02 agustus 2016 07:07
Didong Pentas Kreativitas Gayo
Judul Buku
| : | Didong Pentas Kreativitas Gayo |
Editor
| : | M. Junus Melalatoa |
| Penerbit | :
| Yayasan Obor Indonesia
|
Cetakan
| :
| Pertama, 2001 |
Tebal
| :
| ix + 162 Halaman |
Ukuran
| : | 14,5 cm x 21 cm. |
Didong merupakan salah satu kesenian khas dari kabupaten Gayo, Aceh. Kesenian ini dapat dikatakan teater kecil yang menggabungkan seni sastra (sastra lisan) dan musik sebagai pelengkap dalam pertunjukannya. Didong mengharuskan setiap pemainnya untuk dapat berkreativitas dalam menciptakan puisi dan nada-nada yang indah. Kesenian ini dimainkan dengan cara tanding kemahiran mengeluarkan atau menciptakan kata-kata secara spontanitas untuk berlaga melawan orang lain. Kesenian yang dapat berlangsung semalam suntuk ini juga mengharuskan pemain memiliki pengetahuan mengenai adat dan budaya Gayo.
Didong biasa dimainkan dengan cara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga puluh orang dan bermain secara bergantian. Akan tetapi, tak jarang di antara penonton ada yang ikut bermain demi mendukung kelompok idola mereka. Lirik atau puisi yang ditembangkan sendiri tersebut nantinya akan dibalas oleh kelompok penantang secara bergantian dan terus menerus hingga kesenian tersebut usai. Dikarenakan sistem pertandingan dialog tersebut, seorang pemain diharuskan memiliki kemampuan untuk dapat menciptakan lirik-lirik spontan untuk menyerang atau menangkis serangan lawan. Kemampuan ini nantinya akan dinilai oleh penonton dan juri yang akan menentukan menang atau kalah bagi para petarung Didong tersebut.
Didong juga disertai dengan gerak para pemainnya sebagai penambah keseruan pertunjukan tersebut. Kesenian yang tumbuh dan berkembang di Gayo ini merupakan kesenian yang sempat populer dan diminati oleh masyarakat Gayo pada masanya.
Disamping sabagai media hiburan, Didong juga berfungsi sebagai sarana mempertahankan struktur sosial, pelestarian sistem budaya, pencari dana sosial, penerangan, dan kontrol sosial.
Lirik-lirik Didong yang telah dikenal oleh masyarakat Gayo hasil ciptaan para seniman Didong yang terkenal di masanya juga dimuat dalam buku ini. Termasuk penjelasan mengenai melodi dan lirik, pola lirik, tema lirik, dan para tokok-tokoh Didong yang sangat terkenal di daerah Gayo.
Dengan dituliskannya buku ini, tentunya penulis berharap agar kesenian tradisional masyarakat Gayo ini akan dapat terus terjaga kelestariannya di era modern sekarang ini. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan bahan acuan atau referensi bagai para peneliti yang ingin meneliti mengenai sastra lisan khas Gayo. (Oki Koto/Res/112/7-2016)
Read : 977 time(s).