakat Bugis. Sultan Selangor adalah pewaris kuat dari Raja Bugis dan pembesar-pembesar Pahang juga keturunan Bugis," katanya.

Abdul Latif juga mengemukakan bahwa sejak abad ke-18, pemerintahan negeri Johor banyak bergantung kepada kepahlawanan orang-orang Bugis. Bahkan mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak adalah keturunan Bugis Makassar, keturunan Sultan Abdul Jalil atau Mappadulung Daeng Manttimung Karaeng Sanrobone, Raja ke-15 di Kerajaan Goa. "Sejak Tuanku Abdul Rahman menjadi Perdana Menteri Malaysia hingga kepemimpinan Dato Seri Abdullah Ahmad Badawi, pemikiran politik dan hubungan diplomatik Malaysia-Indonesia senantiasa diperkukuh dan dipereratkan," tandasnya.

Abdul Latiff juga mengungkapkan bahwa Dato Seri Najib Tun Razak yang mendapat gelar Doktor Kehormatan dalam bidang Ekonomi Politik di Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia, 10 September 2007 lalu, adalah keturunan Bugis yang selalu diberi tanggung jawab oleh Perdana Menteri Malaysia untuk menjalin hubungan erat Malaysia-Indonesia. Menurut Abdul Latif, sebagai anak Bugis, Tun Abdul Razak dan Dato Seri Najib tetap berpegang kepada ajaran Islam dan falsafah Melayu-Bugis, yang dijadikan panduan untuk berjuang dalam kegiatan politik, pemerintahan, pentadbiran, dan kemasyarakatan di Malaysia.

Sumber: Kompas.com (10 Juni 2008)


Dibaca : 3.247 kali.

Tuliskan komentar Anda !