Saturday, 23 May 2026   |   Saturday, 6 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 7.126
Yesterday : 30.549
Last week : 221.971
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

16 juni 2010 05:10

Minangkabau-Jawa: Dialektika Dua Kebudayaan dan Identitas Budaya

Diskusi Bulanan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Minangkabau-Jawa: Dialektika Dua Kebudayaan dan Identitas Budaya

Yogyakarta, MelauOnline.comKebudayaan Nusantara dipengaruhi oleh dua budaya besar: Jawa dan Minangkabau. Kedua budaya ini berada dalam dialektika yang tak pernah selesai. Dalam hal ini, dialektika antara satu budaya dan budaya yang lain merupakan proses di mana kebudayaan menjadi semakin tumbuh dan berkembang.

Demikian yang menjadi perbincangan Mochtar Naim, Ph.D selaku pemateri pada diskusi bulanan BKPBM bertema “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nusantara” di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Senin (14/06/2010). Menjadi pembahas dalam acara diskusi kali ini adalah Aris Arif Mundayat, Ph.D dari Pusat Studi Asia tenggara (PPSAT) UGM. Acara diskusi tersebut dipandu oleh Samsuni, MA., redaktur MelayuOnline.com dan CeritaRakyatNusantara.com, selaku moderator.


Pada hari yang sama, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mendapatkan kunjungan tamu agung dari Kesultanan Mempawah, Kalimatan Barat, yaitu Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya, MSc., beserta Permaisuri Ratu Kencanawangsa Dr. Ir. Arini Mariam, MSc., putri Ratu Mempawah Pangeran Putri Sri Negara Aryani Nurnisa Chandramidi, S.T bersama suami Pangeran Mas Putra Wisesa Martin Drenth, BSc., MSc. Keluarga Kesultanan Mempawah ini kemudian turut berpartisipasi dalam diskusi.
Turut hadir dalam diskusi tersebut Prof. Dr. Jawahir Thontowi dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), para redaktur MelayuOnline.com, dan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.

Menurut Mochtar Naim, dalam khasanah ilmu-ilmu sosial terdapat dua aliran teori atau metodologi dalam menganalisa dinamika kebudayaan dalam masyarakat. Dua aliran teori tersebut adalah struktural fungsional dan dialektika atau yang lebih dikenal dengan teori konflik.

Pada teori struktural fungsional, yang menjadi penting adalah konformitas dan kerjasama dalam masing-masing struktur dan kelas dalam masyarakat. Struktur, relasi, dan kelas sosial dalam masyarakat saling mendukung dan mempunyai fungsi yang saling menguatkan satu sama lain. Sedangkan yang kedua, teori konflik, lebih mengedepankan dialektika untuk mengembangkan masyarakat dan kebudayaan. Jika pada teori yang pertama masyarakat dan kebudayaan adalah sesuatu yang (diharapkan) padu dan dukung-mendukung, yang kedua justru sebaliknya, masyarakat dan kebudayaan berada dalam konflik dan dialektika yang tak pernah selesai.

Pandangan kedua inilah yang menjadi pijakan Mochtar Naim dalam menganalisa kebudayaan Nusantara. Dalam pandangan Mochtar Naim, Indonesia atau Nusantara pada masa dahulu, memiliki dua kecenderungan kebudayaan yang dominan dan berpengaruh terhadap berbagai wilayah di Indonesia. Dua budaya tersebut itu adalah kebudayaan Jawa dan Minangkabau atau biasa disingkat Minang.

Kebudayaan Jawa dan Minangkabau berada dalam satu garis horisontal di mana keduanya berpengaruh terhadap kebudayaan-kebudayaan lain di Nusantara. Masing-masing kebudayaan tersebut, yang mempunyai banyak aspek yang berbeda yang dipengaruhi oleh kondisi sosiologis masing-masing, menurut Mochtar Naim, justru akan menarik ketika dilihat dengan menggunakan metodologi konflik. Dua kebudayaan besar tersebut saling berhadap-hadapan untuk berdialektika dan saling mempengaruhi satu sama lain.


Memandang kebudayaan dengan menggunakan metode konflik artinya menempatkan keduanya dan semua kebudayaan yang lain dalam satu garis yang kontinyu. Meskipun, masing-masing kebudayaan mempunyai karakter berbeda. Masyarakat Jawa misalnya, memiliki sistem sosial yang berlapis-lapis, berorientasi vertikal, kelas sosial merupakan bawaan sejak lahir, cenderung feodalistik, sinkretik, dan lain sebagainya. Sedangkan masyarakat Minang memiliki kondisi yang berbeda. Masyarakat Minang cenderung lebih egaliter, demokratis, kelas sosial mereka peroleh melalui prestasi (achievement), dan sintesis.

Pandangan tersebut dikuatkan oleh Aris Arif Mundayat Ph.D. Ia mengatakan bahwa perbedaan antarbudaya tersebut merupakan hasil dari proses sosial dan relasi sosial mereka. Dalam budaya Jawa, bentuk struktur sosial yang ada pada masyarakat dipengaruhi oleh mata pencaharian mereka yang mayoritas petani. Kondisi yang demikian akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial mereka. Orientasi masyarakat Jawa cenderung vertikal, cenderung feodalistik, serta sinkretik. Sedangkan masyarakat Minang adalah masyarakat pedagang, yang mensyaratkan adanya hubungan horisontal. Hal ini kemudian yang membentuk budaya Minang cenderung lebih demokratis dan egaliter.


Lebih jauh Aris Arif Mundayat menyoroti kemampuan mimikri masyarakat Jawa. Ini sempat menjadi persoalan ketika mimikri adalah kemampuan untuk menyelamatkan diri yang cenderung hipokrit. Namun, dalam pandangan Aris Arif Mundayat, mimikri bukan terjadi tanpa proses panjang. Artinya, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan apa lingkungan yang ada bukan sekadar jalan untuk menyelamatkan diri.

Dalam diskusi tersebut juga muncul persoalan mengenai identitas. Pertanyaan siapakah Melayu atau siapakah yang Minang itu, hingga soal identitas agama menjadi soal yang menarik. Karena persoalan identitas ini tak jarang menimbulkan konflik di masyarakat. Perbedaan identitas menjadi ruang di mana perbedaan adalah sumber perpecahan.


Terkait persoalan identitas tersebut, Permaisuri Ratu Kesultanan Mempawah Ratu Kencanawangsa Dr. Ir. Arini Mariam, MSc., mengatakan, bahwa sesungguhnya yang menjadi ukuran adalah identitas kita sebagai manusia sehingga nilai-nilai yang dipegang adalah nilai-nilai kemanusiaan.

Dari dua karakter kebudayaan yang berbeda tersebut, melalui pandangan konflik yang digunakan oleh Mochtar Naim, muncul persoalan kemudian apakah kebudayaan Melayu ke depan akan mengarah pada salah satu kecenderungan budaya dari dua budaya tersebut atau justru mengarah pada salah satunya. Inilah yang masih menjadi pertanyaan besar bagi perkembangan kebudayaan Melayu dan kebudayaan Nusantara di masa depan karena masing-masing budaya mempunyai karakter yang berbeda.

Acara diskusi bulanan kali ini ditutup denngan penyerahan cenderahati dari Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Mahyudin Al Mudra, S.H., MM. kepada Ratu Kerajan Mempawah dan kepada Mochtar Naim, Ph.D. Sebaliknya, Ratu Kesultanan Mempawah juga menyerahkan beberapa buku. Demikian juga Mochtar Naim, Ph.D menyerahkan beberapa buku yang telah beliau tulis. Penyerahan tanda persaudaraan tersebut kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.

(Mujibur Rohman/brt/02/06/2010)

Sumber Foto: Koleksi BKPBM


Read : 6.709 time(s).

Write your comment !