Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
05 november 2007 05:25
Anugerah Sagang Pacu Asrizal Nur
Pekanbaru- Dengan menunggang “Kuda” (judul puisi Asrizal Nur), dia bertolak ke Jakarta pada tahun 1995 meninggalkan Pekanbaru, Riau. Sebuah asa merecup-recup di hatinya. Sebab, bekal ilmu seni budaya Melayu yang ditimba sejak tahun 1990, hendak dipahat di ibu kota.
Dalam berbagai even budaya yang diikuti dan digelar selalu dibungkus dengan kemelayuannya hingga akhirnya pada tahun 2000 Asrizal Nur mewakili Indonesia acara budaya tingkat Asia Tenggara (ILO) di Swiss.
Tak berhenti di situ, di tahun yang sama ia menampilkan seniman Riau secara kolektif di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tapak berikut pada tahun 2000 juga, Asrizal kembali merasuk pikiran Jakarta dengan budaya Melayu dengan Gong Melayu I se-Asia Tenggara. “Alhamdulillah, kegiatan ini mendapat sambutan dari berbagai negera,” kata Asrizal Nur menjawab RPG lewat handphone.
Tak puas dengan kegiatan tersebut, Asrizal Nur kembali “membawa” wajah Melayu Riau ke Jakarta dengan menggelar Festival Kesenian Riau Tim pada tahun 2002. Memasuki tahun 2004, Asrizal Nur membawa tim kesenian Bengkalis untuk tampil keliling Eropa. Di tahun berikutnya, menampilkan pembacaan puisi tunggal Rida K Liamsi di TIM. “Pada tahun 2006, saya menggelar festival Sastra Negeri Kata-kata dan menyelengarakan jalan bersama penyair dengan bupati dan wali kota Melayu se-Indonesia,” ungkapnya.
Terakhir 2007, sebuah acara spektakuler yang hingga saat ini masih menjadi pembicaraan kalangan seniman di Indonesia, Asrizal Nur menggelar pekan Presiden Penyair, Sutardji Calzoum Backri.
Dari berbagai kegiatan tersebut, Asrizal Nur dinobatkan sebagai penerima Anugerah Sagang kategori Seniman/Budayawan Serantau. Baginya, Anugerah Sagang ini sangat berarti pada dirinya meskipun dia sebagai seniman tidak berharap anugrah kecuali berkarya dan kreatifitas. “Saya sangat berterima kasih kepada panitia, ternyata saya ada. Apa yang saya perbuat terhadap budaya Melayu, ternyata ada yang memperhatikannya. Jelas, anugerah ini semakin memicu saya untuk berbuat lebih banyak lagi,” katanya.
Dalam pandangan Asrizal Nur, Anugerah Sagang adalah sebuah apresiasi seni budaya yang luar biasa dan mendapat respon terhadap orang-orang kreatif yang berjuang pada budaya. Hanya saja, anugerah ini perlu dikomandangkan hingga tingkat internasional. Sebab masih banyak seniman di luar Riau yang belum tahu anugerah ini. Padahal salah satu katagorinya ada untuk seniman serantau.
Sumber : www.riaupos.com (dengan pengolahan seperlunya)