30 desember 2010 07:07
Ketika Raflesia Berbunga
Judul Buku
| : | Ketika Raflesia Berbunga |
Penulis
| : | Herman Suryadi |
| Penyunting | :
| Yulia S. Setiawati |
| Penerbit | : | Adicita Karya Nusa, Yogyakarta |
Cetakan
| :
| 2002 |
| Tebal | :
| 1viii + 86 halaman |
| Ukuran | :
| 14 x 20, 1 cm |
Buku ini adalah sebuah novel yang menceritakan tentang kisah anak-anak Sumatra yang mencintai lingkungannya. Atas dasar kecintaan itulah anak-anak itu menjadikan bunga Raflesia (latin: Rafflesia Arnoldii) sebagai hiasan sekaligus menjadi bunga yang bisa mengangkat derajat kota mereka, yakni Bengkulu. Saat ini, kota Bengkulu disebut dengan kota Raflesia. Berkat Raflesia, anak-anak Sumatra itu berhasil memperoleh beasiswa sekolah (h. 75).
Buku ini sarat inspirasi, karena itu perlu dibaca oleh para guru sekolah dan dapat dijadikan referensi dalam mengajar, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Meskipun berukuran mini dan tidak seberapa tebal, novel “Ketika Raflesia Berbunga” mengajarkan kepada kita semua untuk selalu melestarikan dan merawat alam dan lingkungan sekitar.
Mencintai Alam
Pesan besar yang ingin disampaikan dalam novel ini adalah pentingnya mencintai alam. Alam adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, ketika bersentuhan dengan alam, sebenarnya kita diajak untuk memahami kebesaran Tuhan. Lewat jalan inilah manusia seharusnya sadar bahwa alam harus selalu dijaga, karena dengan begitu ada timbal-balik antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Tuhan sama sekali tanpa pamrih, tetapi justru manusialah yang membutuhkan timbal-balik tersebut.
Berdasarkan pemahaman di atas, maka mencintai alam adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Alam beserta isinya telah memberikan segala yang dibutuhkan manusia. Jika boleh jujur, hampir seluruh kehidupan manusia bergantung pada alam, apalagi bagi mereka yang hidup di pedalaman di mana alam adalah tempat sandaran yang utama untuk menyokong kehidupan. Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang ada di pedalaman hutan Jambi misalnya, sebagian dari mereka tidak mau menerima barang-barang modern karena mereka percaya alam sudah menyediakan segalanya. Seluruh perilaku hidup mereka bergantung pada apa yang alam berikan.
Namun, alam tidak melulu identik dengan hutan. Beberapa ilmuwan menyebut alam sebagai “lingkungan sekitar” atau “alam sekitar”. Dengan demikian, alam tidak harus selalu lekat dengan hutan saja, akan tetapi alam juga bisa akrab dengan orang yang hidup di kota, yakni di lingkungan sekitar mereka.
Maka dari itu, alam sekitar atau lingkungan sekitar di kota juga harus mendapatkan perhatian dan dirawat dengan baik. Sungai, selokan, sampah, halaman rumah, jalan raya, dan semua yang termasuk dalam alam sekitar di kota harus benar-benar dijaga. Jika tidak, permasalahan lingkungan, semisal banjir dan wabah penyakit, akan selalu menjadi ancaman, seperti kata ungkapan: “Lingkungan yang kotor merupakan cermin kehidupan warganya yang tidak sehat”.
Mencetak Generasi Pecinta Lingkungan
Seperti yang diceritakan dalam novel kecil ini, kecintaan terhadap alam atau lingkungan harus diajarkan sejak dini. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus benar-benar sadar bahwa menjaga lingkungan adalah suatu hal yang sangat penting. Contoh kecil adalah membuang sampah pada tempatnya harus dibiasakan sedini mungkin. Jika sudah terbiasa, maka pola hidup menjaga kebersihan akan menjadi budaya atau gaya hidup. Dengan begini, maka lahirlah sudah generasi pecinta lingkungan.
Perlu untuk diapresiasi dengan baik, saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang pada waktu-waktu tertentu mewajibkan anak didiknya untuk membawa bunga ke sekolah. Bunga tersebut nantinya akan di tanam di halaman sekolah, namun tidak sedikit pula bunga itu ditempatkan pada vas kemudian diletakkan di sudut-sudut ruangan kelas. Selain untuk menambah segar suasana sekolah, kegiatan ini secara tidak langsung menjadi salah satu usaha dalam rangka mencetak generasi pecinta lingkungan.
Sekolah terkadang juga mewajibkan anak muridnya dalam seminggu sekali melakukan kerja bakti. Para murid diminta untuk membawa alat-alat kerja bakti seperti sapu, sabit, atau cangkul dari rumah mereka masing-masing. Setelah itu, para murid akan bergotong-royong membersihkan lingkungan sekolah. Ada yang menyapu, memangkas ranting pohon yang kering, menanam bunga, dan ada pula yang mengolah tanah agar tetap subur. Bagi yang tidak membawa peralatan, mereka biasanya akan mencabuti rumput, atau bergantian alat dengan teman-teman yang lain.
Para guru juga akan bergabung bersama para murid dengan ikut kerja bakti. Dalam konteks ini, guru tidak hanya sekadar memerintah para murid untuk bekerja, namun mereka juga mencontohkan bagaimana membersihkan dan mencintai lingkungan. Para guru menjadi pembimbing dalam teori maupun praktik.
Pengajaran seperti inilah yang coba ditampilkan dalam novel ini. Namun, saat ini permasalahannya adalah banyak sekolah di kota dan di desa yang tidak mempunyai halaman berupa tanah. Halaman sekolah mereka sudah ditutup dengan semen. Atau kalau tidak, halaman sekolah mereka mepet dengan jalan raya, sehingga dipagar besi atau tembok. Kondisi inilah yang menyebabkan kegiatan kerja bakti jarang dilakukan.
Yusuf Efendi (res/51/12-10).
Dibaca : 2.986 kali.