Saturday, 22 August 2026   |   Saturday, 8 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 0
Today : 5.505
Yesterday : 20.520
Last week : 178.006
Last month : 11.454.048
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

06 sepember 2007 05:10

Di Balik Sukses Tompo Bulu Sebagai Desa Terbaik di Indonesia

Delapan Tahun Lalu Masih Desa Tertinggal
Di Balik Sukses Tompo Bulu Sebagai Desa Terbaik di Indonesia

Tompo Bulu- Nama Desa Tompo Bulu, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, tiba-tiba mengharumkan Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tingkat nasional. Desa ini berhasil menyisihkan 72 ribu desa se-Indonesia, menjadi desa terbaik. Padahal delapan tahun lalu status Tompo Bulu, masih desa tertinggal. Desa Tompo Bulu, begitu nama desa yang diartikan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti puncak (Tompo) dan gunung (Bulu). Sama seperti dua kata itu, desa ini berada di puncak gunung Karampuang.

Menjangkau desa seluas 32,03 kilometer persegi ini, kita harus melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Jika berada di Makassar, harus terlebih dahulu menuju Kabupaten Sinjai yang jaraknya sekitar 165 kilometer melalui Camba, Kabupaten Bone, atau 225 kilometer melalui Kabupaten Bulukumba.

Desa Tompo Bulu dari Kabupaten Sinjai, masih berjarak sekitar 31-32 kilometer atau sekitar 17 kilometer dari ibukota Kecamatan Bulupoddo.

Hanya saja, jalan yang dilalui menuju desa yang berpenduduk 2.589 jiwa atau 629 kepala keluarga ini cukup menantang. Jalan yang dilalui berjurang dan cukup berkelok-kelok. Walau demikian, udara pegunungan yang sejuk plus pemandangan yang indah, membuat perjalanan cukup menyenangkan.

“Selamat datang di Desa Tompo Bulu,” begitu tulisan pada sebuah gapura saat kendaraan yang ditumpangi Fajar, bersama empat orang wartawan lokal, plus Kasubag Humas Pemkab Sinjai, Irwan Suaib, memasuki desa Tompo Bulu, setelah melalui perjalanan sekitar 45 menit.

Tulisan penyambutan itu sudah tidak sempurna. Salah satu papan bertuliskan selamat sudah tergantung ke sisi kiri gapura, mungkin patah akibat diterpa angin belum lama ini.

Tompo Bulu patut menjadi juara memang. Betapa tidak, lingkungannya terlihat cukup bersih. Sepanjang jalan, pagar-pagar yang terbuat dari ikatan bambu terlihat serasi mengitari rumah-rumah yang ada. Hampir setiap rumah memiliki taman dan kebun-kebun yang berada di samping dan belakang rumah.

Tidak hanya itu, setiap lima rumah yang dilewati terdapat satu papan bicara. Baik yang berisi himbauan kelompok PKK (Pendidikan Keterampilan Keluarga), hingga pesan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Papan-papan bicara itu dibuat sangat seragam, mulai dari ukuran, warna, hingga bentuk font (huruf).

Batu-batu cadas besar yang terdapat di samping-samping jalan juga dimanfaatkan dengan maksimal. Bahkan, salah satu batu cadas terdapat tulisan berwarna kuning dan biru berisi pesan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat setempat; “Janganki Lupa Bayar Pajakta Puang.”

“Hampir setiap rumah di sini, disarankan Sanro (dukun atau pemangku adat di Karampuang, red) untuk menanam apotik hidup dan warung hidup,” ungka Kepala Desa Tompo Bulu, Andi Sawiyah membuka percakapan saat Fajar bertandang ke rumahnya.

Apotik hidup yang dimaksud yakni, tumbuh-tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai obat-obatan yang ditanam di sekitar rumah. Tujuannya, bila sakit, maka tumbuh-tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai obat itu memberikan pertolongan pertama sebelum ke Puskesmas.

Sementara warung hidup adalah tanaman yang berfungsi sebagai sayur-sayuran. Tanaman itu juga harus ditanam di sekitar rumah, sehingga saat datang kondisi darurat, maka tanaman sayur-sayuran tersebut yang digunakan.

Nah, kondisi tersebut masuk dalam item kesehatan atau satu dari delapan indikator penilaian desa terbaik. Tujuh indikator lain adalah pendidikan, agama, sosial dan kemasyarakatan, pemerintahan, keamanan, PKK dan Pemberdayaan Perempuan, serta swadaya masyarakat.

Untuk kesehatan, selain apotik hidup, juga terdapat program pemerintah yang diberi label Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Program ini memberikan pengobatan gratis bagi warga kurang mampu di seluruh puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kabupaten Sinjai. “Sampai operasi juga gratis. Selain Jamkesda, di desa ini juga tersedia sarana seperti pustu, tujuh unit posyandu, dan pos persalinan desa,” terang Sawiyah, Kades yang telah 18 tahun memimpin Desa Tompo Bulu ini.

Indikator lain seperti pendidikan. Di Desa Tompo Bulu, terdapat satu taman kanak-kanak dan sejumlah sarana Pendidikan Anak Usia Dini atau yang biasanya disebut PAU. TK dan PAU di desa ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Bahkan, tenaga pengajarnya juga mengajar secara sukarela.

Bukan hanya itu, dari enam dusun yang ada di desa ini, terdapat 7 masjid yang juga dibangun secara swadaya oleh masyasrakat. “Keunggulan Tompo Bulu terdapat pada swadaya dan partisipasi masyarakat. Bahkan, PADs Tompo Bulu, termasuk partisipasi masyarakat mencapai Rp5,7 miliar per tahunnya,” tambah Camat Bulupoddo, Andi Adeha Syamsuri.

Tak bisa dipungkiri memang, delapan indikator tersebut, juga dimiliki desa-desa lain di Indonesia. Hanya saja, Desa Tompo Bulu memiliki kelebihan pada sisi pemerintahan, di mana pemerintah desa mampu saling sinergi mengambil kebijakan dengan pemerintahan adat di Karampuang.

“Komunitas adatnya terjaga sampai sekarang. Menariknya, komunitas adat bisa hidup berdampingan dengan pemerintahan desa atau kepala desa. Selain itu, yang membuat desa tersebut unggul karena mereka mampu menjalankan tiga kebijakan pemerintahan daerah, seperti kesehatan, pendidikan dan agama,” terang Bupati Sinjai, Andi Rudiyanto Asapa, kepada Fajar, usai membuka pelatihan petugas data base desa dan kelurahan di Aula Wisma Hawai, Sabtu, 1 September.

Menurut Rudiyanto, komunitas adat yang ada di Desa Tompo Bulu, selama ini tetap tunduk pada pemerintah desa. Sama halnya juga pemerintah desa dalam mengambil setiap kebijakan, tetap melakukan sosialisasi dn konsultasi dengan konunitas adat di Karampuang. Sehinga komunitas adat tahu persis apa yang akan dilakukan pemerintah desa, atau apa peraturan yang akan dikeluarkan.

“Dan selama ini tidak pernah ada satupun kebijakan pemerintah daerah, kecamatan atau desa yang bertentangan dengan lontara mereka. Setiap disampaikan bahwa ada kebijakan seperti ini, mereka buka lontaranya, apakah bertentangan atau tidak. Dan selama ini tidak ada benturan. Kalaupun ada maka didiskusikan. Tapi sampai sekarang belum ada benturan-benturan tersebut,” tambah Rudiyanto.

Sekadar diketahui, desa yang memiliki kawasan adat sekitar 30 hektare ini, bangkit dengan cepat dari tahun ke tahun. Di tahun 1989 Tompo Bulu dimekarkan dari Desa Duampanuae menjadi desa persiapan. Tiga belas tahun berlalu, yakni Oktober 1992 desa ini meningkat menjadi desa definitif dengan status sebagai desa tertinggal. Status desa tertinggal itu, baru tergeser di tahun 1999 lalu, ketika memimpin Bupati Sinjai, HM Roem.

Sumber : www.fajar.co.id


Read : 16.449 time(s).

Write your comment !