Thursday, 28 May 2026 |Thursday, 11 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today
:
2.037
Yesterday
:
28.620
Last week
:
221.971
Last month
:
15.288.374
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
16 oktober 2010 07:15
Orang Malaysia Melihat Indonesia
Bedah Buku Ceritalah Indonesia, Karim Raslan
Yogyakarta, MelayuOnline.com – Yayasan Umar Kayam (YUK) menggelar bedah buku Ceritalah Indonesia karya Karim Raslan, Jumat (15/10/2010) malam di kantor YUK, Perum Sawitsari Blok I No. 3, Yogyakarta. Inilah sebuah buku yang menghadirkan perspektif lain dari orang Malaysia tentang Indonesia.
Buku ini memang ditulis bukan hanya untuk khalayak Malaysia. Sebagai seorang penulis, posisi Karim Raslan justru berada di tengah-tengah antara ia sebagai seorang berkebangsaan Malaysia dan sebagai seorang yang mengagumi Indonesia. Posisi tersebut, memungkinkan baginya untuk mengkritik pemerintah Indonesia dan Malaysia. Melalui buku ini Karim membandingkan sistem pemerintahan Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia telah membuka kotak pandora yang tidak akan mungkin tertutup kembali. Ia kemudian membandingkan dengan sistem pemerintahan Malaysia.
Ia juga menyinggung persoalan Melayu di Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, Melayu-Malaysia lebih cenderung pada politik tentang hak dan kewajiban sebagai orang Melayu. Kemelayuan kemudian menjadi definisi etnis. Hal ini juga terjadi di Singapura. Lain halnya dengan di Indonesia. Di Indonesia Melayu menjadi lebih cair dan terbuka. Di Malaysia, Melayu kemudian menjadi identitas yang kerap memunculkan persoalan dengan bangsa lain semisal Cina dan India.
Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan Indonesia dan Malaysia? “Hubungan Indonesia dengan Malaysia sebenarnya tidak seperti apa yang diberitakan media. Masih ada hubungan secara personal dan kelembagaan,” jawabnya. Hal tersebut dibenarkan Budiawan, pembahas pada bedah buku malam itu yang pernah melakukan penelitian di Malaysia. “Hubungan antara universitas-universitas diIndonesia dan Malaysia menjadi bukti bahwa konflik Indonesia tidak separah yang banyak orang bayangkan,” jelas Budiawan.
Selain menulis buku Ceritalah Indonesia, Karim Raslan juga menulis esai di berbagai media. Beberapa bukunya yang lain, yaitu Ceritalah: Malaysia in Transition, Heroes and Other Stories, dan Journeys Through Southeast Asia: Ceritalah 2. Buku yang terakhir ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia dan diterbitkan di Mandarin pada 2004.
Karim Raslah adalah penulis Malaysia keturunan Inggris. Pertama kali datang ke Indonesia pada 2002 setelah 15 tahun menetap di Inggris. Ia lulusan Universitas Cambridge dan penerima beasiswa Fulbright pada Universitas Columbia dari November 2001 sampai Februari 2002 ketika ia melakukan penelitian yang berjudul Freedom Expression in Islamic Societies. (Mujibur Rohman/brt/06/10-2010)