Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
01 november 2008 04:54
Tatik: Jadikan Bahasa Melayu sebagai Bahasa PBB
Jakarta— Peserta Kongres IX Bahasa Indonesia di Ruang Bina Karna Hotel Bumi Karsa Jakarta, Kamis (30/10) yang terdiri dari tokoh sastra, praktisi pendidikan, dan aktivis budaya se-Indonesia memberikan apresiasi terhadap makalah yang disampaikan Wako Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan dalam kongres itu. Perhatian serius juga diberikan Pusat Bahasa Indonesia dan dua pemakalah lain yang tampil bersama wali kota, Melani Budianta dari Universitas Indonesia serta Chairil Effendy dari Universitas Tanjungpura.
Secara langsung keduanya, menyatakan apresiasinya atas upaya pelestarian budaya yang telah berjalan di Tanjungpinang. Makalah yang disampaikan Tatik dalam kongres itu berjudul, Revitalisasi Sastra Melayu Kepulauan Riau sebagai Upaya Pemeliharaan Kebudayaan Lokal. Pengembangan kebudayaan dan sastra Melayu yang berjalan selama ini di kota Gurindam, dipaparkan secara gamblang oleh wali kota.
Disampaikan oleh Tatik dalam makalahnya, adalah tentang perlunya upaya dan dukungan lebih luas untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Menurut Tatik, bahasa dan budaya Melayu memiliki ciri tersendiri dengan berbagai ungkapan-ungkapan.
Tujuannya, untuk memperhalus perkataan dan maksud yang akan disampaikan. Dicontohkannya ketika orang Melayu hendak marahpun, perkataan yang dilontarkan tidak kasar dan memakai bahasa kiasan. Hingga orang yang mendengarnya tidak merasa malu, direndahkan, atau tersinggung.
”Kita patut berbangga, dan bersyukur karena masih ada kepala daerah yang begitu serius dalam melestarikan budaya dan sastra daerah. Sebab salah satu permasalahan yang ditemui dalam upaya pengembangan dan pelestarian budaya daerah, adalah kurangnya perhatian yang serius dari pucuk-pucuk pimpinan pemerintahan,” kata Melani dalam kongres itu sebagaimana disampaikan Kabag Humas Setdako Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim kepada Batam Pos, kamis (30/10).
Menurut Kadir, selain Melani, dosen di Universitas Udayana, Bali, Prof I Nyoman Wedakusuma mengatakan, Melayu dan Bali memiliki kesamaan. Khususnya dalam hal pewarisan naskah-naskah para leluhurnya. Naskah leluhur menyebutkan pemerintahan hendaknya dipimpin oleh pemimpin yang berlandaskan sastra.
Prof Nyoman, ujar Kadir, mengatakan, dia baru mengenal dua pemimpin yang berlandaskan sastra. Di Melayu ada Wako Tanjungpinang, yang buku sastranya sudah dibacanya. Sedangkan di Bali ada pemimpin perang Puputan Badung tahun 1906, yang karya-karya sastranya sudah diterjemahkannya. Sementara, Melani Budianta dan Chairil Effendy, mengatakan, perlunya kearifan lokal dalam penggalian sastra lisan yang berkembang di tanah air. Tidak perlu dipertanyakan darimana dan siapa pemilik sastra lisan. Hingga pengembangan budaya tidak perlu harus terkotak-kotak dan terbatasi oleh perbedaan-perbedaan yang ada.
Pada malam kesenian Kongres IX Bahasa Indonesia itu, Tatik membacakan puisinya yang berjudul Melayukan Aku di depan ribuan undangan, dan mendapat apresiasi luas dari undangan. Bahkan, Kepala Pusat Bahasa Indonesia DR.H Dendy Sugono secara langsung menyerahkan karangan bunga kepada wali kota. (git)