Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.563
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



25 februari 2016 07:07

Mencari Paradigma Baru Bangsa Melayu



Judul Buku
:
Paradigma Baru Bangsa Melayu
Penulis
:
Indra Ramos dan Sutirman Eka Ardana (Eds.)
Penerbit:
Lembaga Pers Lancang Kuning, IPR Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2002
Tebal
:
xv + 179 Halaman
Ukuran
:14,5 cm x  21 cm.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang berasal dari seminar paradigma baru bangsa Melayu yang diselenggarakan oleh panitia bulan buku lembaga pers Lancang Kuning IPR Yogyakarta.

Keterpurukan masyarakat Melayu, terutama Riau setelah bergabung dengan Indonesia yang sebelumnya merupakan bangsa sejahtera, kian tampak. Riau tak lebih sebagai sapi perah bagi Indonesia yang kekayaan alamnya diambil tanpa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Riau.

Sejarah kegemilangan bangsa Melayu terukir begitu jelas di Riau. Kebesaran, kemakmuran, dan kekayaan kerajaan seperti masa Kesultanan Siak Sri Indrapura, Kesultanan Riau-lingga, dan lain sebagainya seolah sirna setelah Riau bergabung dengan NKRI.

Para penulis yang mengemukakan gagasan dan tulisannya mencoba kembali mengangkat kegemilangan bangsa Melayu dan menjelaskan beberapa persoalan yang harus dilakukan agar ‘lancang kuning’ kembali berlayar.  Buku ini dibagi dalam dua bab, yang mengetengahkan Melayu dalam perpektif budaya, otonomi daerah dengan gagasan besarnya yang terangkum dalam visi Riau 2020, serta membahas Riau dalam kubangan problem Nasional. Bab dua berisi kesimpulan yang mencoba membingkai Riau menuju sebuah rancang bangun tanah Melayu dalam sebuah paradigma baru.

Para penulis tenar dan berdedikasi tinggi yang dihadirkan antara lain adalah Prof. Dr. Tabrani Rab yang menulis mengenai “Budaya Melayu dalam Dinamika Kebangsaan”, Drs. Al-Azhar, MA “Resistensi Bangsa Melayu dalam Modernisasi”, Tenas Effendy “Budaya Melayu Riau dalam Perubahan Zaman”, dan drh. Chaidir, MM “Visi Riau 2020 dari Perspektif Sosial Budaya”.

Ada pula Zulfan Heri, SIP, MA, Drs. Syamsurizal, MM, P. Daritan, SH, Ir. Arsyaddjuliandi Rachman, MBA, dan lain-lain yang membahas tentang otonomi daerah dan pemerintahan secara umum, serta membedah visi Riau 2020 dalam berbagai aspek. Mulai dari SDM, dunia usaha, peran media, hubungan daerah dengan pusat pemerintahan, hingga tentang pengentasan masyarakat terasing di Riau, dan lain sebagainya.

Paradigma baru bangsa Melayu memang sangat diperlukan karena bangsa melayu saat ini ditengarai semakin terpuruk dalam segala hal, baik budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan, spiritual, maupun kemajuan secara menyeluruh. Membangun kembali masyarakat beralas nilai-nilai dan budaya luhur yang dimiliki dan memadukannya dengan nilai perubahan yang sesuai. Sudah barang tentu ini sebuah usaha yang tidak mudah, apalagi kondisi riil masyarakat juga terus berubah dalam pengaruh gempita budaya asing yang semakin menjauhkan bangsa Melayu dari jati dirinya.

Gagasan-gagasan besar dari cerdik cendikia tersebut yang ada dalam buku ini diharapkan bisa dijadikan pemandu wawasan masyarakat Melayu untuk dapat keluar dari jeram keterpurukan dan dapat kembali berlari menuju arah kegemilangan, dan Lancang Kuning melaju berlayar kembali. (Oki Koto/Res/90/1-2016)

Dibaca : 842 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi