Kamis, 19 Oktober 2017   |   Jum'ah, 28 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 1.013
Hari ini : 22.592
Kemarin : 36.877
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.490.438
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



15 februari 2010 00:07

Perlawanan Seorang Sastrawan

Perlawanan Seorang Sastrawan

Judul Buku
:
Melayu di Mata Soeman HS.
Penulis
:
Eko Sugiarto
Penerbit
:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
I, 2007
Tebal
:
viii + 113 halaman

Ketika keadilan tak lagi dirasakan masyarakat, perlawanan adalah jalan satu-satunya. Namun, bagaimana menghindari perlawanan itu dari pertumpahan darah, hanya para sastrawanlah yang tahu jalannya. Perlawanan terhadap budaya atau adat istiadat sering dilakukan oleh sastrawan melalui karya-karya mereka. Masih teringat di benak kita kisah Siti Nurbaya yang diangkat menjadi sebuah novel sebagai bentuk perlawanan adat dan budaya perjodohan. Pun Soeman HS, ia menghadirkan karya sastra dalam bentuk novel Kasih Tak Terlarai (1930) sebagai bentuk perlawanan terhadap adat Melayu saat itu.

Buku Melayu di Mata Soeman HS ini merupakan telaah analitis terhadap novel Kasih Tak Terlarai karya Soeman HS. Eko Sugiarto, penulis buku ini, sengaja mengulas dan menelaah novel Soeman HS melalui teori mitos Levi-Strauss. Melalui pintu penjelasan mitologis inilah, Eko Sugiarto mencoba membangun argumennya tentang ‘misi perlawanan‘ yang dibawa oleh Soeman HS di dalam novelnya.

Membaca buku ini, pembaca akan dibawa ke dalam pemahaman yang komprehensif tentang tata cara menganalisis atau mengkritik sebuah karya sastra. Secara runtut, penulis buku ini telah merangkum dan menganalisis novel Kasih Tak Terlarai ke dalam dua pijakan analisis, yaitu sintagmatik dan paradigmatik. Berdasarkan analisis sintagmatik, episode-episode dalam novel dikelompokkan ke dalam sepuluh episode. Hal tersebut didasarkan atas konsep hukum transformasi dalam strukturalisme Levi-Strauss, yaitu berupa pengulangan-pengulangan (regularities) (hlm. 100). Analisis paradigmatik dilakukan dengan cara mencari struktur di dalam novel tersebut, yaitu dengan membuat oposisi biner terhadap episode-episode yang telah dibuat (hlm. 104). Berdasarkan analisis tersebut, didapatkan pemahaman bahwa kisah di dalam novel bertujuan mendedah cara pandang masyarakat terhadap status sosial yang menghalangi penyatuan dua insan yang dimabuk cinta.

Dalam novel Kasih Tak Terlarai, Soeman HS mengulas bagaimana status sosial seseorang menjadi tembok penghalang bagi bertemunya cinta. Melalui goresannya, Soeman HS melakukan perlawanan terhadap adat dan cara pandang masyarakat Melayu terhadap status sosial yang menentukan nasib dan jodoh seseorang. Strata sosial, suku, dan keturunan menjadi topik utama yang dihadirkan dalam novel tersebut. Bagaimana mengemas perlawanan tanpa pertumpahan darah dengan mudahnya dilakukan oleh Soeman HS. Ia mengemas kisah novelnya secara apik nan rapi, dengan efek kejut di akhir cerita yang menyadarkan pandangan banyak kalangan.

Si Taram, demikian sang tokoh utama, hidup dalam keluarga yang terhormat. Cintanya bertepuk sebelah tangan disebabkan adanya perbedaan status sosial. Ternyata, si Taram hanyalah anak angkat, meski diasuh dalam keluarga terhormat. Wujud perlawanan yang dihadirkan oleh Soeman HS dalam novel ini ialah tatkala si Taram melarikan sang impian hati merantau ke negeri seberang setelah pinangannya ditolak. Perlawanan kedua terjadi kala si Taram menjelma menjadi Syekh Wahab, seorang ulama kenamaan yang mengaku berasal dari tanah Arab. Penjelmaan si Taram menjadi Syekh Wahab merupakan bentuk perlawanan si Taram guna menyadarkan masyarakat Melayu yang konon mengagungkan bangsa Arab dan menganggap semulia-mulia bangsa dibandingkan dengan orang Melayu (hlm. 110). Melalui Syekh Wahab yang tak lain adalah si Taram itu sendiri, Soeman HS bermaksud menyadarkan masyarakat Melayu agar tak lagi meyakini suatu etnis atau bangsa tertentu sebagai yang paling mulia. Kebangsawanan atau keturunan tidak dapat dijadikan tolak ukur dalam memuliakan seseorang. Demikianlah, si Taram dihadirkan sebagai simbol perlawanan.

Buku ini merupakan kajian kritis terhadap sebuah karya sastra. Telaahnya yang rinci dan detail memudahkan pembaca memahami deskripsi cerita yang diangkat dari novel Kasih Tak Terlarai tanpa harus membaca utuh novel aslinya. Analisisnya pun cukup mempertajam penjelasan dan pemaknaan cerita. Sistematika yang runtut dan bahasanya yang mudah dimengerti menjadikan buku ini layak untuk dijadikan rujukan dan model bagi pembaca yang ingin menganalisis sebuah karya sastra.

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)

Dibaca : 17.649 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi