Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 162
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

24 maret 2010 03:30

Perlindungan Naskah Melayu di Indonesia Minim

Perlindungan Naskah Melayu di Indonesia Minim

Bandar Lampung, Lampung - Upaya pemerintah untuk melindungi benda-benda bersejarah, khususnya naskah-naskah kuno, dinilai masih minim. Akibatnya, beberapa naskah kuno melayu Tanah Air kini dikoleksi Malaysia.

”Naskah-naskah dari Riau, Padang, Kalimantan, sebagian telah dibeli Malaysia. Uang yang mereka tawarkan sangat banyak sehingga mudah membeli naskah-naskah itu. Kadang, bisa sekarung (uang),” ungkap Titik Pudjiastuti, filolog-kodikologi dari Universitas Indonesia di sela-sela Seminar Penelusuran Sejarah Lampung di Museum Negeri Lampung, Selasa (23/3).

”Yang dicari biasanya naskah-naskah sejarah melayu dan kesusatraan. Yang soal keagamaan macam fikih biasanya tidak dilirik,” ujarnya. Naskah-naskah ini banyak tersimpan di Perpustakaan Negara Malaysia.

Ia mengungkapkan, praktik jual beli benda cagar budaya, termasuk naskah-naskah kuno, meski jelas dilarang, tetapi kenyataannya terjadi. Tidak jarang ditawarkan terbuka. ”Pernah saya ditugasi Kementerian Budaya dan Pariwisata untuk menengok naskah Serat Centhini yang mau dijual di Aceh Rp 3 miliar. Iklannya di koran,” ujarnya.

Pemerintah, melalui Perpustakaan Nasional, akhir-akhir ini berupaya keras melindungi naskah-naskah kuno ini dengan cara membelinya. Namun, dananya tidak sebanding dengan uang dari pihak asing, terutama Malaysia.

”Di kita, satu naskah biasanya hanya Rp 2 juta-Rp 3 juta. Itu pun dilihat kondisinya,” ujarnya. Ia mengatakan, langkah terbaik adalah memberikan pengertian akan pentingnya benda-benda itu bagi negara. ”Tidak bisa main kasar, diminta paksa. Tetapi, harus dengan pendekatan. Disampaikan bahwa lebih baik benda ini disimpan di museum dan mendapat penggantian secukupnya daripada dikoleksi negara luar yang berakibat kehilangan harga diri dan tidak bisa dilihat lagi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan sama, Prof Edi Sedyawati, filolog lainnya dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan, lambat laun bukan tidak mungkin aksara-aksara Nusantara yang pernah ada akan punah. ”Dari segi artefak, sudah banyak naskah kuno kita yang hilang, dimiliki asing. Di lain pihak, penggunanya semakin berkurang,” ujarnya. (JON)

Sumber: http://cetak.kompas.com
Sumber Foto: http://www.princeton.edu


Dibaca : 4.191 kali.

Tuliskan komentar Anda !