Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 juli 2008 03:13
Laras Bahasa, O atau U, Mana Suka?
Lampung- Seorang penyair menulis esai dengan sebuah kalimat begini: "Dalam keharuan di sekitar sajak-sajak yang serba gerak, maka tampak serba guyah". Seorang ahli bahasa pernah menulis di sebuah koran lokal: "Bahasa Indonesia sekarang tampak goyah".
Guyah atau goyah? Bahasa Indonesia memang masih labil karena selain dari segi usia yang baru 80 tahun (28 Oktober 2008 nanti), juga karena banyak faktor ditentukan faktor kultural dan politik. Sejak 1972 melalui penyempurnaan ejaan masih saja ada yang kesulitan menentukan mengapa ada penulisan guyah dan goyah. Maka, arah ejaan dan penulisan kosakata bahasa Indonesia kini menjadi tidak jelas.
Banyak kosakata yang mengandung huruf u atu o yang membingungkan lantaran tidak jelas mana yang harus diikuti. Belum lagi banyak yang salah tulis untuk nama orang yang berakhiran o, seperti nama Octavio dan Prasetyo menjadi Octavia dan Prasetya. Saya ingat Umar Kayam yang tetap menulis Gunawan Muhamad dan bukan Goenawan Mohamad. Lalu bagaimana sikap kita? Biasa-biasa saja, agaknya, tanpa rasa bersalah apalagi menyesal. Tapi mereka yang terlampau ketat soal penulisan nama orang, mungkin menganggap penulisan nama yang sudah baku itu gegabah, salah.
Bahasa Indonesia berkembang bukan dari bahasa pasar sehingga dalam perjalanannya cenderung gamang dan seragam. Berbeda dengan bahasa Prancis yang lahir dari bahasa pasar dan berkembang secara bhinneka di bagian utara dan bagian selatan, seperti keterangan klasik Ferdinand de Saussure dalam buku Pengantar Lingusitik.
Wajar bila ada yang menganggap bahasa Prancis bahasa kreatif, sedang bahasa Indonesia rigid, kaku, mengandung keragu-raguan. Amuk atau amok? Amuk bahasa Melayu, amok bahasa Inggris yang konon menyerap dari bahasa Melayu. Tapi masih saja ada yang menulis berkali-kali amok yang dianggap bahasa Indonesia.
Mungkin betul bahwa ke-bhinneka-an bahasa terletak pada ruang dan waktu. Keanekaragaman dialek, lingkungan, iklim, tanah, tradisi, menjadikan bahasa tidak tenang dan akan terus gelisah dan cemas, hingga akhirnya laur. Dari u menjadi o lalu u lagi, mana yang benar? Cukup banyak kosakata dalam bahasa Indonesia yang telah mengalami guncangan bagi pemakainya, karena lingkungan penggunanya mengalami ketidaktentuan, ketidakpastian, dan selalu dirundung ragu.
Dapat dibenarkan bila para ahli bahasa beranggapan penutur bahasa Indonesia sedang guncang. Apakah guyah atau goyah, goyang atau guyang, hojat atau hujat, mabuk atau mabok? Ia berdiri kukuh, pendiriannya kokoh? Dapatkah kita memastikan penulisan mana yang benar sesuai dengan EYD? Sebelum EYD, banyak pengarang menggunakan kata guyah, mulur, guyang, amuk, hujat. Ketika EYD, ternyata berubah menjadi serba-o. Penulis yang dibesarkan dalam khazanah Melayu, mungkin lebih nyaman menggunakan huruf u ketimbang o. Tapi banyak penulis-penulis Riau, Minang, Lampung, Jambi, ternyata rame-rame menggunakan o.
Penulis yang berlatar Jawa konon lebih sering menggunakan o ketimbang u. Kesimpulan ini tidak betul seluruhnya karena beberapa penulis yang bahasa daerahnya Jawa masih menggunakan u untuk kata guyah, guyang, kukuh. Orang yang termakan hasutan adanya proses "Jawanisasi" bahasa Indonesia sejak zaman Orde Baru sampai kini, menganggap penggunaan o adalah bentuk Jawanisasi bahasa Indonesia yang paling eksplisit.
Pandangan terakhir ini sulit ditolak. Walau yang terjadi sesungguhnya bukan Jawanisasi bahasa Indonesia, Sansekertanisasi, dan Arabisasi. Namun, dominannya penggunaan kosakata Jawa dalam kamus-kamus bahasa Indonesia, sulit mengingkari sumbangan bahasa Jawa dalam melakukan pergeseran penulisan kosakata. Bukan maksud saya menganggap bahasa Indonesia keruh akibat masuknya kosakata Jawa, melainkan sejak Orde Lama memang bahasa Jawa tampak begitu dominan digunakan dalam tulisan.
Menyerap huruf, logat, dialek, dan kosa kata hingga struktur kalimat dari berbagai cenayang daerah di bumi Nusantara, tidak ada salahnya, bahkan terbukti bisa memperkaya bahasa Indonesia. Namun sayangnya hanya segelintir bahasa daerah yang menyumbang kekayaan bahasa Indonesia. Bahasa Lampung, Minahasa, Manado, Nusa Tenggara Timur, Papua, hampir tidak menyumbang bagi penulisan kamus-kamus bahasa Indonesia sampai hari ini. (Asarpin)
Sumber :www.lampungpost.com (23 Juli 2008) Kredit foto : rinurbad.multiply.com