Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 2.110
Hari ini : 25.276
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

29 juli 2008 13:26

Kunjungan dari Keraton ke Keraton Buahkan Nota Kesepahaman

Kunjungan dari Keraton ke Keraton Buahkan Nota Kesepahaman

Pontianak, MelayuOnline.com— Lawatan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra. SH., MM., serta enam  kru ke beberapa keraton di Kalimantan Barat (Kalbar) membuahkan banyak hal, salah satunya penandatanganan Nota Kesepahaman dengan dua keraton, yaitu Istana Kadriah Kesultanan Pontianak serta Keraton Ismahayana Landak. Selain dengan dua keraton tersebut, Nota Kesepahaman juga dilakukan antara BKPBM dan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar.

Perjalanan yang berlangsung antara tanggal 19—24 Juli 2008 tersebut sedianya untuk menghadiri Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat V tahun 2008. Namun, untuk memaksimalkan waktu yang ada, para kru menyempatkan diri berkunjung dan mencari data ke beberapa keraton Melayu di Kalbar, seperti Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Keraton Surya Negara Sanggau, Istana Almukarramah Sintang, serta Istana Mahayana Landak. Dari silaturrahmi dengan para pemangku keraton itulah terbit keinginan untuk meneguhkan kerjasama ke dalam Nota Kesepahaman.

Sejak awal, Mahyudin Al Mudra telah berpesan bahwa kunjungan kali ini harus membuahkan kerjasama dengan para pemangku keraton di Kalbar. “Ini merupakan salah satu upaya BKPBM dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu yang terpusat di keraton-keraton,” tegasnya. Selain itu, menurut Mahyudin, kerjasama tersebut juga untuk mempopulerkan keraton-keraton Melayu sebagai salah satu destinasi pariwisata di kawasan dunia Melayu. Sebab, segala peninggalan budaya seyogyanya memberi manfaat bukan hanya dari sisi spiritual, melainkan juga dari sisi ekonomi.


Nota Kesepahaman antara BKPBM dengan Keraton Ismahayana Landak dan Istana Kadriah berlangsung pada hari Kamis (24/07/2008) di dua tempat yang berbeda. Nota Kesepahaman dengan Keraton Ismahayana ditandatangani di Restoran Hotel Rahayu, Pontianak, sementara penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Istana Kadriah dilakukan di kompleks Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

Dalam pertemuan penuh suasana kekeluargaan di Restoran Hotel Rahayu, Raja Keraton Landak, Drs. Gusti Suriansyah, M.Si mengatakan, “Saya berharap kerjasama ini akan membawa Keraton Ismahayana dapat berkembang dan dikenal luas oleh semua orang”. Gusti Suriansyah menyadari, pengembangan Keraton Landak tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga perlu kerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya dengan BKPBM.


Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Mahyudin Al Mudra dari pihak BKPBM dan Gusti Suriansyah dari pihak Keraton Landak yang disaksikan oleh Kepala Harian BKPBM, Hadi Kurniawan, S.H.I., Humas BKPBM, Yuhastina Sinaro, serta Yang Dipetua Adat Istiadat Keraton Landak, H. Gusti Machmud Hamid. Di penghujung pertemuan, Gusti Suriansyah sempat memberikan “Induk Lontar Keraton Landak, yang berisi ranji silsilah raja-raja Landak sejak kerajaan berdiri hingga sekarang.

Usai penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Istana Landak, Mahyudin dan para kru meluncur menuju Istana Kadriah untuk menandatangani perjanjian serupa. Ketua Umum Majelis Musyawarah Istana Kadriah, Syarif Selamat Joesoef Al Kadrie tak dapat menyembunyikan kegembiraannya ketika menyambut kedatangan kru BKPBM. “Kami dari pihak Istana Kadriah menyambut baik kerjasama ini. Semoga Balai Kajian (BKPBM—Red.) dapat membantu promosi Istana Kadriah,” tuturnya. Pembicaraan yang hangat antara Mahyudin Al Mudra dan Syarif Selamat Joesoef Al Kadrie kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BKPBM dan Istana Kadriah.


Menyaksikan harapan yang begitu besar, Mahyudin meyakinkan pihak keraton bahwa dengan kerjasama tersebut BKPBM akan berupaya maksimal untuk membantu keraton agar dikenal sebagai situs bersejarah serta sebagai obyek wisata yang layak untuk dikunjungi. “Insyaallah tahun ini kita bisa terbitkan buku-buku sejarah dan buklet keraton-keraton Melayu di Kalimantan Barat ini,“ janjinya.

Pernyataan Mahyudin itu tercermin dalam isi Nota Kesepahaman yang terdiri dari empat poin kerjasama, yaitu kerjasama di bidang promosi keraton, penulisan dan penerbitan buku-buku sejarah keraton, pembuatan suvenir, serta pembuatan maket keraton. Melalui penerbitan buku-buku, buklet, liflet, serta pembuatan suvenir maupun maket keraton, maka promosi keraton-keraton Melayu dapat lebih maksimal. (LS/brt/07-08)

Fotografer: Aam Ito Tistomo


Dibaca : 9.057 kali.

Tuliskan komentar Anda !