Close
 
Minggu, 26 April 2026   |   Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 365
Hari ini : 10.800
Kemarin : 23.172
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

07 agustus 2008 04:01

Pendidikan Multikultur untuk Membangun Kekuatan Budaya

Pendidikan Multikultur untuk Membangun Kekuatan Budaya
Sri Sultan Hamengkubuwono X

Yogyakarta, DIY- Pertemuan antarbudaya dalam globalisasi menjadi ancaman serius bagi peserta didik. Hal itu bisa berakibat kepada anak didik yang tidak memiliki karakter sehingga menjadi anak di sana tidak, di sini pun juga tidak. Karena itu, diperlukan pendidikan multikultur untuk mengembangkan kekuatan budaya bangsa guna menghadapi globalisasi. Hal ini membawa konsekuensi bahwa pendidikan multikultur menjadi penting. Tetapi, harus diakui, pendidikan multikultur memerlukan kajian yang mendalam mengenai konsep dan praksis pelaksanaannya. 

Kita belum mempunyai pengalaman yang memadai dalam pendidikan multikultur, tutur Sultan Hamengku Buwono X, dalam Pidato Kebudayaan berjudul Membangun Sinergi Antarperguruan Tinggi dalam Meningkatkan Daya Saing dan Mengangkat Martabat Bangsa yang disampaikan dalam rangka Konvensi Kampus V dan Temu Tahunan Forum Rektor Indonesia, Senin (4/8) malam di Keraton Yogyakarta.

Sultan mengungkapkan, multikultur di Indonesia merupakan kekayaan yang bisa menjadi modal untuk mengembangkan suatu kekuatan budaya. Dengan mengembangkan keragaman budaya-budaya etnik Nusantara sebagai kekayaan budaya, maka lembaga pendidikan tinggi bisa mengembangkan dialog antarbudaya secara rutin di kampus-kampus sehingga terjadi saling-silang antarbudaya yang diharapkan bisa melahirkan manusia Indonesia baru.

Sultan menuturkan, lembaga pendidikan dasar menengah kini hanya mengajarkan mengenai ujian nasional, sedangkan sikap unggul dari kekayaan multikultur seperti toleransi justru tidak diajarkan. Menurut Sultan, pendidikan tidak hanya proses belajar-mengajar dan sekadar konsep schooling tetapi lebih merupakan proses inkulturasi dan akulturasi, yaitu proses memperadabkan generasi. Lembaga pendidikan tinggi tidak bisa dipahami secara sederhana hanya sebagai tempat belajar-mengajar dalam rangka transmisi ilmu pengetahuan, tuturnya.

Untuk keluar dari putaran turbulensi dan mencapai keberhasilan nasional seperti yang dicapai China, India, atau Malaysia, Indonesia harus menumbuhkan kultur baru, yaitu culture of excellence di semua bidang. Budaya yang bisa dicontoh ialah kerja keras, disiplin, berhemat, menabung, dan mengutamakan pendidikan. Itulah akar-akar tunggang pohon excellence yang namanya etos keunggulan, kepeloporan, kejuangan dan pengabdian untuk membangun sinergi dan mengangkat martabat bangsa, ujarnya. (RWN)

Sumber : Cetak.kompas.com
Kredit Foto :
www.suarapembaruan.com


Dibaca : 3.483 kali.

Tuliskan komentar Anda !