Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.835
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

21 november 2007 09:39

Banyak Motif Karya Budaya Aceh Belum Dipatenkan

Banyak Motif Karya Budaya Aceh Belum Dipatenkan

Banda Aceh- Dari sekian banyak motif hasil karya kebudayaan Aceh, hingga saat ini belum ada satupun yang memiliki hak paten, sehingga terancam akan berubah bentuk dan dicaplok oleh daerah lain.

Motif tersebut di antaranya ukiran, produk pandai besi (senjata tradisional, relief), anyaman, dan makanan serta motif pada tenunan kain.

Hal ini membuat pihak Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merasa cemas dan prihatin, karena kalau sampai motif tersebut dicaplok daerah lain dan mengatakan itu milik mereka, Aceh sangat dirugikan.

Menurut Ketua Biro Promosi dan Pemasaran Dekranas Provinsi Aceh, Drs Syahrir AK, mulai sekarang sudah saatnya Aceh berpikir untuk melakukan suatu upaya hukum untuk mematenkan motif kerajinan Aceh tersebut, dan mendata kembali berbagai motif Aceh serta membukukannya.

“Ini harus segera kita lakukan segera, jangan sampai kasus pencaplokan lagu `Rasa Sayange` milik masyarakat Ambon oleh Malaysia, terjadi juga pada kita,” ujar Syahrir kepada wartawan di Banda Aceh.

Menurutnya, hak paten tersebut akan diurus melalui koperasi Rumoh Batek Aceh yang berada di komplek Taman Ratu Safiatuddin (Tarasa) Banda Aceh.

Syahril menyebutkan, motif Aceh punya daya magis dan pesona tersendiri. Kini, gaya tersebut sudah banyak dicampuradukkan dengan motif-motif dari daerah lain, khususnya daerah Jawa.

“Ke depan, kami harapkan motif Aceh yang orisinil dapat dipertahankan, seperti yang ditinggalkan nenek moyang kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Syahril juga menyatakan, pada 19-20 November ini, pihak Dekranas Aceh menggelar rapat kerja daerah (Rakerda) 2007, bertempat di Anjong Mon Mata Banda Aceh.

Dalam Rakerda yang diikuti 100 peserta ini, akan mengavaluasi pelaksanaan program Dekranasda tahun 2007, mensinkronkan program kerja tahun 2008 antara Dekranasda provinsi dengan kabupaten/kota.

Sementara pada 21-22 November 2007 juga bertempat di Anjong Mon Mata, Dekranasda juga menggelar seminar bedah motif Aceh, untuk mengetahui makna yang terdapat pada berbagai motif yang terdapat pada ukiran dan sulaman yang dikembangkan perajin di kabupaten/kota seprovinsi NAD.

Selain itu juga untuk mengetahui apakah ada terjadi perubahan pada motif Aceh, baik dalam bentuk maupun maknanya, serta melestarikannya, dan bila mungkin mempatenkannya sebagai karya budaya Aceh.

Sumber : analisadaily.com
Kredit foto : www.asnlf.net


Dibaca : 5.881 kali.

Tuliskan komentar Anda !