Home »
Book Review » Histori-Etnografis Sosial dan Politik Orang Batak Toba
29 april 2015 07:07
Histori-Etnografis Sosial dan Politik Orang Batak Toba
Judul Buku
| : | Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945: Suatu Pendekatan Sejarah, Antropologi Budaya Politik |
Penulis
| : | Bungaran Antonius Simanjuntak |
| Penerbit | :
| Yayasan Obor Indonesia |
Cetakan
| :
| Pertama, 2006 |
Tebal
| :
| xii + 220 hlm. |
Ukuran
| :
| 14,5 ˣ 21 cm. |
Membahas kebudayaan Batak yang terpusat di Sumatera Utara akan menjadi pembahasan yang cukup luas apabila dilihat secara general. Namun, bila membicarakan Batak secara lebih spesifik seperti sub-etnis Batak Toba dan fokus pada aspek struktur sosial dan politik maka pembahasannya akan menjadi khusus dan terarah. Inilah yang diangkat oleh Bungaran Antonius Simanjuntak dalam buku ini. Buku yang berawal dari sebuah tesisnya ini dikuatkan dengan teori dan konsep antropologi budaya mengenai strukturalisme dari Radcliffe Brown, Claude Levy Strauss, dan J.P.B de Josselin de Jong ini menambah pengetahuan kita mengenai sosial politik orang Batak Toba hingga tahun 1945.
Oleh karena apa yang dibahas Bungaran ini telah terjadi di masa lalu, maka metode penelitian yang dilakukannya pun secara observasi terhadap data-data sejarah yang memuat histori-etnografis di wilayah penelitian yaitu di kabupaten Tapanuli Utara dengan Pulau Samosir dan Toba Holbung sebagai wilayah pusat penelitian. Selanjutnya wilayah lain yaitu Humbang dan Silindung yang menjadi wilayah penelitian lain guna melengkapi data. Pada penelitian antropologis ini, Bungaran memilih menggunakan metode analisis isi dari data kualitatif untuk menghasilkan penelitian yang sifatnya deskriptif.
Buku ini diawali dengan pengantar yang berisi deskripsi singkat mengenai kebudayaan Batak secara umum. Pengantar ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang baru memulai memahami budaya Batak, terutama sekali dalam pembagian wilayah tanah Batak dan pembagian suku-suku bangsa Batak. Dalam hal ini, Bungaran banyak menggunakan data dari catatan etnografis yang dulu ditulis Joustra ketika berada di tanah Batak dari Batak Karo di utara hingga Batak Mandailing di selatan dan dari Batak Simalungun di timur sampai Batak Pakpak-Dairi di barat. Bungaran menerangkan pada bagian ini bahwa wilayah danau Toba merupakan pusat dari tanah Batak. Kemudian di luar wilayah administratif Sumatera Utara ada sub-suku Batak, Bungaran juga banyak mengacu pada tulisan Joustra bahwa orang Gayo dan Alas di wilayah Aceh masih termasuk Batak.
Buku ini dapat memberi pengetahuan bagi kita untuk memahami sejarah asal mula orang Batak dari masa pra-kolonial hingga masa kolonial dimana sosial politik orang Batak Toba diketengahkan. Pada bukunya ini, Bungaran juga menulis tentang perkembangan agama yang terjadi di tanah Batak. Orang Batak sebelum kini memeluk agama Islam dan Kristen Protestan, mempercayai Tuhan yang dinamakan mulajadi nabolon atau ompu raja mula-mula atau ompu raja mulajadi. Selain mempercayai yang tunggal tersebut, orang Batak mempercayai debata natolu yaitu tiga Tuhan yang menguasai masing-masing suatu tempat di seluruh jagat raya. Kemudian masuk agama Islam dari perang Paderi dan Kristen Protestan yang disebarkan oleh misionaris Barat.
Dalam membahas struktur sosial, buku ini memusatkan pada marga yang menjadi inti kekerabatan orang Batak Toba. Selain membicarakan mitos mengenai marga Batak Toba, Bungaran juga menjelaskan dengan ringkas tentang arti, fungsi, dan dinamika penggunaan marga oleh orang Batak Toba seperti munculnya marga baru dan pelimpahan marga yang berarti pemberian marga kepada orang selain Batak karena pernikahan ataupun adopsi.
Dalam struktur politiknya orang Batak secara umum membagi organisasi wilayahnya menjadi huta (kampung) dengan pembagian-pembagiannya menjadi lebih kecil. Bungaran menilai bahwa pemerintahan tradisional Batak selalu berdampingan dengan keagamaan yang dibuktikan bahwa setiap huta selalu mempunyai golongan parbaringin dan sering disebut golongan agama Batak, serta selalu bekerja sama dengan raja huta dalam kegiatan hidup sehari-hari.
Pada sajian data historis, adat-istiadat, sistem pemerintahan tradisional serta struktur sosial, dan temuan penelitian lapangan, Bungaran menyimpulkan bahwa struktur sosial yang berlaku menentukan bentuk struktur dan sistem politik yang dianut. Marga sebagai landasan kekerabatan Batak dan munculnya dalihan na tolu kemudian menjadi dasar fundamental hubungan sosial dan adat Batak. Struktur kemasyarakatannya dapat dilihat dari struktur marga yaitu sistem perkawinannya yang eksogami, artinya kawin di luar marga. Marga juga menjadi dasar mendirikan huta baru.
Kedatangan kolonial Belanda yang membentuk struktur pemerintahan terpusat mengubah cara berpikir orang Batak yang sebelumnya tidak menyukai pemerintahan terpusat. Kedatangan kolonial Belanda ini juga membawa perubahan besar terhadap cara berpikir tradisional simbolis ke rasional kritis. Faktor pendidikan semakin meningkatkan keinginan orang Batak untuk mengejar status yang tinggi, selain itu juga meningkatkan migrasi orang Batak.
Buku ini memberikan informasi mengenai bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi pada sosial politik dan cara berpikir orang Batak. Karya Bungaran ini dapat menjadi referensi dalam menambah khazanah etnografi Batak selanjutnya. (Adwi/Res/08/04-2015)
Read : 1.406 time(s).