Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 896
Hari ini : 20.195
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

18 april 2008 05:09

Sataruddin, Dewan Juri Pantun Serumpun ASEAN

Sataruddin, Dewan Juri Pantun Serumpun ASEAN

Pontianak- Bukan saja para pelantun budak-budak Pontianak dan Kabupaten Pontianak yang akan meramaikan kegiatan lomba (peraduan) Pantun Serumpun Melayu se-Asia Tenggara (ASEAN) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 25-29 April 2008 nanti, yang digelar Yayasan Panggung Melayu (YPM). 

Salah satu budayawan Kalbar, Sataruddin Ramli, juga dipercaya sebagai dewan juri dalam lomba pantun berskala internasional itu. Ketua Bidang Pelestarian Adat Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar ini ditunjuk sebagai dewan juri mewakili Indonesia bagian Tengah. 

“Yang jelas, ini sebagai penghormatan bagi MABM dan Kalbar. Dan, saya sendiri dewan juri dari Kalbar mewakili Indonesia Tengah. Apalagi kegiatan ini dalam mengangkat marwah Melayu dan memperkuat jati diri serta memperkenalkan kekayaan seni berpantun,” tegas Sataruddin Ramli dijumpai di Rumah Adat Melayu, didampingi Ketua Umum MABM Kalbar, Datok H Abang Imien Thaha, dan Sekretaris Umum Drs H Rusman Namsurie, kemarin. 

Sesuai jadwal ada sembilan kegiatan yang akan ditampilkan, di antaranya peraduan pantun, pencatatan rekor berpantun terlama, cerdas cermat pantun, eksibisi pantun, kajian pantun atau kedai pantun, pameran foto, launching buku negeri pantun, serta opera pantun. 

Mengenai peraduan pantun serumpun se-Asia Tenggara ini, selain diikuti puak Melayu sebagai peserta dari Indonesia, juga dari Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan. Bahkan, Wali Kota Pontianak, H Buchary A Rachman juga diundang untuk meramaikan Parade Pantun Majelis, salah satu paket acara dalam Pantun Serumpun Melayu. 

“Pantun Majelis ini dimaksud adalah pantun yang sering digunakan atau dibawakan pejabat Melayu, tokoh masyarakat dalam menyampaikan pidatonya, baik dalam acara formal maupun informal,” terang Sataruddin yang juga Ketua Bidang Produksi Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB). 

Dia menilai, peraduan pantun serumpun tersebut memang patut didukung semua pihak, lantaran dalam gawe ini secara tidak langsung mempererat dan mempersatukan bangsa-bangsa di Asia Tenggara melalui kesenian berpantun. “Ajang bergengsi ini adalah untuk menjunjung marwah bangsa dan marwah Melayu,” kilah Sataruddin. 

Kaitan hal itu, dedengkot Teater Mendu ini mengharapkan pemerintah daerah ini, juga dapat mengadakan kegiatan serupa itu, dalam upaya melestarikan seni berpantun, agar tak punah termakan zaman di era globalisasi. Bahkan, Sataruddin mengharapkan seni pantun dapat menjadi ikon kebudayaan di Kalbar, makanya perlu dilestarikan. 

“Pantun dapat dijadikan sebagai media sosial kontrol, dakwah, dan tuntunan sosial, seperti yang sering kami lantunkan dalam pementasan cerita-cerita tradisional melalui seni panggung Teater Mendu,” papar Sataruddin seraya berpesan sebagai dewan juri peraduan pantun serumpun, dirinya tetap bersikap netral dan adil dalam memberikan penilaian, walau ada dua kelompok pantun dari Kalbar yang ikut bertanding.

Sumber : www.pontianakpost.com (18 April 2008)
Kredit foto : Buku-buku koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Dibaca : 3.166 kali.

Tuliskan komentar Anda !