Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.318
Hari ini : 18.495
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.257.799
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



05 februari 2010 00:07

Hikayat Muda Cik Leman

Hikayat Muda Cik Leman

Judul Buku
:
Hikayat Muda Cik Leman
Penulis
:
Sudarno Mahyudin
Penerbit:
Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, November 2006
Tebal
:
x + 273 halaman
Ukuran
:
12 x 18,5 cm
 

Hikayat-hikayat kepahlawanan bangsa Melayu hingga kini masih menjadi bahan kajian, telaah, dan pembicaraan di kalangan masyarakat dan peneliti Melayu. Hal ini tidak lepas dari muatan sejarah dan nilai kesusastraan yang terkandung di dalamnya. Hikayat Hang Tuah, misalnya, selalu saja menarik perhatian banyak pemerhati budaya Melayu untuk menyelami romantisme kepahlawanannya, serta mendalami muatan nilai kesusastraannya.

Ada banyak cara dalam mengisahkan sebuah hikayat. Bisa berbentuk syair, novel, cerita bergambar, cerita lisan, dan lain sebagainya. Di kalangan masyarakat Melayu Rokan Hilir, Riau, tradisi mengisahkan sebuah hikayat secara lisan disebut koba. Koba disampaikan dengan lantunan lagu-lagu sehingga sangat menarik untuk disimak. Orang yang bercerita disebut pekoba.

Di Rokan Hilir, koba yang masih populer dan dikenal masyarakat luas, terutama oleh orang-orang tua, ialah koba Muda Cik Leman. Ketenaran cerita tersebut mendorong seorang Sudarno Mahyudin untuk menuliskannya dalam bentuk hikayat. Hikayat Muda Cik Leman ini disarikan dari koba Muda Cik Leman versi pekoba Masyim, tukang cerita yang berasal dari Sungai Pinang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Hikayat ini dipercaya pernah terjadi di Kubu, yang diperkirakan sebagai tempat berdirinya Kerajaan Galangan dan Muar.

Syahdan, Muda Cik Leman memiliki saudara sepupu bernama Gadis Cik Inam, tetapi mereka tidak pernah bertemu muka karena telah berpisah saat masih sama-sama bayi. Ketika masih bayi, Gadis Cik Inam telah ditunangkan dengan kakanda Muda Cik Leman yang bernama Panglima Nayan. Namun pertunangan itu akhirnya dibatalkan karena seorang peramal, Tuk Nujum, melihat petanda jelek dari hubungan mereka. Tuk Nujum pun berkata, barang siapa yang menikah dengan Gadis Cik Inam ia akan mendapat petaka seumur hidupnya. Sejak pemutusan tali pertunangan itulah Gadis Cik Inam dibawa oleh orangtuanya pindah ke Muar karena tidak tahan menanggung malu.

Beberapa tahun kemudian, pada suatu malam, Muda Cik Leman bermimpi bertemu seorang gadis yang cantik jelita. Usut punya usut, gadis yang hadir dalam mimpinya itu ternyata Gadis Cik Inam. Oleh karena pesona kecantikan yang ditebarkan Gadis Cik Leman berbakas sangat dalam di benak Muda Cik Leman, ia pun memutuskan berlayar ke negeri Muar. Kedatangannya di tanah Muar disambut baik oleh keluarga Gadis Cik Inam. Perselisihan antara dua keluarga yang dulu pernah terjadi akhirnya sirna. Tak putus air dicencang, biduk lalu, kiambang bertaut.

Pertemuan Muda Cik Leman dengan Gadis Cik Inam sampai pada ikatan pernikahan. Keduanya hidup bersama dengan bahagia sampai Muda Cik Leman, yang merupakan pewaris sah tahta kerajaan negeri Muar, menjadi raja. Muda Cik Leman dikenal sebagai penguasa yang adil lagi bijaksana.

Kecantikan Gadis Cik Inam tersiar sampai ke negeri sebrang. Hingga di suatu hari, negeri Muar kedatangan tamu, seorang raja dari Negeri Petukal. Rupanya kedatangan raja yang dikawal armada laut yang besar itu menyimpan niat buruk. Ia ingin mempersunting Gadis Cik Inam. Berbagai tipu muslihat digunakan Raja Petukal untuk meraih tujuannya, mulai dari cara yang halus sampai dengan cara-cara kekerasan. Itulah mungkin petaka yang pernah diramalkan oleh ahli nujum.

Niat Raja Petukal ditolak mentah-mentah oleh Muda Cik Leman, karena ia hendak menjungjung tinggi marwah kerajaan. Tak pelak, pertempuran berdarah pun tak dapat dihindari. 

Hikayat ini tidak hanya mengisahkan kepahlawanan seorang Muda Cik Leman. Tetapi juga mengajarkan kepada masyarakat supaya tidak menyerah kepada keadaan yang menghimpitnya. Pesan tersebut dijelaskan bahwa dalam tradisi Melayu kuno, nujum dan magi sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Ahli nujum dipandang memiliki kemampuan supranatural untuk berhubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib, sehingga ia mengetahui kejadian-kejadian atau perjalanan hidup anak manusia jauh sebelum manusia itu mengalaminya (takdir). Meskipun demikian, keputusan yang diambil oleh Muda Cik Leman menunjukkan bahwa seyogyanya manusia tidak boleh pasrah dan menyerah begitu saja kepada nasib (takdir). Hal ini tergambar jelas dalam pantun yang diucapkan Muda Cik Leman tatkala membakar semangat laskarnya menuju medan pertempuran:

Berletup bunyi dahan bersanggit
Barulah nyata kayu terbelah
Bertangkup bumi dengan langit
Barulah kita mengaku kalah

Kita tidak mencari buluh
Batang buluh dimakan api
Kita tidak mencari musuh
Datang musuh kita hadapi

Dari pantun di atas dapat dilihat bagaimana Muda Cik Leman menekankan bahwa meskipun Tuhan telah menggariskan ketentuanNya melalui takdir, akan tetapi manusia wajib berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kehidupan yang baik.

Kisah ini juga memotret budaya dan karakteristik orang Melayu yang bisa amuk dan tak lagi membilang musuh manakala mereka dicabar. Seperti dikatakan dalam sebuah pepatah “Tunangan hidup adalah mati, Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai”. Dalam pantun pun dikatakan:

Indah bulu burung merpati
Terbang tinggi menjelang awan
Yang disebut hulubalang sejati
Pantang sungguh membilang lawan.

Tanda berantan berpasak kayu
Cacak tembilang bergagang buluh
Tanda jantan anak melayu
Tidak kita membilang musuh
.

Nilai-nilai keberanian, kesetiakawanan dan loyalitas yang tinggi kepada saudara, raja dan negeri ditekankan dalam masyarakat Melayu; berani membela kebenaran dan keadilan serta kewajiban menjaga marwah melekat erat dalam urat nadi setiap orang Melayu. Maka tidaklah tepat jika ada persepsi bahwa masyarakat Melayu itu pemalas dan pasrah kepada nasib. Dalam sejarahnya, bangsa Melayu berhasil membangun peradaban gemilang karena tingginya moralitas, keberanian, dan keuletannya.

Kisah Muda Cik Leman dalam buku ini telah dipengaruhi gaya prosa modern. Namun, karena hikayat ini telah dikenal cukup luas oleh masyarakat Melayu, sentuhan-sentuhan prosa modern justru semakin memperindah hikayat yang disampaikan.

Di samping gaya bahasa yang enak dinikmati dalam setiap alur ceritanya, sisipan berpuluh-puluh pantun, ditambah pengutipan beberapa buah bait koba dengan bahasa Melayu dialek Rokan Hilir menjadikan buku ini semakin nikmat dibaca semua kalangan dan usia.


Oleh : M Yusuf

Dibaca : 19.323 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat