Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 oktober 2009 04:00
Iluminasi Banyak Ditemukan dalam Naskah Nusantara
Jakarta - Peluncuran dua buku, Iluminasi dalam Surat-surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19 dan Kedwiaksaraan dalam Pernaskahan Nusantara, Rabu (21/10) di Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, mendapat perhatian luas kalangan ahli filologi dan budayawan.
Surat-surat kerajaan Melayu abad ke-18 dan abad ke-19, ternyata tidak hanya dapat dipandang sebagai jagad kecil peradaban Nusantara, tetapi juga mengandung informasi tentang hubungan politik, diplomatik dan ekonomi, afiliasi keagamaan, dan corak kesusastraan.
"Dalam surat-surat Melayu yang secara visual diberi gambar (ragam hias) geometrik, kaligrafi, dan ragam hias tetumbuhan, melambangkan hadirnya peradaban yang menarik untuk dikaji," kata budayawan dan guru besar dari Universitas Paramadina, Prof Dr Andul Hadi WM, ketika membahas buku Iluminasi dalam Surat-surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19, yang ditulis Mujizah.
Abdul Hadi menjelaskan, naskah-naskah kuno yang merupakan lambang peradaban itu, di Indonesia relatif banyak, tapi kurang dipelihara. Tidak seperti di China atau di Iran, yang sangat peduli dengan pemeliharaan dan perawatan naskah-naskah kuno.
Mujizah mengatakan, keindahan visual dalam bentuk naskah (manuskrip) masih sangat jarang diangkat sebagai kekayaan kebudayaan Indonesia. Karena itu, ia tertarik meneliti berbagai naskah berbentuk surat-surat bergambar (beriluminasi), yang pernah dibuat oleh para penguasa di Nusantara abad ke-18 dan ke-19.
"Peninggalan produk budaya dalam bentuk surat bergambar dari kebudayaan Melayu berjumlah ratusan. Tradisi ini telah dipakai sebagai sarana komunikasi 500 tahun lalu, sejak 1521. Iluminasi surat perlu diintegrasikan dalam sejarah perkembangan seni di Indonesia," katanya.
Mujizah mencatat, surat Melayu tertua berasal dari Ternate, ditulis oleh Sultan Abu Hayat kepada Raja Portugal. Surat beriluminasi berbahasa Melayu yang termegah adalah Surat Iskandar Muda dari Aceh (1607-1636) kepada Raja James I di Inggris yang ditulis pada tahun 1615. Surat yang panjangnya hampir satu meter itu sangat kaya dengan motif bunga popi atau madat yang ditaburi emas.
Surat lainnya adalah surat Raja Ali dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, yang ditulis tahun 1849. Surat ini sangat unik, hiasannya sangat beragam dengan motif dua buket bunga dengan bunga mawar, bunga matahari, dan bunga krisan. Surat itu ditujukan kepada Gubernur Jenderal Belanda di Batavia.
Edi Sedyawati, Ketua Tim Penelitian untuk kajian tipologi Kedwiaksaraan dalam Pernaskahan Nusantara, mengatakan, kedwiaksaraan dalam pernaskahan Nusantara merupakan permasalahan yang selama ini belum pernah diajdikan subyek penelitian tersendiri oleh siapa pun.
Kedwiaksaraan atau bahkan kemultiaksaraan dalam pernaskahan Nusantara dapat menghasilkan tipe-tipe dilihat dari sudut hubungan antara tata letak dan kaitan makna. "Pemilihan untuk menggunakan system aksara Arab untuk bagian tertentu dari suatu naskah, pada dasarnya diarahkan oleh kebutuhan untuk mencantumkan referensi yang otentik tentang sumber keislaman," katanya.