Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 356
Hari ini : 23.702
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 juli 2007 10:40

Di Malaysia, JK Disebut Pemimpin Tersohor: Berbalas Pantun Sebelum Terima Gelar Doktor HC

Di Malaysia, JK Disebut Pemimpin Tersohor: Berbalas Pantun Sebelum Terima Gelar Doktor HC

Kuala Lumpur- Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla kemarin dielu-elukan kalangan senat (konselor) Univeritas Malaya (UM) saat menerima penganugerahan gelar kehormatan doctor honoriscausa bidang ekonomi di perguruan tinggi itu. Malah, JK –sapaan akrab Jusuf Kalla—sempat dipuji sebagai pemimpin yang jujur dan sederhana. Mereka menyebut, JK bukanlah sembarang tokoh.

Ia dinilai telah tampil sebagai pemimpin tersohor di negeri seberang dengan prinsip kepemimpinan yang cemerlang. Ide-ide ekonomi JK, juga menjadi perhatian serius kalangan civitas akademika di kampus tertua di Malaysia ini.

JK menerima gelar doctor HC disaksikan ratusan dosen dan mahasiswa di kampus ini. Acara penganugerahan ini dipimpin Raja Muda Perak Darul Ridzuan, Raja Dr Nazrin Shah. Selain itu, juga hadir dari rombongan JK, masing-masing Mendiknas Bambang Sudibyo, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri PU, Joko Kirmanto, Menteri Hukum dan HAM, Andi Mattalatta, Wakil Ketua MPR RI Aksa Mahmud, dan Koordinator Staf Khusus Wapres, HM Alwi Hamu.

Membalas pujian dari senat Universiti Malaya itu, JK mengungkapkan beberapa bait pantun. Seketika, aula Universiti Malaya menggemuruh lantaran suara tepuk tangan dari undangan yang hadir.

JK menyatakan, dirinya bersyukur atas penganugerahan gelar yang diberikan Universiti Malaya. Ia berharap, hal ini menjadi awal yang baik bagi kerja sama pendidikan Indonesia dengan Malaysia.

Saat memberikan orasi ilmiah yang berjudul arah ekonomi Indonesia dalam konteks global dan regional, JK menekankan pentingnya kestabilan politik dalam rangka membangun ekonomi rakyat. Termasuk, penegakan hukum yang saat ini sedang digalakkan Indonesia.

JK mengakui, Indonesia memang masih bermasalah dalam hal birokrasi dan masalah korupsi. Hanya saja, kata dia, tidak ada satu negara di dunia ini yang dengan begitu cepat bisa memenjarakan beberapa bupati dan gubernurnya akibat perbuatan korupsi. “Ini menandakan, Indonesia sangat serius untuk menegakkan supremasi hukum,” kata JK yang
disambut aplaus undangan.

* JK: Mahasiswa Jangan Cuma Pintar Kritik Anggaran

Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla mengkritik mahasiswa yang selama ini dinilai hanya pandai melakukan pengawasan terhadap roda pemerintahan, khususnya soal penggunaan anggaran pemerintah. Menurut JK, tugas pokok mahasiswa mestinya dikembalikan pada kemauan untuk belajar dan maju, sehingga tidak tertinggal dibandingkan dengan negara lain.

JK mencontohkan Malaysia yang juga pernah dilanda krisis ekonomi, namun bisa dengan cepat recoverynya ketimbang Indonesia. “Resepnya cuma satu, yakni kemauan untuk maju dan terus belajar. Tugas mahasiswa, bukanlah mengingatkan pemerintah, sebab sudah ada lembaga legislatif yang melakukan kontrol,” kata JK di sela-sela dialog dengan mahasiswa Indonesia di Malaysia, saat hari kedua kunjungan JK di Kuala Lumpur, kemarin.

JK yang tak lain Ketua Umum DPP Partai Golkar ini, menyebut, bangsa Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa. Namun, karena keterbatasan SDM, sumber daya alam itu tidak bisa dikelola maksimal. “Masalahnya cuma satu, SDM kita belum siap. Nah, untuk menyiapkan itu, tidak ada harapan kecuali dengan mahasiswa. Kita tidak mungkin berharap dari bangsa lain,” kata JK lagi.

Untuk itu, saat dirinya menjadi menteri koordinator kesejahteraan rakyat di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri, JK telah membuat aturan agar segala infrastruktur di negara ini dikerjakan oleh bangsa sendiri. “Kalau jalan tolnya nanti bengkok-bengkok, nggak apa-apalah. Yang penting, itu dikerjakan bangsa sendiri. Saya tidak mau melihat ada lagi konsultan asing yang mengerjakan proyek-proyek pemerintah,” katanya.

Kepada seratusan mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia, JK juga menyinggung tentang reformasi birokrasi yang sedang digalakkan pemerintah. Reformasi birokrasi itu, kata dia, dimulai dari departemen-departemen yang selama ini dikenal sebagai tempat “basah”.

“Reformasi birokrasi ini termasuk di antaranya pemberian tunjangan yang memadai terhadap pegawai. Misalnya, di Depkeu, khususnya di bagian pajak. Masak gajinya cuma Rp7 juta, tetapi kenyataannya dia mampu mendatangkan keuangan senilai triliunan rupiah. Ini perlu keadilan,” kata JK.

Dalam sesi dialog, Ikbal, seorang mahasiswa program doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia menyoroti rendahnya penghargaan pemerintah terhadap profesi guru. Menjawab hal itu, JK yang baru menerima gelar doctor honoriscausa dari Universiti Malaya, menyebutkan, anggaran pendidikan sebenarnya sudah mendekati angka 20 persen yang menjadi amanah Undang-undang. Saat ini, jika dihitung dengan sekolah-sekolah ikatan dinas dan gaji guru, total anggaran yang dikucurkan pemerintah ke departemen ini sudah mencapai 17,5 persen.

Tahun lalu, hanya mencapai Rp16 triliun, sementara 2007 ini sebesar Rp44 triliun. “Jadi, dari sisi anggaran, tidak ada alasan bagi orang Indonesia untuk tidak pintar. Makanya, saya sarankan ke mahasiswa tidak usah mengkritik soal anggaran pendidikan. Sebab, itu sudah lumayan. Tugas Anda, hanya belajar. Anggaran sudah tersedia,” kata JK.

* Unhas Teken Kerja Sama

Sebelas perguruan tinggi di Indonesia, kemarin menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan pemerintah Malaysia. Salah satu di antaranya, yakni Universitas Hasanuddin, Makassar.

Para pimpinan perguruan tinggi kedua negara ini sepakat untuk menjalin kerja sama yang lebih erat, khususnya dalam peningkatan kualitas pendidikan. Turut hadir dalam penandatanganan MoU ini, masing-masing rektor dari sebelas intitusi pendidikan di Indonesia, di antaranya Rektor Unhas Prof Dr Idrus Paturusi dan Rektor Univeritas Indonesia, Prof Dr Usman Chatib B.

Acara disaksikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dan Menteri Pengajaran Tinggi Malaysia, Mustafa Datok Mohamad. Adapun sebelas perguruan tinggi tersebut, masing-masing UI, Universitas Padjajaran, Univeritas Andalas, Universitas Gadjah Mada, Unhas, Univeritas Muhammadiyah, Universitas Nasional, Undip, Udayana, Universitas Riau, dan Univeritas Haluoleo, Kendari.

Mereka menekan lima poin yang menjadi inti kerja sama kesepahaman ini. Di antaranya menyangkut pertukaran mahasiswa di dua negara ini, pertukaran kegiatan akademik dan pakar masing-masing univeritas, pelaksanaan seminar bersama, bengkel, dan penerbitan bersama.

Menyangkut bidang-bidang yang dikerjasamakan, masing-masing pengajaran bahasa Melayu, kesastraan, sains, hukum, kedokteran gigi, dan ekonomi.

Rektor UI yang mewakili rektor sebelas perguruan tinggi itu menyatakan, kerja sama ini merupakan momentum baru dalam memajukan pendidikan di dua negara ini.

Dengan begitu, akan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang nantinya belajar di Malaysia, begitupun sebaliknya. Sekadar diketahui, hingga saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Universiti Malaya merupakan terbesar keempat dari semua negara. Untuk pascasarjana saja sudah mencapai 357 orang, dan 149 mahasiswa yang mengikuti program PhD. (mal)

Sumber : www.fajar.co.id
Kredit foto : www.tokohindonesia.com


Dibaca : 2.731 kali.

Tuliskan komentar Anda !