Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
28 juli 2008 02:50
FSBM-KB Tumbuhkan Komitmen Lestarikan Budaya Melayu
Sanggau, MelayuOnline.com- Perhelatan Festival Seni dan Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBM-KB) V tak hanya menyelenggarakan berbagai atraksi dan lomba budaya Malayu, melainkan juga seminar dengan tajuk ”Seminar Budaya dan Busana Melayu Kalimantan Barat” pada Selasa (22/07/08) pagi lalu. Melalui tema seminar ini, FSBM-KB berupaya menumbuhkan komitmen bersama untuk melestarikan budaya Melayu.
Acara seminar diawali dengan sambutan dari H. M. Natsir HS selaku Ketua Panitia FSBM-KB V. Beliau mengungkapkan, “Festival Seni dan Budaya Melayu kali ini jumlah pesertanya meningkat karena diikuti oleh 14 kabupaten dan kota se-Kalbar”. “Peserta yang hadir mencapai hampir 1.200 orang, termasuk juga para tamu dari negeri-negeri Melayu serumpun, termasuk dari Malaka (Malaysia—Red.) 30 orang dan Brunei Darussalam 2 orang,” imbuh Natsir.
Sambutan lainnya disampaikan oleh Haji Abang Imien Thaha, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM-KB). Beliau menuturkan, “Seminar ini akan sangat bermanfaat bagi generasi muda, kendati yang hadir pada kesempatan kali ini lebih banyak generasi tuanya. Sebab, tema ini sesuai dengan semangat menggali dan melestarikan adat budaya Melayu,” tegasnya.
Sebelum acara seminar dimulai, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BKPBM dan MABM-KB sebagai tindak lanjut lawatan Mahyudin beserta 6 orang staf ke sekretariat MABM-KB pada 19 Juli lalu. Nota Kesepahaman ini ditandatangani oleh H. Abang Imien Thaha (Ketua Umum MABM-KB) dan Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM). Acara penandatanganan ini disaksikan oleh DR. H. Chairil Effendy, MS (Ketua Harian MABMKB), Drs. H. Rusman Namsurie (Sekretaris Umum MABM-KB), Hadi Kurniawan, S.H.I. (Pelaksana Harian BKPBM), Yuhastina Sinaro, S.ST.Par. (Humas BKPBM), serta seluruh peserta seminar.
Dalam klausul kerjasama tersebut disepakati beberapa hal, antara lain, (1) saling bertukar data tentang dunia Melayu, (2) bekerjasama dalam penerbitan buku-buku tentang kemelayuan di Kalimantan Barat, (3) menyelenggarakan seminar, simposium, lokakarya dengan tema yang berkaitan dengan Melayu Borneo, (4) memperluas jaringan kerjasama, dan (5) melakukan preservasi terhadap benda-benda bersejarah di Kalimantan Barat. Kesepakatan kerjasama yang berlaku sampai 2012 ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi kedua pihak dan juga demi membangun kemajuan tamadun Melayu.
Sekretaris Daerah Prov. Kalimantan Barat, Drs. H. Sakirman, yang ikut membubuhkan tanda tangan pengukuhan, menyambut hangat kerjasama yang dibangun oleh kedua belah pihak. “Saya berharap upaya ini mampu memberikan kontribusi yang positif bagi dunia Melayu serumpun, apalagi MABM-KB bekerjasama dengan MelayuOnline.com yang sudah berpengalaman di bidangnya,” ungkapnya penuh keyakinan.
Lestarikan Budaya Melayu
Seminar Budaya dan Busana Melayu ini menghadirkan tiga pemakalah, antara lain: Prof. Dr. Datuk Abdul Latiff Abu Bakar (Jabatan Pengajian Media, University Malaya), Dr. Pabani M. Musa (Budayawan Kalimantan Barat) yang menggantikan Dr. HC. Tenas Effendy karena berhalangan hadir, dan Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu [BKPBM]).
Sebagai pemakalah pertama, Datuk Abdul Latiff menyoroti model kepemimpinan institusi adat Melayu di era pemerintahan demokrasi (modern). Menurut pendapat Datuk Abdul Latiff, pemimpin adat dan masyarakat Melayu harus mampu melawan globalisasi (pengaruh Barat) yang dapat merusak keaslian budaya Melayu. “Institusi adat haruslah berperan aktif dalam kemasyarakatan. Untuk itu, diperlukan sebuah pengorbanan dari lembaga adat untuk dapat mengemas warisan budaya dengan kualitas modern. Selain itu, harus pula dibuat pengajian tentang Melayu, seperti yang dilakukan MelayuOnline.com yang berupaya memperbanyak buku-buku tentang kemelayuan,” ungkap Datuk Abdul Latiffbersemangat.
Berbeda dengan Datuk Abdul Latiff, makalah Dr. HC. Tenas Effendy lebih memfokuskan pada persoalan pakaian adat Melayu. Makalah bertajuk “Tata Cara Pakaian Beradat” ini dipresentasikan oleh Dr. Pabani M. Musa. Dalam pemaparannya, Dr. Pabani menyebut bahwa tata-cara berbusana dalam adat Melayu ini sebenarnya adalah salah satu cara bangsa Melayu untuk menunjukkan identitasnya. Karena itu, ”Unsur-unsur busana yang dikenakan sebaiknya tidak boleh menghilangkan identitasnya, karena busana tak lain adalah symbol of identity”. Beliau juga menjelaskan, “Busana Melayu sebenarnya menuntunkan kepada orang Melayu supaya bersikap ‘tahu diri‘, dan juga dalam tata-cara berbusana ini mengandung makna filosofi tunjuk ajar Melayu”.
Sebagai pemakalah terakhir, Mahyudin Al Mudra, SH., MM. menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Melayu. Dalam isi kertas kerjanya, Mahyudin justru menyoroti hal-hal yang tidak ditangkap dua pemakalah sebelumnya, yaitu warisan berupa benda-benda, pola-pola perilaku atau adat-istiadat, dan pandangan hidup atau filosofi Melayu (sistem nilai). Ketiga wujud budaya ini mulai dicampakkan oleh generasi muda. Mahyudin kemudian mengatakan, ”Apa yang harus kita lakukan ketika budaya Melayu ditinggalkan oleh generasi muda karena dianggap tidak lagi menarik, kuno, ketinggalan jaman, tidak modern, dan sebagainya dan mengapa warisan budaya Melayu patut dilestarikan?”.
“Di sini ada tiga manfaat yang akan dipetik ketika kita melestarikan budaya Melayu, pertama mengetahui, memahami, dan menghargai prestasi-prestasi nenek moyang, kedua menjadikannya sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik tanpa mengulangi kesalahan masa lalu, dan ketiga warisan ini merupakan deposit atau kekayaan budaya yang bila kita gali akan dapat mendatangkan kesejahteraan spiritual maupun material (ekonomi) bagi masyarakat Melayu,” tutur Mahyudin. Dalam pemaparannya, beliau mengajak kepada audiens agar menyadari bahwa warisan budaya Melayu memiliki potensi yang luar biasa, baik yang tangible maupun yang intangible. Karenanya, sebagai pewaris, kita mestinya bergerak untuk mengemas dan mensosialisasikan berbagai bentuk seni dan budaya Melayu dalam berbagai modifikasinya. Sehingga, segala aspek dalam seni dan budaya Melayu ini dapat mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat Melayu.
Di akhir acara seminar, para pemakalah menerima cinderahati yang diserahkan Datuk Imien Thaha didampingi M. Natsir HS. Setelah itu, seminar ditutup dengan doa bersama. [km/brt/07-08]