Wednesday, 20 May 2026 |Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 1.358
Today
:
16.452
Yesterday
:
25.387
Last week
:
249.195
Last month
:
15.288.374
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
19 februari 2008 05:42
Songket Alami Stagnasi
Sebagian Besar Kredit Usaha Dinilai Salah Sasaran
Palembang- Industri rumah tangga songket di Kota Palembang mengalami kelesuan akibat stagnasi pemasaran sejak beberapa tahun terakhir. Situasi ini mengakibatkan puluhan perajin kecil dan menengah berhenti berproduksi dan mengalihkan kegiatan ekonomisnya sebagai buruh tenun songket.
Stagnasi pemasaran ini terutama dialami para perajin di beberapa kawasan, misalnya Tangga Buntung, Jalan Merdeka, dan Sekip. Mereka merupakan perajin berskala kecil dan menengah yang sudah lama merintis usaha kerajinan songket tersebut.
Menurut Narlila (39), salah seorang perajin di Kelurahan Tangga Buntung Ujung, kelesuan pemasaran ini terjadi sejak tiga tahun terakhir. Dia sendiri mengaku sudah merintis usaha kerajinan songket sejak delapan tahun silam.
”Sebelum tahun 2000, pemasaran songket masih cukup mudah. Banyak pembeli dari Jakarta, Lampung, dan Palembang yang memesan produk saya. Namun sekarang, selama dua bulan sekali belum tentu ada orang yang memesan dan membeli songket tenun,” kata dia.
Sejak awal 2008, Narlila mengaku sudah menghentikan sementara kegiatan produksinya. Sebanyak tiga pekerjanya juga diberhentikan. Agar tetap bisa memperoleh pendapatan, Narlila mengaku bekerja sebagai buruh tenun songket di salah satu perajin songket besar. Dia berharap pemerintah dan pengusaha besar bisa membantu memecahkan kebuntuan pemasaran songket ini dengan harapan usahanya bisa dijalankan kembali.
Salah sasaran
Zainal, pemilik usaha ”Zainal Songket”, menambahkan, puluhan perajin kecil dan menengah songket skala rumah tangga saat ini memang banyak yang menutup usahanya. Menurut dia, kelesuan pemasaran mengakibatkan nilai dan volume penjualan songket menurun tajam sejak beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, situasi ini salah satunya terjadi akibat alokasi kredit usaha dari pemerintah dan BUMN yang salah sasaran. Dijelaskan, banyak kredit usaha yang jatuh ke tangan pengusaha mapan, bukannya diprioritaskan kepada perajin kecil dan menengah.
”Dengan demikian, yang besar tambah besar, sedang pengusaha kecil gulung tikar karena kesulitan modal dan pemasaran,” ucapnya.
Selain bantuan modal usaha, lanjut Zainal, pemerintah seharusnya juga membantu pengusaha dalam hal pembenahan infrastruktur menuju tempat usaha dan mengupayakan keamanan usaha. Namun, ketiga aspek ini belum banyak diterapkan.
Ketua Disperindag Kota Palembang Wantjik Badaruddin mengatakan, melalui Visit Musi 2008, dia berharap usaha kecil menengah bangkit kembali. Dia optimistis kelesuan pemasaran akan teratasi karena wisatawan dalam dan luar negeri akan berdatangan ke Palembang.
Sumber : www.kompas.com Kredit foto : www.songket-palembang.com