Selasa, 21 April 2026   |   Arbia', 4 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.529
Hari ini : 22.523
Kemarin : 49.931
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 februari 2008 04:05

Sedekah Desa Kampung Jawa Tengah

Muda Mahendra: Budaya Tak Bisa Dipolitisasi

Pontianak- Muda Mahendrawan, salah seorang konseptor Pembentukan Kabupaten Kubu Raya mempertegas budaya bukan sesuatu yang dapat dimanfaatkan sebagai ajang berpolitik.

Hal itu dikatakan dia saat menghadiri kegiatan Sedekah Desa di Desa Jawa Tengah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat, 22 Pebruari.

“Budaya tak boleh dipolitisasi apalagi dikait-kaitkan dengan etnis. Kubu Raya sangat heterogen dan memiliki berbagai macam budaya yang berbeda. Ini yang berpotensi pada sulitnya mencari penyelesaian ketika terjadi benturan, jika budaya dimanfaatkan dalam ajang politik,” ujar Muda.

Dia meminta jangan sampai nantinya terdapat pihak yang merasa termarjinalkan, karena pemerintah tak berdiri di atas berbagai macam budaya yang tumbuh dan berkembang di Kubu Raya. Pemerintahan Kubu Raya diharapkan dia memiliki komitmen terhadap semua budaya dan memandang sama kedudukan budaya tersebut satu sama lain.

Sedekah Desa sendiri dilakukan Masyarakat Desa Jawa Tengah dalam rangka syukuran pesta panen yang berlangsung tahun ini. Kegiatan dilangsungkan di Komplek Madrasah Ibtida`iyah Al-Kautsar Jalan Trans Kalimantan, dengan dihadiri ratusan masyarakat di desa tersebut.

Yang menarik, ketika rombongan Muda mendatangi pusat pelaksanaan kegiatan, rombongan telah disambut sekelompok pemuda yang memainkan tarian Barong Singa.

Beberapa puluh meter perjalanan mesti ditempuh, sebelum menginjakkan kaki di tempat berlangsungnya acara. Kegiatan sedekah desa sendiri ternyata bermakna memberi makan secara gratis kepada seluruh warga desa. Maka tak heran, tidak sedikit masyarakat yang hadir berduyun-duyun mendatangi komplek sekolah. Terutama sekali menyesaki salah satu lokal yang dijadikan tempat suguhan kenduri.

Menarik memang, meskipun terkesan memberi makan kepada warga. Namun makanan yang dibagikan juga dibawa oleh masing-masing warga yang kemudian diikhlaskan untuk dibagikan secara acak.

Yang membedakan suguhan tampilan makanan yang diperuntukkan bagi warga serta undangan tersebut. Seluruh makanan terkemas dan terbungkus dalam sebuah daun pisang. Makanan-makanan itu bisa berupa jajanan pasar atau nasi beserta lauk-pauknya yang dikemas sedemikian rupa.

Tentu saja suguhan makanan tersebut sangat menunjukkan khas masyarakat Jawa. Tidak heran terdapat lalapan daun singkong, sayur urap, pekyek, kering tempe, serta makanan-makanan lain. Bentuk kendurian seperti ini menjadi ketertarikan sendiri bagi anak-anak desa untuk berkumpul dan berebutan makanan. Duduk dan makan secara lesehan, kemudian lauk-pauk dibagikan untuk melengkapi penganan yang telah dipegang menjadi warna tersendiri dalam pesta tersebut.

Sebelum makan, seluruh undangan harus mendengar telebih dahulu suguhan kata sambutan dalam Bahasa Jawa. Kemudian tentu saja kegiatan yang sangat dinantikan seluruh undangan tersebut dimulai dengan membaca doa. “Sedekah desa adalah salah satu kekayakan budaya milik Kubu Raya. Jika dipolitisasi, bukan tidak mungkin nantinya justru mengancam kebersamaan,” kata Muda.

Sumber : www.pontianakpost.com


Dibaca : 2.402 kali.

Tuliskan komentar Anda !