Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
15 februari 2008 08:30
KB dengan Pendekatan Budaya Toraja
Tana Toraja- Pemotongan kerbau selalu mewarnai pesta orang mati dalam budaya masyarakat Toraja seperti yang terjadi saat pemakaman almarhum Martha Uttu (74) di Patongloan, Bala`ba, Kelurahan Tarongko, Kecamatan Makale, akhir Februari 2008.
Mengaitkan hubungan program keluarga berencana (KB) dengan kerbau, mungkin kedengarannya aneh dan lucu. Satunya adalah binatang mamalia, sementara yang KB adalah sebuah program pemerintah yang bertujuan menciptakan keluarga yang sehat dan sejahtera serta berkualitas.
Bagi masyarakat Toraja, daerah tujuan wisata di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), kerbau selalu saja ada hubungannya dengan KB. Tetapi, apakah itu berarti kerbau pun perlu ber-KB dengan kontrasepsi segala supaya anaknya cukup dua, lalu kalau lahir anak ketiga harus diserahkan oleh pemiliknya ke orang lain?
Ah, tentu saja sungguh bodoh kalau anak kerbau mau dibatasi jumlahnya. Sebab, orang Toraja justru menginginkan kerbau sebanyak-banyaknya. Makin banyak, tentu makin bagus. Lalu, kenapa KB dikait-kaitkan dengan kerbau?
Kerbau, bagi masyarakat Toraja mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Seekor kerbau dewasa harganya bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Kerbau belang atau dalam bahasa setempat disebut tedong bonga, misalnya, sangat mahal harganya karena diyakini sebagai kerbau khas yang hanya ditemukan di Toraja.
Jenis kerbau ini mahal harganya karena relatif sulit dikembangbiakkan. Kerbau belang jantan yang dikawinkan dengan kerbau biasa, belum tentu menghasilkan kerbau belang pula.
Kerbau belang jantan merupakan kerbau potong persembahan dalam upacara adat pemakaman masyarakat Tana Toraja, terutama upacara kedukaan atau kematian (rambu solo). Dalam kepercayaan penganut Aluk Todolo (semacam animisme), semakin bagus kerbau belang dan semakin banyak dipotong pada saat pesta kematian, akan semakin baik dan aman kehidupan orang yang meninggal di akhirat.
Tetapi, kepercayaan itu pun kemudian diambil-alih sebagai sebuah budaya oleh masyarakat modern saat ini yang sudah menganut agama Kristen maupun Islam. Tak heran jika harga kerbau bernilai ekonomis tinggi dan jumlah kerbau seolah-olah bisa menandakan prestise dari orang yang meninggal.
Ketika orang Toraja meninggal, anak dan keluarga yang ditinggalkan memiliki beban moral untuk mempersembahkan kerbau untuk dipotong, meskipun bukan sebuah keharusan. Persembahan kerbau itu, bukan demi mengejar prestise atau adat, tetapi dimaksudkan pula sebagai ungkapan rasa kasih yang terakhir bagi orangtua atau keluarga yang meninggal.
Banyak Anak
Bagi orang Toraja yang anaknya banyak, bisa sembilan atau lebih, maka ketika meninggal pun jumlah kerbau yang dipotong bisa sembilan ekor atau lebih. Karena itu, di zaman dulu, ada kecenderungan orang Toraja mempunyai keturunan lebih dari dua.
Anggapan banyak anak banyak rejeki juga berlaku di Toraja. Malah bisa diterjemahkan bahwa banyak anak banyak kerbau.
Maksudnya, makin banyak anaknya, maka ketika orang itu meninggal, jumlah kerbau yang dipotong pun bisa banyak. Demikian pula sebaliknya, sedikit anak, berarti sedikit pula kerbau yang akan dipotong. Lalu, bagaimana dengan program KB?
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Daerah Kabupaten Tana Toraja, Musa Kondorura, mengakui, anggapan banyak anak banyak rejeki dan banyak anak banyak kerbau menyulitkan program KB di daerah tersebut. Namun, Musa pun tak mau kehilangan akal. Dia tetap menggunakan pendekatan budaya dalam mengampanyekan program KB di daerah tujuan wisata budaya kedua setelah Bali itu. Musa menyadari betul kalau orang Toraja sulit meninggalkan budaya memotong kerbau dalam pesta kematian itu.
"Saya ganti anggapan itu dengan motto "biar sedikit asal berkualitas". Artinya, biar pun anaknya hanya dua, tetapi berkualitas, dan rejekinya tetap banyak. Sehingga ketika orangtuanya meninggal, kerbau yang dipotong tidak hanya dua, tetapi bisa sampai sembilan atau 15, bahkan puluhan," tutur Musa.
Dan motto biar sedikit asal berkualitas itu, kata Musa, rupanya bisa diterima masyarakat Toraja. Buktinya banyak, kini ada orang Toraja yang anaknya sedikit tetapi bisa memotong banyak kerbau ketika meninggal, karena anaknya kaya. Tak heran, jika program KB di daerah yang berpenduduk 455.000 jiwa ini cukup berhasil. Buktinya, 44.920 pasangan dari 69.000 pasangan usia subur (PUS) di daerah ini telah menjadi peserta KB aktif.
Target penjaringan PUS menjadi peserta KB tahun 2007 malah mencapai 11.125 atau 110 persen dari 9.650 PUS di daerah ini. Tana Toraja pun masuk 10 besar dari 23 kabupaten/kota di Sulsel dalam keberhasilan KB. Tingkat kelahiran total (total fertility rate/TFR) pun menurun, dari 3,25 pada 2004 menjadi 2,6 pada 2005.
Kendala yang dihadapi Musa dalam menyukseskan KB di Tana Toraja adalah kurangnya tenaga penyuluh lapangan (PL). "Saat ini, Tana Toraja hanya memiliki 48 tenaga PLKB, padahal sebelum reformasi, jumlahnya mencapai 75 orang," tuturnya.
Sebanyak 48 orang itu harus pontang-panting melayani masyarakat di 40 kecamatan yang terdiri dari 310 lembang (desa-Red.). Karena itu, Musa pun berharap BKKBN diberikan jatah dalam penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) yang baru setiap tahun sehingga jumlahnya memadai.