Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 78
Hari ini : 7.164
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



02 agustus 2016 07:07

Didong Pentas Kreativitas Gayo



Judul Buku
:
Didong Pentas Kreativitas Gayo
Editor
:
M. Junus Melalatoa
Penerbit:
Yayasan Obor Indonesia
Cetakan
:
Pertama, 2001
Tebal
:
ix + 162 Halaman
Ukuran
:14,5 cm x 21 cm.

Didong merupakan salah satu kesenian khas dari kabupaten Gayo, Aceh. Kesenian ini dapat dikatakan teater kecil yang menggabungkan seni sastra (sastra lisan) dan musik sebagai pelengkap dalam pertunjukannya. Didong mengharuskan setiap pemainnya untuk dapat berkreativitas dalam menciptakan puisi dan nada-nada yang indah. Kesenian ini dimainkan dengan cara tanding kemahiran mengeluarkan atau menciptakan kata-kata secara spontanitas untuk berlaga melawan orang lain. Kesenian yang dapat berlangsung semalam suntuk ini juga mengharuskan pemain memiliki pengetahuan mengenai adat dan budaya Gayo.

Didong biasa dimainkan dengan cara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga puluh orang dan bermain secara bergantian. Akan tetapi, tak jarang di antara penonton ada yang ikut bermain demi mendukung kelompok idola mereka. Lirik atau puisi yang ditembangkan sendiri tersebut nantinya akan dibalas oleh kelompok penantang secara bergantian dan terus menerus hingga kesenian tersebut usai. Dikarenakan sistem pertandingan dialog tersebut, seorang pemain diharuskan memiliki kemampuan untuk dapat menciptakan lirik-lirik spontan untuk menyerang atau menangkis serangan lawan. Kemampuan ini nantinya akan dinilai oleh penonton dan juri yang akan menentukan menang atau kalah bagi para petarung Didong tersebut.

Didong juga disertai dengan gerak para pemainnya sebagai penambah keseruan pertunjukan tersebut. Kesenian yang tumbuh dan berkembang di Gayo ini merupakan kesenian yang sempat populer dan diminati oleh masyarakat Gayo pada masanya.

Disamping sabagai media hiburan, Didong juga berfungsi sebagai sarana mempertahankan struktur sosial, pelestarian sistem budaya, pencari dana sosial, penerangan, dan kontrol sosial.

 Lirik-lirik Didong yang telah dikenal oleh masyarakat Gayo hasil ciptaan para seniman Didong yang terkenal di masanya juga dimuat dalam buku ini. Termasuk penjelasan mengenai melodi dan lirik, pola lirik, tema lirik, dan para tokok-tokoh Didong yang sangat terkenal di daerah Gayo.

Dengan dituliskannya buku ini, tentunya penulis berharap agar kesenian tradisional masyarakat Gayo ini akan dapat terus terjaga kelestariannya di era modern sekarang ini. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan bahan acuan atau referensi bagai para peneliti yang ingin meneliti mengenai sastra lisan khas Gayo. (Oki Koto/Res/112/7-2016)

Dibaca : 975 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi