Close
 
Senin, 3 Agustus 2026   |   Tsulasa', 18 Shafar 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 11.563
Kemarin : 31.067
Minggu kemarin : 203.350
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

03 sepember 2007 09:07

Perang Ketupat Bangka Belitung ke Thailand

Perang Ketupat Bangka Belitung ke Thailand

Tempilang– Pesta Adat Perang Ketupat di Tempilang masuk daftar 12 potensi Bangka Belitung yang akan dipromosikan pada pertemuan tingkat regional di Thailand, 6 September nanti.

Selain Perang Ketupat, ada sederat potensi wisata, perikanan, dan bisnis lainnya termasuk program Green Babel, dibawa dalam pertemuan antara Indonesia, Malaysia dan Thailand tersebut.

Dari Indonesia, selain Babel juga diikuti delegasi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, serta sembilan provinsi lain di wilayah Sumatera termasuk Sumsel. Dari Babel, rombongan Gubernur H Eko Maulana Ali dan pengusaha lokal rencananya akan bertolak ke Thailand, Selasa (4/9) besok.

“Kita dari Provinsi Bangka Belitung di antaranya mengangkat masalah Green Babel, perikanan dan pariwisata. Di sektor pariwisata, beberapa adat dan budaya seperti Perang Ketupat, barongsai, bujang gadis juga kita angkat. Seberapa lakunya nanti, mudah-mudahan tembus, berhasil,” kata Sekda Babel Suhaimi M Amin dalam sambutan Acara Pesta Adat Perang Ketupat, di Pantai Pasir Kuning Tempilang Minggu (2/9).

Perjuangan mengangkat sektor pariwisata diharapkan bisa mempercepat peningkatan kunjungan wisatawan ke Babel. Gubernur Babel H Eko Maulana Ali sudah mencanangkan pembangunan sektor pariwisata melalui program Visit Babel Archipelago 2010.

“Makanya kegiatan pariwisata di Bangka Belitung harus didukung terus oleh seluruh bupati dan walikota sehingga 2008 nanti sudah dimulai meningkatkan Visit Bangka Belitung Archipelago 2010 ini,” ujar Suhaimi.

Babel mengangkat masalah pariwisata di pertemuan tiga negara Asean tersebut, karena pariwisata merupakan masalah nasional, regional dan internasional.

“Salah satunya Pantai Pasir Kuning. Kita ingin Pesta Adat Perang Ketupat ini bisa dikenal di tingkat nasional dan dikenal masyarakat luas, karena jalur-jalur pariwisata banyak di Bangka, Belitung dan Pangkalpinang ini,” kata Suhaimi.

Gubernur juga sudah mengangkat potensi pariwisata Babel seperti indahnya Parai Beach Resort dan pantai-pantai lain di daerah ini, saat berkunjung ke Bercelona, Spanyol, beberapa waktu lalu. Semula, kata Suhaimi, orang tidak kenal dengan Babel.

Kabid Pariwisata Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Bangka Barat Muhammad Kaidi dalam sambutan mewakili Bupati mengungkapkan, sebagai bangsa yang berbudaya patut menghormati seni budaya yang berkembang di daerah ini. Pesta Adat Perang Ketupat sebagai bagian budaya daerah, perlu dilestarikan dengan memahami nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya karena mengandung pesan-pesan untuk kebaikan bersama.

“Berbagai budaya yang berkembang tentunya tidak lepas dari kehidupan nenek moyang kita masa lalu yang bersifat berkelompok dan hidup berdampingan satu sama lainnya. Yang perlu diambil adalah hal-hal positif dari adat tersebut.

Misalnya masyarakat dituntut menjunjung adat, nilai kedisiplinan, saling menghormati serta bersama-sama menjaga kelestarian kampung dan lingkungan,” papar Kaidi.

Acara adat seperti ini dikatakan Kaidi, sangat dibutuhkan dalam pengembangan kepariwisataan. Karena, selain keunikan, adat ini dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian daerah yang layak jual karena bisa menarik perhatian wisatawan untuk datang ke daerah ini.

’Perang‘ Dua Kubu

Perayaan Pesta Adat Perang Ketupat di Tempilang kemarin, berlangsung meriah. Puluhan ribu warga dari berbagai penjuru Bangka datang berbondong-bondong sehingga memacetkan lalu lintas jalan di sepanjang desa hingga menuju Pantai Pasir Kuning tempat digelar Perang Ketupat.

Gegap gempita pengunjung mulai terjadi ketika berlangsungnya upacara penimbongan dan ngancak, yang dilanjutkan acara puncak Perang Ketupat. Ketika acara adat puncak ini mulai digelar, ribuan pengunjung merangsek ke tengah arena sehingga menutup pandangan dari tempat penimbongan dan ngancak. Saat itu para dukun kampung dipimpin Keman sudah mulai melaksanakan ritual upacara adat Perang Ketupat. Para pejabat undangan yang hadir di antaranya Sekda Babel Suhaimi M Amin, Kapolres Bangka Barat AKBP AA Oka Putra Perdana, Kabid Pariwisata Dishubbudpar Babar Muhammad Kaidi, antusias menyaksikan pesta adat ini, meski terhalang kepungan penonton.

Para wartawan media cetak dan elektronik yang ingin mengabadikan prosesi tersebut, juga tidak bisa leluasa mendapatkan posisi yang tepat. Mereka harus berdesak-desakan dengan ribuan pengunjung.

Beruntung saja, para panitia dan aparat keamanan sigap mengatur jarak sehingga prosesi adat puncak dapat disaksikan semua undangan dan pengunjung.

Ketika prosesi penimbongan dan ngancak usai, acara paling puncak yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ratusan ketupat telah disediakan sebagai senjata masing-masing antara kubu darat dan laut.

Babak pertama perang ketupat dilakukan para anggota dukun darat dan laut. Dukun darat memulai perlawanan dalam peperangan. Mereka melempari beberapa dukun laut menggunakan ketupat, setelah kedua kubu berebutan mengambil ketupat yang sudah disiapkan. Serangan dukun laut pun dibalas serupa oleh kelompok dukun darat.

Tahun-tahun sebelumnya, antarkelompok dukun tak pernah terlibat langsung dalam peperangan menggunakan ketupat ini. Peperangan antardukun disertai gerak beladiri yang dikemas cantik sehingga menghibur pengunjung.

Peperangan babak kedua berlangsung sekitar 15 menit. Kali ini melibatkan para pengunjung yang sudah dipilih oleh para dukun.

“Kita sudah siapkan mereka sejak awal. Nama mereka harus dikenali terlebih dahulu. Jadi tidak setiap pengunjung bebas ikut perang ketupat,” kata Keman sesaat sebelum memimpin acara Pesta Adat Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning.

Pesta Adat Perang Ketupat tahun ini juga diramaikan dengan berbagai acara termasuk lomba menangkap bebek yang dilepas di perairan pantai setempat. (yik/g18)

Sumber : Bangkapos
Kredit foto : www.mantrav.co.uk


Dibaca : 3.407 kali.

Tuliskan komentar Anda !