Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 523
Hari ini : 801
Kemarin : 18.381
Minggu kemarin : 144.183
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.143.737
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi


1. Riwayat Hidup

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi lahir pada tahun 1797 di Kampong Pali, Melaka, dan meninggal pada bulan Oktober 1854, di Jedah, Arab Saudi. Munsyi Abdullah adalah putera dari Abdul Kadir (meninggal pada 1820 di Melaka). Didikan ayahnya yang keras dalam bidang agama dan pengetahuan umum mengantarkannya menjadi seorang guru bahasa dan mampu menguasai berbagai bahasa, di antaranya bahasa Arab, Tamil, India, Inggris, dan Melayu. Ia adalah tokoh lokal pertama yang menuliskan kehidupan sehari-hari di Malaya yang dipublikasikan pada tahun 1849 (Cornelius-Takahama Vernon, 2001, dalam: http://infopedia.nl.sg/).

Istilah munsyi yang ditulis mendahului atau mengikuti namanya memiliki arti guru atau pendidik. Abdullah adalah keturunan pedagang Arab Hadrami, juga mempunyai darah keturunan Tamil dan juga Melayu. Untuk menghormati latar belakang etnik dan keagamaannya, orang-orang Melayu menyebut Abdullah sebagai Jawi Peranakan atau Jawi Pekan (Anonim, dalam: http://en.wikipedia.org/).

Abdullah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Melaka. Ia mulai belajar menulis pada usia empat tahun dengan “tulisan cakar ayam” yang ia terakan di papan tulis. Ia terserang penyakit disentri ketika berumur enam tahun. Setahun kemudian, sementara teman-teman sebayanya pada waktu itu sudah bisa melagukan ayat-ayat Al-Quran, ia masih belum bisa membaca Al-Quran. Justru ia belajar meniru tulisan-tulisan berbahasa Arab dengan penanya. Abdul Kadir, yang geram atas keterbelakangan anaknya, mengirim Abdullah ke Sekolah Qur’an Kampung Pali (Kampong Pali Koran School).

Masa di Sekolah Qur’an Kampung Pali adalah masa di mana Abdullah harus belajar dengan keras. Ia belajar menulis di bawah pengawasan ayahnya langsung. Abdul Kadir sendiri memang seorang yang berwatak keras. Ia tak segan menyuruh Abdullah untuk menulis nama-nama orang yang dijumpainya di masjid. Ia akan menghukum anaknya jika melakukan kesalahan atau belum sempurna menulis nama-nama itu. Ia juga menyuruh Abdullah menyalin keseluruhan ayat Al-Quran dan menerjemahkan teks-teks Arab ke bahasa Melayu (Cornelius-Takahama Vernon, 2001, dalam: http://infopedia.nl.sg/).

Pada usia sebelas tahun, Abdullah memperoleh uang sebagai upah pekerjaannya menyalin teks Al-Quran. Ini adalah pekerjaan yang pertama kali ia lakukan dan merupakan titik awal bagi karirnya. Tiga tahun kemudian ia mengajar agama bagi sebagian besar tentara muslim India yang ditempatkan di Benteng Melaka. Para tentara menyebutnya munsyi, istilah Melayu untuk guru bahasa, gelar yang kemudian tersemat kepadanya hingga akhir hidupnya.

2. Pemikiran

Memasuki abad ke-19 tradisi intelektual Nusantara memperlihatkan perubahan penting. Hal ini terlihat dari karya-karya yang muncul pada abad ini. Karya-karya tersebut membuka pandangan baru yang lahir sejalan dengan situasi politik serta kondisi sosial dan keagamaan di Nusantatara. Ciri tersebut juga muncul dalam karya dan pemikiran Abdullah. Ia adalah seorang penggagas paham kebangsaan. Melalui karya-karyanya, terutama Hikayat Abdullah, ia mencoba menguraikan rumusan tentang identitas Melayu dan bangsa yang dipahami sebagai suku atau ras Melayu. Munsyi Abdullah menekankan, bangsa Melayu adalah sebuah komunitas yang mempunyai hak untuk terlibat dalam menentukan format politik Melayu, bukan komunitas yang berada di bawah sistem politik dan berbagai ideologi kerajaan (Daniel Arif Budiman, 2010).

Selain itu, karya Abdullah di bidang sastra menjadi tanda pergeseran dari sastra Melayu tradisional menuju sastra melayu modern. Hal tersebut dapat dilihat dari karya syairnya yang penulisannya mulai meninggalkan tradisi pelisanan. Artinya, dalam menulis syair tersebut, Abdullah dengan sengaja memaksudkan syairnya untuk tidak didendangkan sebagaimana syair tradisional semasa. Justru syair tersebut untuk dinikmati dengan dibaca, yang merupakan praktik yang muncul setelah pembaca hidup dengan budaya keberaksaraan (An. Ismanto, 2010, dalam: http://melayuonline.com/).

Sweeney (2005: 15-16) mengungkapkan bahwa Abdullah membawa pembaruan dalam bahasa Melayu, terutama dalam penggunaan konsep-konsep abstrak. Simbiosis dengan para misionaris dan majikan Eropa yang berlangsung selama puluhan tahun membuat Abdullah terbiasa dengan cara berpikir orang terdidik dalam budaya beraksara-cetak. Bahasa “klasik” pada budaya pernaskahan yang berorientas lisan mulai kurang digunakan Abdullah karena tidak lagi sesuai dengan zaman budaya cetak yang berkembang pesat. Selain itu, kebijakan pemerintah kolonial Inggris di Tanah Melayu turut mendorong perkembangan bahasa Melayu, meskipun kolonial berusaha sekuat tenaga menghambat kemajuan orang Melayu.

3. Karya

Ada persoalan yang muncul ketika membicarakan karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Beberapa karya yang ia tulis memang tidak diragukan lagi jati diri pengarang karena nama Abdullah tertera pada setiap tulisan, dan pengarang tetap meletakkan jati dirinya di latar depan. Di samping itu, selama karirnya, Abdullah juga melakukan kerja kolaboratif dengan beberapa misionaris, seperti Thomsen, North, dan Keasberry.

Kerjasama tersebut menghasilkan beberapa buah buku agama Kristen dan pengetahuan umum. Di sini kemudian soal kepengarangan menjadi samar-samar. Kita dapat melihat contoh hal itu pada naskah Cerita Haji Sabar Ali yang menurut Skinner merupakan karya Abdullah, ternyata bukan menurut Amin Sweeney (2005: 8). Sweeney menambahkan, buku tersebut mungkin ditulis oleh Abdullah, namum etos dan pemikirannya berasal dari Keasberry. Kesamaran pengarang tersebut juga terjadi pada Cermin Mata.

Adalah terlalu awal untuk menarik kesimpulan tentang kepengarangan karya kolaboratif ini. Karangan seperti Hikayat pada menyatakan perihal Dunia serta Keadaan dengan Segala Isinya dan Segala jenis Hikayat yang telah Jadi di Negeri Eropa telah diterbitkan berulang-ulang. Judul kedua karangan itu berubah tiap edisi dan tanpa menyebutkan nama pengarangnya. Ketidakjelasan nama pengarang juga tampak pada Hikayat Dunia. Perpustakaan Universitas Leiden, melalui catatan tangan dan eksemplar yang dimilikinya, menganggap Abdullah sebagai pengarang Hikayat Dunia (1848), sementara British Library of Congress menganggap Keasberry-lah yang mengarang Hikayat Dunia (1856) (Amin Sweeney, 2005: 8-9).

Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir menurut Sweeney (2005: 8), yaitu Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai  ke  Kelantan (1838), Syair Singapura Terbakar (1843), Cerita Kapal Asap (1843), Syair Kampung Gelam Terbakar (1847), Hikayat Abdullah (1849), dan Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai ke Mekah (1858-1859). Urutan  karya Abdullah yang disebut tadi disusun berdasarkan tahun terbit bukan tahun penulisan.

a. Dua Kisah Pelayaran Abdullah

Dua kisah yang menceritakan tentang pelayaran Abdullah adalah Kisah pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai ke Kelantan (1838) dan Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai ke Mekah (1858-1859). Dua karya inilah yang menjadi pangkal dan ujung dari karir penerbitan Abdullah. Dua karya tersebut seakan-akan menjadi dua buah kutub yang berbeda dalam jajaran karangannya: mentah dan matang (Sweeney, 2005: 53).

Menurut Sweeney (2005: 54), gaya tulisan prosa Abdullah dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan masih agak kaku dan naif bila dibandingkan dengan kematangan gaya kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah. Sweeney (2005: 57-58) menambahkan, sudah jelas bahwa ada aspek penulisan riwayat sendiri dalam dua Kisah Pelayaran tersebut. Kisahnya dapat dianggap sebagai satu bab kecil dalam pengisahan hidup Abdullah. Namun, penting untuk dicatat bahwa cerita dalam Kisah Pelayaran tersebut ditulis dengan gaya waktu kini. Pengarang menulis peristiwa sehari demi sehari seolah-olah tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esoknya. Padahal, dalam menulis kisah itu, penulis sadar akan keseluruhan ceritanya karena kisah tersebut ditulis satu bulan setelah ia kembali ke Singapura.

b. Dua Syair Kebakaran

Dua syair kebakaran yang dimaksud di sini adalah Syair Singapura Terbakar (1843) dan Syair Kampung Gelam Terbakar (1847). Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menulis Syair Singapura Terbakar pada tahun 1830, tetapi baru menerbitkannya pada tahun 1843. Ini adalah karya paling awal yang pernah diciptakan oleh Abdullah. Karya ini menceritakan peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Singapura pada masa kolonial Inggris (An. Ismanto, 2010, dalam: http://melayuonline.com/).

Sebagaimana dalam Kisah Pelayaran Abdullah, dalam Syair Singapura Terbakar Abdullah juga memunculkan dirinya sebagai tokoh penting. Namun, tidak seperti karyanya yang lain, yang mengandung retotika untuk menguatkan posisi Abdullah di hadapan majikan Eropa yang melindunginya sebagai patron, dalam karya ini Abdullah cenderung bebas dari pengawasan para patron.

Syair Singapura Terbakar cenderung menjadi sebuah karya reportase yang menceritakan apa yang aktual dan faktual. Melalui karya ini, Abdullah seolah hendak mengisahkan hampir semua peristiwa dengan cakupan yang luas, mulai dari suasana Tahun Baru Cina sebelum kebakaran terjadi, peristiwa setelahnya, hingga pembagian harta yang berhasil diselamatkan (An. Ismanto, 2010, dalam: http://melayuonline.com/).

Mengenai struktur puitik, karya ini sekilas tampak ditulis mirip dengan syair tradisional Melayu biasa, namun Abdullah memodifikasi tentang aturan jumlah kata dan suku kata dalam setiap baris. Menurut Sweeney (2006: 68), hanya separuh larik yang mengandung empat kata. Sehingga, syair ini cenderung untuk dibaca secara visual (An. Ismanto, 2010, dalam: http://melayuonline.com/).

Syair kedua setelah penerbitan karya ini adalah Syair Kampung Gelam Terbakar yang bercerita mengenai kebakaran yang terjadi di Kampung Gelam, Singapura, sekitar tahun 1847. Karya ini sering dikelirukan dengan Syair Singapura Terbakar yang terbit lebih dulu.

An. Ismanto (2010), dalam http://melayuonline.com/ menyebutkan dua hal yang menjadi sumber kekeliruan itu. Pertama naskah yang sulit didapat sehingga sulit dilakukan dokumentasi dan kajian. Kedua, kebanyakan sarjana Belanda dan Inggris mendasarkan penelitian mereka pada karya prosa Abdullah, yaitu Hikayat Abdullah (1849). Pengeliruan tersebut berlangsung sangat lama dengan proses pengulangan dari berbagai buku mengenai kesusastraan Melayu oleh sarjana Barat lalu digemakan begitu saja oleh sarjana Melayu sendiri.

Pengeliruan yang dilakukan para sarjana Belanda dan Inggris yang diteruskan oleh sarjana Melayu itu terbantahkan oleh penelitian Sweeney. Penyelidikan yang dilakukan Sweneey (2006) memberikan bukti kuat bahwa Syair Kampung Gelam Terbakar merupakan karya Abdullah yang lain dan berbeda dengan Syair Singapura Terbakar. Sweeney menampilkan teks dasar Syair Kampung Gelam Terbakar dalam bukunya Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 2 Puisi dan Ceretera, 2006, halaman 179-196, berdasarkan cap batu jawi yang dicetak pada tahun 1847 (Sweeney, 2006: 175 dan An. Ismanto, 2010, dalam: http://melayuonline.com/).

c. Cerita Kapal Asap

Terdapat dua edisi dari karya Abdullah yang satu ini, yaitu edisi jawi dan rumi. Berikut deskripsi kedua edisi karya tersebut berdasarkan informasi Sweeney (2006), Gallop (1989:3-4) dan Proudfoot (1993:301) yang dikutip dalam Sweeney (2006: 240).

Edisi Jawi

Judul: Ceretera Kapal Asap

86 halaman (1-86), cetak huruf jawi, halaman berukuran 17,5 x 11 cm.

Penerbit: Mission Press, Singapura; pencetak: Alfred North.

Tanpa tanggal.

Edisi Rumi

Judul: Churtra Kapal Asap

13 halaman (halaman judul, 1-13); cetak huruf rumi, halaman berukuran 18,5 x 10,5, dengan 18 baris per halaman.

Penerbit: Mission Press, Singapura; Pencetak: Alfred North, Kampung Bras Basah.

Tahun 1843.

Terdapat ketidakjelasan tentang identitas pengarang dan tanggal terbit edisi jawi tersebut. Meskipun nama Abdullah tidak disebutkan sebagai pengarang versi rumi atau bagian pertama versi jawi (1-20), Gallop dan Proudfoot sepakat bahwa pengarang karya tersebut adalah Abdullah. Gallop dalam Sweeney (2006: 241) menyatakan, transliterasi edisi rumi patuh pada versi jawi yang asli, sehingga perubahan dalam penyalinan teks sangat sedikit. Selain itu, perbedaan antara kedua teks hanya menyangkut formal dan varian ejaan.

Sweeney (2006: 241) menyepakati pendapat Gallop bahwa versi jawi itu diterbitkan tidak lama setelah kunjungan Abdullah ke kapal asap Sesotris. Menurut Hikayat Abdullah dan Ceretera kapal Asap, kunjungan ke kapal Sesotris terjadi pada 3 Agustus 1841. Abdullah sendiri mungkin mengarang ceretera pada hari itu juga. Sweeney (2006: 241) berspekulasi bahwa meskipun North mengusulkan penulisan karya ini supaya “segala peri penglihatan kita itu” “boleh diketahui oleh orang2 Melayu”, namun setelah “tuan-tuan” menyadari betapa gilang-gemilang penggambaran Abdullah terhadap Angkatan Laut Diraja Inggris, mereka mungkin terdorong untuk menyediakan versi rumi yang lebih mudah diakses orang Eropa.

d. Hikayat Abdullah

Karya ini dapat dikatakan sebagai otobiografi, sehingga membuat hikayat ini istimewa dalam khazanah sastra Melayu. Hikayat Abdullah selesai ditulis pada tahun 1843, namun baru diterbitkan dalam edisi cetak pada 1849 di Singapura dengan menggunakan cap batu. Naskah asli dan terbitan Singapura tahun 1849 sama-sama menggunakan huruf jawi. Kebakaran yang terjadi di rumah Abdullah yang merupakan tempat menyimpan naskah, membuat naskah Hikayat Abdullah sangat langka. Baru pada tahun 1903 kemudian muncul cetak huruf latin yang terutama ditujukan kepada para pelajar di Singapura, Pulau Pinang, dan Semenanjung Malaya (Anonim, dalam: http://id.wikipedia.org/).

4. Penghargaan

Ada berbagai julukan dan sanjungan kepada Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi oleh sarjana kolonial yang kemudian dikiritik oleh Sweeney (2005: 11-14). Oleh Wilkinson misalnya, Abdullah dijuluki “pelopor sastra baru”, Skinner menjulukinya “bapa sastra Melayu modern”, dan menurut Hill “karya Abdullah berguna bagi pelajar Inggris berkat perbendaharaan katanya yang amat luas dan juga karena karya tersebut membicarakan kehidupan sehari-hari”.

Kritik yang diajukan Sweeney adalah tanggapan sarjana Barat terhadap tulisan Abdullah yang berlebihan, sementara mereka menghujat naskah sastra lama sebagai “campuran kacau-balau” ketika merujuk pada kenyataan di luar teksnya. Untuk menguatkan pendapatnya, Sweeney menjelaskan ungkapan Maier (1998: 62)[1], bahwa laporan orang Barat tentang sejarah semenanjung umumnya cenderung diterima betul-benarnya begitu saja. Sebaliknya, teks Melayu mengenai sejarah semenanjung umumnya diterima sebagai catatan sejarah yang tidak benar jika tidak didukung oleh sumber luar. Dan, catatan Abdullah diterima dengan begitu mudah oleh orang Barat, yang kemudian dimasukkan ke dalam golongan “laporan Orang Barat” (Sweeney, 2005: 12-13).  

(Mujibur Rohman/bdy/11/10-2010)

Sumber foto: http://www.pnm.my

Referensi

Amin Sweeney, 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient.

__________, 2006. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient.

An. Ismanto, 2010. “Syair Kampung Gelam Terbakar.” [Online] Tersedia di: http://melayuonline.com [Diakses pada 25 Oktober 2010].

__________, 2010. “Syair Singapura Terbakar.” [Online] Tersedia di: http://melayuonline.com [Diakses pada 25 Oktober 2010].

Anonim, tanpa tahun. “Abdullah bin Abdul Kadir”. [Online] Tersedia di:  http://en.wikipedia.org [Diakses pada 20 Oktober 2010].

__________, tanpa tahun. “Hikayat Abdullah”. [Online] Tersedia di: http://id.wikipedia.org [Diakses pada 27 Oktober 2010].

Cornelius-Takahama Vernon, 2001. “Munshi Abdullah”. [Online] Tersedia di: http://infopedia.nl.sg [Diakses pada 20 Oktober 2010].

Daniel Arif Budiman, 2010. Ideologi Politik Melayu Abad Ke-19 (Studi Komparasi Pemikiran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji). Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.



 

[1] Ungkapan Maier adalah “Western reports about peninsular history had to be falsified, Malay texts about peninsular history had to be verified”.

Dibaca : 9.239 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password