Jumat, 24 Oktober 2014   |   Sabtu, 29 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 952
Hari ini : 4.431
Kemarin : 19.177
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.263.501
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun dalam Prosesi Pernikahan

a:3:{s:3:

Menurut terminologi, kawin atau nikah berarti berkumpul atau berhimpun. Secara syar’i, kawin bermaksud menyatukan pasangan suami-isteri berasaskan peraturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Melalui upacara pernikahan, maka menjadi sah (shahih) berkumpulnya suami istri dalam naungan akidah, syariah, dan akhlak sebagaimana terkandung dalam al-Quran dan al-Hadits (Abu Bakar dan Hussin, 2004). Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1996), kawin berarti membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau beristeri.

Dalam budaya Melayu, tradisi lisan terutama tradisi berpantun tidak pernah lepas dari keseharian masyarakat, termasuk juga berpantun pada upacara pernikahan. Pantun pernikahan berisi lantunan pantun yang biasanya dilantunkan dalam upacara pernikahan Melayu. Pantun pernikahan ini secara umum diungkapkan dalam setiap tahapan prosesi pernikahan mulai dari merisik hingga prosesi persandingan yang diucapkan dalam pantun berbalas, baik dari pihak perempuan (dara) maupun pihak lelaki (teruna).

Ungkapan-ungkapan indah senantiasa dilantunkan menjelang, saat prosesi pernikahan, hingga pernikahan usai. Pantun pernikahan tidak hanya berkisar tentang prosesi pernikahan saja, melainkan juga tuah pengantin yang berisi nasehat menghadapi kehidupan yang akan datang.

Sebelum membangun bahtera rumah tangga, orang tua-tua Melayu senantiasa berpesan kepada anak-anak mereka agar memilih pasangan yang baik. Orang tua-tua Melayu memberi nasehat agar dalam memilih jodoh hendaknya tidak salah pilih dalam menentukan pasangan hidup, sebagaimana yang tersirat dalam pantun di bawah ini:

  001. Siti Wan kembang dari Kelantan
Nama masyhur zaman dahulu
Baik-baik memilih intan
Jangan terbeli kaca dan batu

002.Pergi ke pantai menjala ikan
Dapat seekor ikan gelama
Baik-baik memilih intan
Jangan terpilih batu delima

003.Pilih-pilih tempat mandi
Pertama teluk kedua pantai
Pilih-pilih tempat menjadi
Pertama elok kedua pandai

Agar tidak salah dalam memilih pasangan, maka prosesi pernikahan dalam adat Melayu selalu diawali dengan prosesi merisik. Setelah itu secara berturut-turut dilakukan prosesi meminang, prosesi persandingan, serta prosesi pemberian nasehat kepada pasangan pengantin. Oleh sebab itu, sistematika pantun pernikahan Melayu diklasifikasikan ke dalam:

1. Pantun untuk Merisik
2. Pantun untuk Meminang
3. Pantun dalam Prosesi Akad Nikah
4. Pantun di Hari Persandingan
5. Pantun di Malam Pertama

Referensi:

  • Abu Bakar, Abdul Latiff., dan Hanipah Hussin. 2004. Kepemimpinan Adat Perkahwinan Melayu Melaka. Melaka, Malaysia: Institut Seni Malaysia Melaka.
  • Effendi, Tenas., 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan Adicita Karya Nusa.
  • ____________. Tanpa tahun. Kumpulan Pantun Pilihan. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
  • Hasan, Abdullah., Aripin Said dan Ainon Mohd., 2006. Koleksi Pantun untuk Majlis Perkahwinan dan Persandingan Melayu. Darul Ehsan, Malaysia: Millenia SDN. BHD.
  • Sinar, Tengku Lucman. Adat Perkawinan dan Tata Rias Pengantin Melayu. Medan: Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu, 


  1. Pantun untuk Merisik.
  2. Pantun untuk Meminang. (6)
  3. Pantun dalam Prosesi Akad Nikah. (4)
  4. Pantun di Hari Persandingan. (3)
  5. Pantun di Malam Pertama.
Dibaca : 101.585 kali.