07 februari 2007 23:07
Kisah Orang Melayu di Jerman
Judul: Filmbuehne Am Steinplatz
Penulis : N Marewo
Penerbit: Jendela, Yogyakarta, 2003
Tebal: xxvi + 314 halaman
***
NOVEL ini satu-satunya novel berbahasa Indonesia yang berlatar Jerman yang pernah ditulis oleh novelis Indonesia hingga kini. Ini pilihan berani dan mengejutkan karena "melawan" tren novel atau prosa mutakhir Indonesia yang bermuatan warna lokal Nusantara. Judul novel ini pun terhitung nekat karena menggunakan bahasa Jerman: Filmbuehne Am Steinplatz. Mungkin pilihan judul ini strategi yang terus terang supaya nuansa kosmopolitan muncul sesuai gambaran kehidupan di dalam novel ini dan mungkin juga sesuai dengan harapan novelisnya sendiri.
Filmbuehne adalah sebuah bioskop kecil dengan restoran dan kafe yang lokasinya tak jauh dari sebuah taman kecil bernama Am Steinplatz. Tempat ini biasa disebut Filmbuehne Am Steinplatz. Filmbuehne milik seorang seniman kaya dan sutradara terkenal dan idealis di Hamburg. Di sini hanya diputar film-film nonkomersial yang dianggap bagus dan berbobot. Banyak kaum pendatang dari aneka bangsa bekerja di Filmbuehne sebagai tukang masak, bartender, maupun tukang cuci piring restoran dengan upah kecil. Filmbuehne merupakan miniatur sebagian realitas kehidupan kaum pendatang di Jerman, yang tak diingini oleh banyak orang Jerman yang antipendatang.
Kehidupan di Filmbuehne menjadi latar utama novel ini dan Riski (pendatang dari Indonesia yang di Jerman biasa disebut pendatang Melayu) adalah tokoh utama dan pusat cerita. Sebelum ke Jerman, Riski adalah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta yang kecewa terhadap realitas hukum maupun birokrasi di negerinya yang bobrok, korup, serta semarak aksi suap-menyuap yang menjengkelkan sehingga dia sempat menjadi korban yang terpaksa masuk bui dengan cara yang sewenang-wenang.
Karena kekecewaan itu, Riski ingin mencari tempat yang lain yang bisa memuaskannya. Riski ingin hidup di negeri yang lain tempat keadilan ditegakkan dan kemanusiaan dihargai tinggi-tinggi, maka dia pergi ke Jerman. Mungkin alasan kepergian Riski ke Jerman muluk-muluk dan kekanak-kanakan karena dia mengambil jalan pintas atau melakukan "pelarian" yang emosional.
Di Jerman, Riski bertemu perempuan Jerman bernama Dagmar yang bekerja sebagai pramugari. Riski mengawini Dagmar dan mereka tinggal di sebuah apartemen. Riski bekerja di restoran Filmbuehne, lalu pindah ke restoran Cina, restoran Italia, kemudian akhirnya menganggur karena kondisi kerja yang selalu menekan dirinya dan penuh ancaman.
Riski akhirnya mengerti bahwa hidup di mana pun tak mudah. Jerman tak seindah yang pernah dibayangkannya. Kejahatan dan keberingasan terjadi sewaktu-waktu di jalanan. Filmbuehne menekan eksistensinya sebagai manusia bebas dan statusnya sebagai pendatang dari negeri bekas jajahan dan berkulit coklat menjadi bahan olokan. Di Jerman, Riski juga mengalami ketidakadilan hukum dan birokrasi negara (sebagaimana di negeri asalnya dulu). Riski ditangkap petugas ketertiban ketika dia sedang jalan-jalan dan tak membawa paspornya-karena ukuran paspornya kelewat besar-sehingga dia dimasukkan ke bui.
Novel ini potret manusia yang berjuang untuk survive dan eksis di negeri asing dan untuk meraihnya lebih dulu mengalami jatuh bangun yang tak sederhana. Tak ada yang gratis untuk meraih apa pun. Ada yang berhasil dan banyak juga yang gagal sama sekali dan menyerah. Mereka hidup, tapi miskin dan eksistensinya terampas oleh keadaan sehingga banyak yang krisis jiwanya, terasing, dan putus asa. Kemudian terkenang kampung halaman yang telah "memaksa" mereka pergi.
Novel ini dibagi menjadi sepuluh bagian. Bagian pertama novel ini bercerita tentang sekelumit kehidupan mahasiswa di Yogyakarta sebagaimana kehidupan Riski dan kawan-kawannya yang masih bergejolak mencari jati diri dan berangan tentang perkara yang ideal sehingga mereka kerap frustrasi dan marah akibat kenyataan yang tak sesuai bahkan berlawanan dengan angan mereka. Riski menyelesaikannya dengan cara mencari yang diangankannya itu ke negeri yang lain. Sedangkan sembilan bagian selanjutnya menceritakan kehidupan Riski (beserta kawan-kawannya yang berasal dari berbagai bangsa dan ras) dan Dagmar di Jerman.
Novel ini sebenarnya sangat kompleks. Ini cerminan wawasan dan pengalaman pengarang yang luas dan merambah banyak soal. Novel ini tak semata menceritakan kondisi kejiwaan manusia-manusia yang mencari, mengembara, terancam, dan tertekan oleh keadaan, tapi juga mengajukan persoalan sosial, politik, ras, etnik, ekonomi, dan persoalan kosmopolitan yang rumit, kritis, dan problematis.
Beban tema novel ini sebenarnya besar, tapi digarap dengan sebuah realisme yang sederhana dan jernih, melalui alur cerita yang polos dan tak hendak "bermain" dengan teknik yang tak lazim, dan kadang mencuatkan aforisme kehidupan yang kental renungan manusia yang telah suntuk dan pernah terjungkal-jungkal.
Novel ini bisa membawa kita ke tempat yang asing, tapi dengan aroma persoalan kehidupan yang barangkali "sama" dengan persoalan kehidupan di mana pun. Mungkin dunia ini sudah tua, mulai "macet" pertumbuhannya, dan hanya mengulang, sehingga sulit ditemukan hal yang berbeda atau baru. Agaknya, realitas dan hakikat kehidupan apa pun dan di mana pun kini tak mustahil juga bisa dialami, dirasakan, dan dihayati di sini.
Binhad Nurrohmat Penyair, Koordinator Serikat Pembaca Dunia
Sumber:
Kompas
Read : 4.956 time(s).