Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
17 oktober 2009 04:00
Kembangkan Kesenian tradisional
Berau, Kalimantan Timur - Bupati Berau Makmur HAPK mengaku bangga terhadap perkembangan suku dan budaya yang ada di daerahnya. Berau bisa dikenal dengan sebutan kota budaya atau kota multikultural karena beraneka ragam seni budaya yang ada di tengah masyarakat. Puluhan grup kesenian tradisional berada di Berau mewakili daerah asalnya masing-masing.
Salah satunya kesenian kuda kepang atau kuda lumping asal Jawa Timur (Jatim). Kesenian kuda lumpingcukup lama berkembang di Berau. Bahkan kesenian ini terus berkembang seiring tumbuhnya penduduk asal Jatim yang menetap di Berau melalui program transmigrasi.
Terbukti di Desa Labanan Makarti, Kecamatan Teluk Bayur,kesenian kuda lumping atau jaranan menjadi salah satu daya pikat bagi kampung yang didominasi suku Jawa tersebut. Seperti halnya yang ditampilkan grup kesenian tradisional Chanda Birawa Labanan, Rabu (14/10) lalu di saksikan Bupati Makmur.
Bahkan Makmur sempat menerima penghargaan belangkon (peci khas Jawa) dan didaulat menabuh gendang untuk mengiringi tari kuda kepang. Makmur mengakui bahwa kuda lumping bukan kesenian asli Berau. Namun sebagai warga Indonesia wajib mempertahankan dan melestarikannya agar tidak diakui oleh negara asing.
“Kita harus belajar dari pengalaman sebagaimana terjadi padakesenian reog dan tari pendet yang diakui Malaysia,” ungkapnya.
Berau sebagai salah satu daerah tujuan wisata sangat peduli terhadap pengembangan kesenian tradisional. Terutama dengan terus melestarikan dan menurunkan nilai-nilai seni kepada generasi muda. Salah satu upaya mempertahankan kesenian tradisional adalah dengan sesering mungkin menggelar pentas seni.
Pegelaran seni tak hanya ditampilkan sekadar pagelaran akbar yang dilakukan pemerintah. Namun juga digelar disetiap pesta rakyat, seperti pesta perkawinan, khitanan hingga berbagai kegiatan lainnya.
Pemkab akan melombakan seluruh kesenian tradisional yang ada di Berau pada puncak peringatan HUT Kabupaten Berau, Sabtu (17/10) 2009 mendatang. Perlombaan tersebut sekaligus membuktikan bahwa masyarakat dapat menerima perbedaan dan keanekaragaman budaya. Sementara pemerintah daerah tak pernah mendeskriditkan budaya atausuku tertentu, sehingga semua budaya dan masyarakat dari berbagai daerah dapat hidup berdampingan dan hidup damai di Bumi Batiwakal. (bm3)